| Mobile| RSS

Biarkan Aja ... !

Selesai sholat tarawih bapak-bapak dan para pemuda kampung duduk-duduk di depan rumah Engkong Anda. Itu kebiasaan baru setelah ada seorang warga menyediakan lapangan tenis meja di halaman rumah Engkong Anda. Jojo yang sedang duduk-duduk di bagian belakang dapur Bang Jaul dikagetkan dengan suara pak Gomer dari belakang dan langsung duduk disebelah Jojo. Pak Gomer seorang bapak teman berbicara dengan Jojo, dan kebetulan sering memperhatikan anak-anak yang sering datang ke sanggar.
 "Jo, saya kok enggak lihat Candra? Biasanya bolak-balik ke sanggar!"Tanya Pak Gomer sambil memandangi wajah Jojo yang kelihatan diam saja.
"Biasa Pak. Namanya juga anak-anak. Kalau lagi jenuh hilang dan kalau bosan disana akan datang lagi ke sanggar."Kata Jojo sambil memperhatikan orang didepannya sedang bermain tenis meja.
"Memang sedang suka main dimana?"Pak Gomer tanya lagi.
"Di warnet depan."Jojo tidak bisa menghidari pertanyaan seperti itu.
“Main apa sih kok sampai betah begitu ya?” Pak Gomer bingung.
“Candra suka sekali main games online dan itu baru terjadi sekarang ini, dulu dia cukup puas dengan edu games di sanggar.”Jojo berusaha menjelaskan itu.
“Ada banyak anak juga suka permainan dikomputer termasuk anak bapak.”Sambung Jojo.
“Saya enggak ngerti games di komputer! Kadang saya suka nguping anak-anak cerita games ini dan itu.”Kata pak Gomer dingin.   

“Sekarang ini ada banyak anak sedang gandrung games point blank. Itu games perang -  Point Blank, sebuah Online First Person Shooting Game dengan tingkat realistik tinggi.
Biasanya dalam game online FPS akan terdapat dua buah kubu yang akan saling berhadapan, dalam Point Blank, kedua kubu tersebut adalah CT Force dan Free Rebels.”Jojo menjelaskan lebih jauh sambil mengamati pak Gomer yang kelihatan tidak tertarik.
“Ayo Pak Gomer main tennis meja.”Teriak Bang Oma dari depan rumah Engkong Anda sambil mengangkat bet tennis meja.
“Jojo nih enggak pernah main tenis meja...”Kata Pak Gomer ngeledek Jojo sambil menuju kelapangan tenis meja.  
Jojo hanya senyum-senyum sambil terus mengamati Pak Gomer mendekati Bang Oma.

Keesokan hari Jojo melihat beberapa anak putri yang sedang duduk-duduk di bawah pohon mangga. Entah apa yang dibicarakannya. Jojo mencoba mendekati mereka untuk mencari tahu kabar Candra.
“Nya, Candra dimana?”Tanya Jojo
“Biasa kalau jam segini ada di warnet ...”Jawab Anya sambil senyum-senyum.
“Kemaren saya ketemu Kak. Saya tanya kenapa enggak ke sanggar lagi, eh malah jawab lagi nyari cit (cheat). Saya enggak tahu apaan cit.”Kata Anya dengan tatapan serius.
“Oh .... cit ....  cara bermain gemes dengan curang. Biasanya pakai kode, kebetulan saya juga enggak pernah main games yang sering dimainkan Candra.”Jojo menjelaskan. Sementara Anya dan teman-temannya hanya diam dan tidak tahu mau menanggapi apa tentang cit itu.
“Ya sudah, biarkan aja, nanti juga bosen sendiri.”Kata Jojo sambil mengerlingkan matanya pada Putri yang sejak tadi melongok.
“Emang kakak mau kemana, kok sudah rapi?”Tanya Putri sambil mengamati pakaian yang dikenakan Jojo.
“Mau cari pacar ... “Kata Jojo sambil tertawa meledek Putri dan anak-anak itu juga tertawa terpingkal-pingkal mendengar jawaban Jojo yang nyeleh dimata anak-anak.
“Ih ... kakak tampangnya lucu .... “Kata Fadlah menambah durasi ketawa anak-anak yang ada di bawah pohon mangga.

Selasa, 16 Agustus 2011 | posted in | 0 comments [ More ]

Auk Ah Gelap ....!

Sejak usia empat tahun Jojo sudah mengenal Aldo. Anak laki-laki yang tinggal di belakang sanggar. Satu rumah kecil dengan ukuran 21/2 m x 6 m di huni oleh delapan orang,  ayah, ibu, tiga anak putra dan 3 anak putri.   Ruang tamu sekaligus  ruang tidur, karena ruang tidur yang ada tidak mencukupi. Sedangkan dapur menjadi kamar mandi dan sumur didalamnya. Dapur untuk memasak pindah di luar rumah, samping rumah karena menggunakan kayu bakar. Kini ayah Aldo bekerja menjadi pemotong rumput di lingkungan perumahan. 5 km dari tempat tinggalnya. Sedangkan istrinya menjadi pekerja rumah tangga dilingkungan perumahan bersama dengan suaminya. Praktis sehari-hari anaknya tidak ada orang dewasa yang  mengurusi. Anaknya yang paling besar, semenjak tidak bisa melanjutkan sekolah lanjutan pertaman kini juga harus bekerja menjadi buruh cuci pakaian di lingkungan perumahan yang sama dengan kedua orang tuanya. Anak yang kedua juga demikian meski ditempat yang berbeda. Meskipun demikian keluarga itu saling bahu membahu, tidak ada kata menyerah. Didepan rumah Aldo tinggal juga pamannya yang kehidupan ekonominya jauh lebih baik. Dengan dua angkot dan paman yang bekerja tetap membuat semuanya menjadi lebih pasti.

