| Mobile| RSS

Mesin Cuci

Pagi hari Bang Aziz pulang dengan mata kuyuk karena pekerjaan itu kini hidupnya dibalik, siang menjadi malam dan malam menjadi siang. Tapi apa mau dikata baginya cuma kesempatan waktu itulah dia bisa mendapatkan pekerjaan. seperti biasa Bang Aziz pulang kerumah dan tidak langsung tidur tetapi pergi kewarung untuk membeli beras tiga liter untuk makan hari ini sampai besok pagi dan kopi hitam untuk dirinya sebagai teman santai sambil ngopi.  Pagi ini merupakan hari yang membahagiakan dirinya. Dia mendapatkan uang  satu juta sebagai uang tunjangan hari raya. Sebagai buruh harian lepas tunjangan itu diluar ketentuan aturan dari kesepakatan kerja di tempatnya menggantungkan hidup yang telah dijalani lebih dari lima tahun.
"Bang nih kopinya."Sahut sang istri tanpa ekspresi.
"Tarok disitu!"Kata Aziz sambil menghisap rokok. Semua seperti biasa tidak ada yang istimewa.
"Ety, nih uang ... dari tempat kerjaan."Aziz memberikan amplop coklat kepada istrinya.
Dan Etypun membuka amplop itu dan menghitung jumlah uang didalam amp;ot itu.
"Satu juta Ziz>"Tanya istrinya sambil memandangi wajah Aziz  dengan tatapan menyelidik. Seperti biasa Aziz tidak menghiraukan tatapan Ety istrinya. Aziz sudah terbisa dengan tatapan itu.
"Wah, bisa beli mesin cuci perti punyanya Mpok Acih, lumayan enggak usah ngucek pakaian lagi... tapi masih kurang seratus ribu lagi? hmm ... pinjem sama Mpok Tiur."Ety berguman dalam hati. Tanda disadari Ety, Aziz yang sejak tadi memperhatikannya. Aziz selalu berusaha menahan diri untuk i bertanya pada istrinya. Sudah tidak ada lagi tenaga untuk itu.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali setelah mengantar kedua anaknya Ety pergi ketoko elektronik. Dipilihnya mesin cuci yang sesuai dengan uang yang dimilikinya. Setelah tawar-menawar akhirnya kesepakatan terjadi dan hari itu juga mesin cuci diantar ke rumah kontrakan Ety. Begitu bangganya Ety bisa membeli mesin cuci seperti milik Mpok Acih. Pikirannya dipenuhi dengan kebanggan bisa membeli dan memiliki mesin cuci itu. Sekarang dirinya sudah sama dengan para tetangganya yang lain. Kini Ety tidak perlu lagi merasa minder dengan tetangganya.
"Eh ... habo borong nih ... "Kata Mpok Acih ketika mobil pengantar mesin cuci melewati samping rumahnya.
"ini sih nggak borong Cih ... "Kata Ety dengan rasa penuh bangga sambil mlengos melihat kedepan jalan untuk memberi tahu mobil itu dimana harus berhenti.

