Sore hari sambil menunggu buka puasa Jojo pergi kerumah Bang Aziz, bukan untuk berbuka puasa tapi hanya ingin berkunjung, sambil ngobrol tentang anaknya yang paling besar. Di depan pintu Jojo melihat Bang Aziz sedang tidur-tiduran sambil nonton TV, sementara istrinya kelihatan sedang di dapur, mungkin sedang menyiapkan makanan buka puasa. Anaknya yang paling besar tidak tampak hanya yang paling kecil sedang bermain bersama anak tetangga.
"Assalammualaikum."Kata Jojo di depan pintu sambil memperhatikan suasana gelap di dapur. Seperti sinar lampu 10 w, yang hanya bisa menerangi sedikit ruang dapur.
"Wualaikumsallam. Masuk!"Sahut Bang Aziz langsung berdiri ketika mendengar suara Jojo dan sudah berdiri didepan pintu.
"Mau kemana udah rapih?"Bang Aziz memulai pembicaraan.
"Enggak kemana-mana. Cuma keabisa pakaian alakadarnya."Balas Jojo sambil sambil mesem-mesem ngeledek Bang Aziz.
"Bisak aje ... Jojo ...."Bang Aziz tersenyum geli mendengar jawaban Jojo yang sekenaknya.
"Eh Jojo ..."Kata istri Bang Aziz sambil jalan menuju beranda. Jojo hanya menolah sambil melemparkan senyum khas Jojo pada istri Bang Aizi.
"Jo ... buka puasa disini yah?"Kata Istri Bang Aziz sambil bangun dari duduknya hendak menuju dapur.
"Enggak usah! saya enggak puasa."Kata Jojo sambil memberi isyarat dengan tangannya.
"Serius nih .... Jo!"Istrinya Bang Aziz terus menawari Jojo sambil menuju dapur.
"Dibilang enggak usah!"Kata Jojo setengah berteriak.
"Mendingan sini kita ngobrol aja!"Kata Jojo sambil menepuk-nepuk lantai memberi isyaarat untuk duduk.
"Sebenarnya saya masih mau bantu biaya sekolah Fadlah .... tapi anak yang dibantu mesti rajin belajar dan saya tahu perkembangan anaknya. Itu bisa kalau anaknya sering ketemu sama saya."Kata Jojo hati-hati.
"Darul bisa jadi sekarang karena sering ketemu, kadang-kadang saya suka saya minta dia belajar sesuatu yang selama ini enggak pernah dipelajari disekolah. Itu terjadi waktu dia masih kelas satu SMP. Emang dia kebayang bisa sekolah grafika!"Jojo mencoba menjelaskan proses Darul waktu masih sekolah SMP.
"Saya enggak ngerti maksud Kakak!"Kata istri Bang Aziz sambil mengerutkan alirsnya.
"Mpok, Darul sebelum tahu apa itu grafika dia saya kenalin dulu sama program-program komputer. Dari belajar itukan akhirnya dia tertarik, nah waktu dia tertarik itu saya kasih tahu bahwa ada sekolah yang namanya grafika! Dari sekolah grafika dia bisa kerja di percetakan atau kekerjaan yang masih ada hubungan dengan percetakan! Bisa juga wiraswasta buka percetakan sendiri. Kalau saya enggak deket mana tahu ketertarikan anaknya!"Jojo merinci prosesnya Darul ke istri Bang Aziz. Bang hanya Aziz manggu-mangut mendengar penjelasan Jojo.
"Sekarang gina aja, kalau kakak mau bantu bantu aja tapi ikhlas! enggak usah gini-gitu!"Kata Istri Bang Aziz tidak paham apa yang dijelaskan Jojo.
"Mpok, duit yang saya kasih buat bantu anak sekolah jangan sampe sis-sia dan enggak ada gunanya buat anak! Dengan uang itu anak bisa sekolah yang bener, jelas, dan lulus dari sekolah langsung bisa kerja. Bukan kerja cuma di kontrak 3 bulan setelah itu selesai tapi jadi karyawan tetap. Itu yang saya mau coba bantu anak Mpok!"Jojo menjelaskan dengan jengkel tapi dia sadar siapa yang sedang diajak bicara. Perlahan-lahan Jojo menjelaskan sekali lagi dan istri Bang Aziz hanya diam saja. Entah apa yang ada dipikiran istri Bang Aziz.