Ketika ada banyak anak seusia Aldo disekolahkan ke taman kanak-kanak, tidak untuk Aldo. Jawabanya jelas. Tidak ada uang untuk itu. Tidak sekolah tidak akan membuat Aldo dan keluarganya mati, tetapi tidak mendapatkan uang untuk makan Aldo dan keluarganya akan mati. Ada benarnya prinsip itu. Tidak keliru juga pemahaman itu menjadi sebuah keniscayaan. Aldo dan adik-adiknya tidak luput dari mata Jojo dan Daru. Setiap ada kesempatan mengajari Aldo dan adiknya mulai dari mewarnai sampai menulis dan membaca bahkan berhitung sekalipun itu dilakukan.  Mengajak Aldo dan adiknya bukan perkara mudah, karena ketika anak itu melihat Daru atau Jojo mendekati anak itu langsung lari menjauh. Ini terjadi sampai berbulan-bulan. Akhirnya Jojo mulai sering berkunjung ke rumah Aldo untuk sekedar bincang-bincang dengan bapak dan ibunya, sampai akhirnya bisa mendekat dan bicara dengan Aldo. Sikap depensif Aldo bukan lahir karena rasa takut bertemu dengan orang lain tapi muncul dari sikap defensif orangtua yang seringkali merasa seringkali dipojokkan dengan ketidak berdayaannya menghidupi keluarga karena kemiskinan itu. Keberhasilan Daru dan Jojo mendekati dan membantu mendampingi Aldo dan adik-adiknya setidaknya bisa dikatakan memberikan hak Aldo dan adiknya sebagai hak anak untuk mendapatkan pendidikan. Hanya itu yang bisa dilakukan, kalau uang jelas tidak bisa karena sanggar bukan lembaga bagi-bagi uang. Tidak lebih dari pada memberi keseimbangan.

Setiap sore hari dan hari libur Daru selalu menyempatkan diri untuk mulai dengan kegiatan yang sangat sederhana. Menemani. Selama proses kegiatan itu Aldo tidak diperlakukan istimewa tapi bersama dengan teman-teman lainnya. Pada proses awal kegiatan mewarnai Aldo juga banyak diejek dengan teman-temanya yang lebih dahulu terlibat di sanggar. Pola mewarnai Aldo yang oleh teman-temanya dianggap aneh, misalnya satu gambar diwarnai dengan banyak warna akhirnya gambar itu tertutup oleh tumpukan warna. dan gambarnyapun hilang. Hanya warna gelap dari tumpukan warna-warna. Dua bulan prose itu dijalani dengan tekun oleh Daru dan hasilnyapun menggembirakan. Artinya warna itu ditempatkan pada bagian-bagian yang semestinya diwarnai dengan satu warna dan tidak lagi tertumpuk menjadi satu. Dengan perjalanan waktu Aldopun menjadi memiliki 'pengalaman sama' dengan teman-teman lainnya. terutama ketika dia harus mulai masuk sekolah dasar, tidak banyak mengalami kesulitan dalam membaca, menulis, dan berhitung. apalgsi menggabar. Kini Aldo tampil sebagai anak-anak pada umumnya. Meskipun untuk bisa sekolah dasar sanggar mesti support semua kebutuhan sekolahnya tapi itu bagian dari konsekwensi mengedepankan pendidikan anak akan hak mendapatkan pendidikan meski tidak bermutu nasional plus atau sekolah dasar favorite kampung Lolongok.

Ketika Aldo sudah kelas empat sekolah dasar dan tampil penuh dengan kepercayaan diri kuat akan dirinya. Kini coba dilepas dan pembiayaan sekolah diserahkan penuh keorangtuanya. Ada pertimbangan untuk itu, karena orangtuanya melihat peluang dibantunya Aldo untuk biaya pendidikan membuat tanggung jawab nya justru malah menggantungkan dengan menambah satu anaknya lagi. Peluang itu kini justru diambil oleh kader partai agama dan melalkukan kebalikan apa yang pernah dilakukan oleh Daru.   Kini Aldo seperti orang asing, berpapasan dengan Darupun tidak seperti dulu yang pernah diajarkannya. Anak seperti komoditi yang bisa mendatangkan uang. Orangtua Aldo kini terbebas dari semua pembiayaan sekolah kedua anaknnya, berkat bantuan kader partai agama. Entah Aldo diajari apa disana.

Senin, 15 Agustus 2011 | posted in | 0 comments [ More ]

Bamboo Leaf Gallery Photos