Hampir satu bulan Ety hidup dengan mesin cuci, kini dia tidak perlu lagi mengucek dan mengilas setiap pakaian, kini dia  mencuci pakaian cukup tiga hari sekali. Ada banyak waktu luang dengan adanya mesin cuci itu dan dia bisa ngobrol dengan para tetangganya atau sekali-sekali pergi kerumah orangtuanya untuk ngobrol dengan adik kandungnya sambil menunggu anaknya selesai sekolah. Pembicaraan Ety tidak jauh seperti ibu-ibu kampung di pinggiran kota. Ibu-ibu yang selalu takjub dengan barang-barang elektronik yang banyak dimiliki oleh kaum urban yang tinggal di kampung Lolongok. Kaum urban di Kampung Lolongok suami dan istri harus bekerja untuk mimpi-mimpi keluarga mereka dikemudian hari.
"Aziz .... ziz .... bangun .... !"Ety menguncang-guncang badan suaminya.
"Apaan sih .... "Jawab Aziz enggan membuka matanya.
"Bulan ini kita mesti bayar listri hampir dua kali lipet dari bulan kemaren!"Kata Ety lagi kelihatan serba salah.
"Makanya dipikir dulu kalau mau beli mesin cuci!"Kata Aziz sebenarnya enggan mengatakan itu pada istrinya.
"Nah elu sih enak, enggak ngerain nyuci pakean sama ngurusin anak-anak!"Ety membela diri.
"Elo kan tahu setiap hari gue cuma dapat duit lima puluh ribu!Buat beli bensin sama makan gue aja di tempat kerjaan udah banyak, belom lagi buat masak sama jajan anak-anak! Elo pikir aja sendiri!"Aziz kelihatan tidak berdaya dan tidak tahu harus menjelaskan apa. Hanya itu yang di lakukan setiap harinya selama bertahun-tahun.
"Ngobyek apa kek Ziz? Buat cari tambahan, masak elo nggak bisa. "Ety terus mendesak Aziz yang masih ngantuk.
"Elo aja sana cari obyekan, ngapin kek sono! Minta ama babak loe!"Aziz kelihatan mulai terdesak.
"Elo laki apan sih, nggak bisa cari tambahan buat bayar listrik!"Ety terus mendesak Aziz.
"elo kan tahu kerjaan gue itu apaan dan elo juga tahu berapa duit gue! kenapa elu masih juga ngotot beli mesin cuci!"Kata Aziz bangkit berdiri sambil memandang tajam mata istrinya.
"Jual tuh mesin cuci, bikin susah laki aja!"Kata Aziz lagi menahan marah.
"Ya enggak bisa dong .... elo mau enaknye doang !"Ety merasa terpojok. Kemudian Aziz keluar rumah dan berusaha menghindari pertengkaran dengan istrinya.
"Pokoknya gue enggak mau tahu! Elo harus cariin duit buat bayar listri!"Ety bertambah emosi melihat Aziz keluar dari rumah dan kata-katanya mulai tidak teratur dan terkendali. Seperti miteliur.
"Plak."Aziz membalik sambil menampar isrtinya dan Etypun lari kerumah tetangganya sambil teriak minta tolong. Akhinya para tetangga kiri dan kanan berkumpul untuk melihat apa yang terjadi. Uwak Napi juga tidak ketinggalan datang dan melerai pertengaran itu.
"Kenape sih ...! udah pada tua masih aje ribut! enggak malu apa sama tetanga dan anak-anak!"Uwak Napi berusaha menenangkan pertengkaran itu.
"Ayo masuk! Udah punya anak dua kok ribut sih! Emangnye enggak bisa diomongin! Kapan mau jadi orang tua yang baik! Guw enggak mau denger ribut-ribut lagi dan belajar selesaiin masalah dan enggak pake pukul-pukulan!"Kata Uwak Napi sambil merangkul Aziz dan Ety.
"Udah nye gue balik dan elo selesain baik-baik."Uwak Napi mengulangi lagi kata-katanya dan berharap Aziz dan Ety bisa menyelesaikan persoalan itu dan Uwak Napi pun pamit pulang.

Gonzaga, 03/08/11

Kamis, 04 Agustus 2011 | posted in | 0 comments [ More ]

Kak Jojo Jalannya Lelet ... !

