| Mobile| RSS

Buku Pelajaran .... !

Buku pelajaran, sebelum tahun 85 an selalu bisa dipergunakan kembali oleh adik kelas, tapi setelah tahun berikutnya tidak demikian. Tahun ajaran baru menggunakan buku baru pula dan setelah itu menjadi sampah! Bisnis bukupun menjadi bisnis sekolah dengan penerbit, tentunya dengan keuntungan dikedua belah pihak. Lumayan untuk sampingan para guru pada waktu itu yang berpenghasilan rendah. Tapi itu dulu! Sekarang, sama saja! Tapi polanya pendistribusian yang dirubah. Di Kampung Lolongok Mak Ijah yang dulu menjual kebutuhan sehari-hari  kini tambah satu jenis lagi barang dagannya. Buku pelajaran sekolah!  Tanpa modal sepeserpun Mak Ijah kini bisa menjual buku pelajaran.  Pak Junaedi guru olah raga di Kampung Lolongok kebetulan masih kerabat Mak Ijah  memberi mandat untuk itu. Semua anak yang sekolah di tempat Pak Junaedi mengajar  diarahkan ke warung Mak Ijah. Masalah harga buat warga Kampung Lolongok terasa mencekik leher.  Tapi apa mau dikata! Ada uang ada barang!  Jangan salahkan kalau warga Kampung Lolongok menjadi sangat pragmatis.  Ketika kader partai agama menawarkan bantuan untuk anak akan langsung diambil. Itu peluang emas bagi warga kampung Lolongok. Tidak masalah setelah itu para orangtua berduyun-duyun mengikuti kegiatan rutin keagamaan yang diadakan oleh kader partai agama meskipun mereka tidak berminat! Bagi warga kebanyakan Kampung Lolongok yang penting semuanya ‘LANCAR’.  

Terik mentari terasa menyengat menemani  Cahyati menelusuri jalan raya kampung yang tidak lagi ditanami pohon rindang.   Mata Cahyani terasa perih karena keringat terus bercucuran membasahi matanya.  Pikirannya tertuju pada Pak Ilham, guru IPA. Cahyani masih ingat ketika Pak Ilham menjelaskan tentang pemanasan global. Ditandai dengan meningkatnya panas matahari karena rusaknya lapisan ozon dan meleleahnya kutub utara dan selatan.  
“Din ... dit ...”Bunyi klakson motor motor Bang Aziz mengagetkan Cahyani.
“Yah ... bukan dari tadi jemputnya!”Kata Cahyani sambil cemberut kepada ayahnya. Ayahnya hanya tersenyum mendengar anaknya protes.
“Udah cepet naik!”Kata Bang Aziz sambil memperhatikan kaki Cahyani mengijak salah satu pedal untuk bisa duduk di jok belakang.
“Udah?”Kata Bang Aziz memastikan Cahyani sudah duduk dengan nyaman di jok belakang. Sekali lagi ditengoknya Cahyani sekali lagi sebelum  Aziz memacu motornya.
Sesampainya dirumah Cahyani seperti biasa melepaskan sepatu dan meletakkan tas sekolahnya di atas meja disebelah TV. Setelah itu dia langsung kedapur dan emakya sudah  menyiapkan  makan siang,  Cahyati kelihatan lahap dengan makan siangnya, sementara Aziz ayah Cahyati memperhatikan anaknya sambil senyum penuh kebahagiaan. Tak ada kata yang bisa mengungkapkan perasaan itu, selain kata cinta ayah pada anaknya.

Sepulang dari pengajian Cahyati langsung membuka tas sekolah miliknya untuk melihat tugas sekolah yang harus dikerjakan sore ini.
“Wah ... PR matematika! Pinjem buku sama siapa ya ...?”Pikir Cahyati dalam hati, sambil mengingat beberapa teman yang bisa dipinjami buku paket matematika. 
“Mak, mau kerumah  Nuriah .... “Kata Cahyati sambil mengenakan sandal dan berlalu.
“Eh .... ! Mau ngapain ?”Teriak emaknya Cahyati sambil berlari ke pintu.
“Mau pinjem buku matematika!”Balas Cahyati sambil terus berjalan.
“Jangan lama-lama !”Teriak emaknya lagi. Cahyati terus saja berjalan seakan tidak menghiraukan ucapan emaknya.
Tidak sampai seperempat jam Cahyati sudah kembali dengan buku matematika pinjamannya. Terlihat cerah diwajah Cahyati bisa mendapat pinjaman buku. Itu artinya dia bisa mengerjakan tugas yang diberikan oleh sekolah. Cahyati berusaha menyelesaikan setiap tugasnya lebih cepat  karena dia tahu buku yang dipinjamnya belum dipergunakan oleh pemiliknya.  Butuh waktu lama untuk Cahyati dapat menyelesaikan tugas dua puluh lima soal.  Emaknya cukup penat  juga mendampingi Cahyati menyelesaikan tugas dari sekolah. Maklum emaknya Cuma lulusan sekolah lanjutan pertama.  Kampung Lolongok sudah selepas magrip sudah terasa sepi dan Cahyati menunda mengembalikan buku Nuriah.
“Mak ! besok ingetin Cahyati ya .... mau mulagin buku!”Pinta Cahyati sambil meletakkan buku matematika pinjaman diatas TV.
“Iya!”Balas emaknya sambil melihat buku itu diletakkan.