Setelah semua persiapan dipenuhi merekapun memulai perjalanan pendakian, yang istimewa dari pendakian ini berjalan bersama anak-anak kecil kelas empat sampai 6 sekolah dasar. Mereka berempat sementara yang besar dua orang Jojo dan Lukman. Ini pendakian mereka ke tinggian 1.335 , dpl, ada banyak kemungkinan kegiatan pendakian ini tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Jojo sidah mengantisipasi segala kemungkinan itu dan dia berjalan dibagian paling belakang. Lukman berada barisan paling depan yang sebelumnya sudah diberitahu Jojo untuk memperlambat langkahnya. Itu strategi sederhana untuk pemula yang selalu dilakukan Jojo ketika membawa anak-anak berkegiatan pendakian untuk pemula. Pada trak pertama kelihatan sekali Fadlah yang berbadan lebih besar mengalami kesulitan pernapasan karena langkahnya terlalu cepat hingga jantungnya butuh kerja keras untuk memompa darah keseluruh bagian tubuhnya ditambah faktor  udara yang renggang diketinggian. Lukman yang berada paling depan memperlambat langkahnya melihat Fadlah kepayahan sementara tiga anak lainnya tidak banyak mengalami kesulitan. Jojo yang berada dibagian belakang berjalan  melambatkan lagi langkahnya, bukan hanya usia saja yang membatasi tetapi juga tidak pernah rajin berolah raga. Jojo selalu mengajak anak-anak ke alam, itu sudah dilakukannya sejak dulu. Ada yang mau disampaikannya melalui kegiatan dialam untuk anak-anak. Ini tentang beberapa keprihatinannya akan kerusakan alam karena eksplotasi berlebihan oleh manusia.  Satu jam perjalanan sudah dan semua anak  baru dapat menyusuaikan seluruh tubuhnya pada ritme trakking mendaki.
"Ayo jalan terus ... kita kalain kak Jojo! Jangan sampai kesusul!"Kata Lukman memberi semangat keempat anak-anak.
"Tenang aja, kak Jojo jalannya kayak keong."Ledek Putri  sambil ketawa kecil.
"Iya a'k Lukman, enggak mungkin kak Jojo bisa nyusul kita ... !"Kata Anya penuh semangat. Sementara Fadlah diam saja mendengarkan teman-temannya ngeledek Jojo. Lain halnya dengan Iis, dia hanya  mendengarkan saja  teman-temannya meledek, hanya sekali-sekali tertawa kecil mendengar ocehan itu.
Satu setengah jam perjalanan sudah terlewati sementara trakkingnya terus mendaki dan semakin terjal, tampak diwajah anak-anak kelelahan mulai kelihatan. Mereka sebentar-sebentar berhenti untuk istirahat sambil minum dari air persediaan yang mereka bawa dari perkemahan.
"Mana kak Jojo kok enggak ada dibelakang kita!"Kata Putri sambil memeriksa Jojo dari antara celak pohon dan semak belukar hutan.
"Itu kak Jojo!"Kata Iis sambil tangannya menunjuk kearah Jojo tepat ada dibawah mereka.
"Ayo kita jalan lagi, entar kak Jojo marah kalau kita ketahuan istirahan."Kata Anya sambil mengangkat backpacknya ke punggung.
"Ayo ... ayo ... "Kata Lukma memperhatikan anak-anak yang belum juga mulai berdiri.
"Makanya jangan keseringan istirahat! Pasti berat lagi kalau mulai jalan! Kak Jojo jalannya pelan tapi enggak pernah istirahat, lihat aja tuh  dia selalu bisa nyusul kita. "Lukman menjelaskan.
Akhirnya merekapun meneruskan pendakian itu, sampai akhirnya mereka menempuh perjalanan lebih dari tiga jam dan kini berada dipersimpangan ke puncak Gunung Salak - Kawah Ratu dan Pos Pendakian. Anak-anakkembali istirahan sambil minum mereka mengamati apa yang ada disekitar mereka.
"Eh .... dari tadi kita jalan enggak pernah ketemu anak kecil seperti kita ya?"Anya penuh keheranan.
"Iya ... ya ... ! Terus orang-orang lucu deh, masak kalau ketemu kita dia bingung. Ada anak kecil naik gunung ... "Celetuk putri sambil kecicikan.
"Terus dia tanya, kamu dari sekolah apa sambil ngeliatin kaos kita."Sambung Putri berusaha memahami apa yang ada dipikiran orang dewasa yang selalu berpapasan dengan mereka dan selalu mengomentari mereka.
"Kita jadi ngetop Put ... "Sahut Anya sambil senyum-senyum.
"Iya ... ya kita kayak artis."Fadlah menanggapi komentar Anya dibarengi dengan ketawa geli sambil membayangkan dirinya artis. Iis yang berada disebelahnya ikutan ketawa cekikikan.
Lukma yang sejak tadi memperhatikan pembiraan empat anak itu tidak bisa menahan geli "Artis nih yee ... he .... he ... "Kata Lukman tidak tahan.
"Eh ... eh .... kak Jojo udah kelihatan, yuk kita jalan lagi!"Ajak Lukman sambil memberi aba-aba.
"Yuk ... yuk ... kak Jojo ganggu aja orang lagi ngobrol .... hi ... hi ... hi ... "Gerutu putri sambil cekikan.
Tiga jam lebih perjalanan akhirnya mereka sampai juga di puncak Kawah Ratu.
"Ini puncak gunung ya a'k Lukman?"Tanya Putri sambil menark tangan Lukman ke bibir kawah.
"Entar tanya sama kak Jojo, saya enggak tahu!"Jawab Lukman bigung, mencari tanda-tanda puncak Kawah Ratu.
"Nah, itu kak Jojo!"Kata Iis sambil menunjuk kearah Jojo.
"Kak ... kak ... kak ... mana puncaknya? emang kita sudah sampai?"Kata Putri sambil menunjuk kearah kawah.
"Ya ini puncaknya. Memang kamu pikir dipuncak gunung ada tontonan!"Kata Jojo bermaksud meledek Putri dan anak lainnya.
"Nah sekarang kita minum yang puas sambil ngemil crackers. Biar enggak lapar ... "Canda Jojo lagi.
"Kak, kita turun lagi yuk. Kitakan udah sampe!"Ajak Anya kelihatan kecewa.
"Para pendaki gunung bersusah payah mendaki hanya untuk sampai dipuncaknya."Jojo berusaha menjelaskan.
"Sekarang kkita berada dipuncaknya, kenapa kita berusaha menikmatinya dengan minum dan makan crackers"Ledek Jojo lagi sambil mengedipkan mata ke Putri.
Jojo pergi kesemak belukar entah mencari apa, anak-anak hanya memperhatikan dari kejauhan dan hilang dari pandangan mata.
"Kamu tahu rahasianya kok Jojo kalau mendaki gunung .... "Lukman mencoba menarik perhatian  anak-anak. "Kak Jojo kalau naik gunung selalu menikmati setiap langkahnya, itu yang menyebabkan dia jalannya seperti lamban!"Lukman mencoba menjelaskan sambil memandangi wajah anak-anak satu persatu. Suatu saat kalau kita bisa naik gunung yang lebih tinggi kita menggunakan langkah kak Jojo, supaya lebih hemat tenaga dan tidak usah terburu-buru."Lukman menjelaskan lebih rinci bagaimana strategi mendaki gunung. "Coba kita lihat deh! Kita lebih capek kan?Lukman menggoda keempat anak yang sedang menikmati crackers.  "Terus satu lagi, jangan pernah memetik bunga di perjalanan? Tahukan akibatnya? Kamu kena damprat kak Jojo!"Kata Lukman sambil mesem-mesem.
"Eh, kita idah satu jam nih! mana Kak Jojo? Kita turun supaya enggak kena hujan."Lukman khawatir melihat langit mendung dan berteriak memanggil Jojo.
"Jo, turun .... "Kata Putri ngedek Jojo.
"Ayo kita kemon. Periksa barang-barang jangan sampe ketinggaln. Terutama sampah plastik dari biscuit crackers!"Jojo selalu mengingatkan untuk kesekian kalinya sambil matanya kesana kemari, kalau -kalau ada sampah yang tertinggal.
"Bawel hi ...hi..."Kata Putri merasa puas bisa ngeledek Jojo.
"Ayo turun!"Lukman memberi aba-aba sambil berjalan dibagian paling depan.

| posted in | 0 comments [ More ]

Bamboo Leaf Gallery Photos