Keesokan harinya sebelum Cahyani pulang sekolah, ibunya Nuriyati datang kerumah Cahyati untuk mengambil buku matematika milik anaknya.
“Eh .... pulangin dong tuh buku! Gue beliin anak gue suapaya Nuriyati  enggak minjem sama orang!”Emak Nuriyati marah-marah sambil bertolak pinggang.
“Maaf ya  mpok, .... saya bukan enggak mau mulangin. Tadi saya kerumah mpok tapi pintunya ditutup.”Jelas emaknya Cahyati merasa enggak enak dengan perkataan mpok Saadah.   
“Gue mau pergi  mau pergi entar kalau Nuriyati pulang kasih aja sama dia!”Sahut mpok Saadah dengan ketus sambil pergi meninggalkan emaknya Cahyati terbengong-bengong seorang diri.
“Ya Allah .... hidup gue gini amat sih.”Kata Mpok Romlah dalam hati. Persaannya begitu ngenes diperlakukan begitu oleh mpok Saadah. Mpok  Rompalh masuk kedalam rumah dan ditemui suaminya yang sedang tidur setelah pulang dari bekerja sebagai satpam.
“Bang .... bang .... ya Allah ..... bang .... “Mpok Romlah sambil mengguncang-guncang bahu suaminya  sampai bangun.
“Apaan sih?”Kata suaminya jengkel dan berusaha membuka matanya lebar-lebar.
“Makanya bang beliin buku pelajaran buat anak  kita! Biar enggak dihina sama orang!”Kata mpok Romlah dengan mata berkaca-kaca.  Melihat istrinya, Gatong tidak bisa ber bisa berkata apa-apa. Dia sebagai suami tidak punya alternatif untuk  bisa mencari tambahan. Waktunya habis untuk bekrja sebagai satpam dan pulang dua hari sekali agar bisa menghemat pengeluaran.

Keesokan pagi tanpa diketahu Cahyati, mpok Romlah pergi kesekolah anaknya untuk bisa bertemu dengan wali kelas Cahyati. Ada banyak harapan jika bisa bertemu dengan wali kelas Cahyati, terutama tentang buku paket matematika.  Sesampainya disekolah diketuknya pintu ruangan para guru.
“Assalammualaikum .... “Kata mpok Romlah sambil menundukkan bahunya. Matanya tertuju pada satu orang yang duduk disudut ruangan.
“Waalaikum salam.”Sahut guru-guru diruangan itu.
“Ada apa bu. “Sapa wali kelas Cahyati dengan sopan.
“Silahkan duduk disini bu.”Belum sempat menjawab, mpok Romlah sudah dipersilahkan duduk didepan meja wali kelas Cahyati.
“Pak, saya mau minta tolong .... bisa nggak Cahyati punya buku paket matematika. Saya kasihan kalau pas ada pekerjaan rumah dari sekolah. Pinjem sana-pinjem sini. Kalau pas enggak tipakai sih enggak apa-apa tapi kalau pas dipake saya enggak enak sama orangtuanya.”Mpok Romlah menjelaskan perlahan-lahan, matanya hampir berkaca-kaca karena teringat peristiwa kemarin dengan mpok Saadah. 
“Tapi saya enggak punya duit banyak buat beli buku itu. Kalau boleh saya cicil.”Mohon mpok Romlah setengah menundukkan wajahnya.
“Ambil saja buku matematika ini.”Kata wali kelas sambil menyodorkan buku matematika.
“Untuk beberapa buku tidak usah dibeli, tidak apa-apa. Yang penting Cuma beberapa.”Wali kelas Cahyadi menyodorkan beberapa buku paket kepada mpok Romlah.
“Terus bayarnya gimana pak?”Tanya mpok Romlah.
“Kalau ibu punya uang, silahkan bayar. Dicicl boleh.”Kata wali kelas sambil tersenyum. Kemudian mpok Romlah mengambil buku yang telah disodorkan itu.
“Kalau gitu saya terima kasih pak. Saya janji kalau punya uang berapa aja aka saya langsung bayarin utang buku ini.”Mpok Romlah berusaha menyakinkan wali kelas Cahyati.
“Kalau begitu saya permisi mau pulang pak!”Mpok Romlah berdiri sambil membungkukkan bahunya.
“Silahkan bu. “Kata wali kelas sambil tersenyum.
Mpok Romlah pulang dengan hati gembira, kini Cahyati punya buku paket dan tidak mesti pinjam lagi.             

Minggu, 07 Agustus 2011 | posted in | 0 comments [ More ]

Bamboo Leaf Gallery Photos