Tidak lama kemudian terdengan suara azan di TV dan musholah, waktunya buka puasa dan Jojopun pamitan pulang.
"Assalammualaikum."Kata Jojo di depan pintu sambil memperhatikan suasana gelap di dapur. Seperti sinar lampu 10 w, yang hanya bisa menerangi sedikit ruang dapur.
"Wualaikumsallam. Masuk!"Sahut Bang Aziz langsung berdiri ketika mendengar suara Jojo dan sudah berdiri didepan pintu.
"Mau kemana udah rapih?"Bang Aziz memulai pembicaraan.
"Enggak kemana-mana. Cuma keabisa pakaian alakadarnya."Balas Jojo sambil sambil mesem-mesem ngeledek Bang Aziz.
"Bisak aje ... Jojo ...."Bang Aziz tersenyum geli mendengar jawaban Jojo yang sekenaknya.
"Eh Jojo ..."Kata istri Bang Aziz sambil jalan menuju beranda. Jojo hanya menolah sambil melemparkan senyum khas Jojo pada istri Bang Aizi.
"Jo ... buka puasa disini yah?"Kata Istri Bang Aziz sambil bangun dari duduknya hendak menuju dapur.
"Enggak usah! saya enggak puasa."Kata Jojo sambil memberi isyarat dengan tangannya.
"Serius nih .... Jo!"Istrinya Bang Aziz terus menawari Jojo sambil menuju dapur.
"Dibilang enggak usah!"Kata Jojo setengah berteriak.
"Mendingan sini kita ngobrol aja!"Kata Jojo sambil menepuk-nepuk lantai memberi isyaarat untuk duduk.
"Sebenarnya saya masih mau bantu biaya sekolah Fadlah .... tapi anak yang dibantu mesti rajin belajar dan saya tahu perkembangan anaknya. Itu bisa kalau anaknya sering ketemu sama saya."Kata Jojo hati-hati.
"Darul bisa jadi sekarang karena sering ketemu, kadang-kadang saya suka saya minta dia belajar sesuatu yang selama ini enggak pernah dipelajari disekolah. Itu terjadi waktu dia masih kelas satu SMP. Emang dia kebayang bisa sekolah grafika!"Jojo mencoba menjelaskan proses Darul waktu masih sekolah SMP.
"Saya enggak ngerti maksud Kakak!"Kata istri Bang Aziz sambil mengerutkan alirsnya.
"Mpok, Darul sebelum tahu apa itu grafika dia saya kenalin dulu sama program-program komputer. Dari belajar itukan akhirnya dia tertarik, nah waktu dia tertarik itu saya kasih tahu bahwa ada sekolah yang namanya grafika! Dari sekolah grafika dia bisa kerja di percetakan atau kekerjaan yang masih ada hubungan dengan percetakan! Bisa juga wiraswasta buka percetakan sendiri. Kalau saya enggak deket mana tahu ketertarikan anaknya!"Jojo merinci prosesnya Darul ke istri Bang Aziz. Bang hanya Aziz manggu-mangut mendengar penjelasan Jojo.
"Sekarang gina aja, kalau kakak mau bantu bantu aja tapi ikhlas! enggak usah gini-gitu!"Kata Istri Bang Aziz tidak paham apa yang dijelaskan Jojo.
"Mpok, duit yang saya kasih buat bantu anak sekolah jangan sampe sis-sia dan enggak ada gunanya buat anak! Dengan uang itu anak bisa sekolah yang bener, jelas, dan lulus dari sekolah langsung bisa kerja. Bukan kerja cuma di kontrak 3 bulan setelah itu selesai tapi jadi karyawan tetap. Itu yang saya mau coba bantu anak Mpok!"Jojo menjelaskan dengan jengkel tapi dia sadar siapa yang sedang diajak bicara. Perlahan-lahan Jojo menjelaskan sekali lagi dan istri Bang Aziz hanya diam saja. Entah apa yang ada dipikiran istri Bang Aziz.
Tidak lama kemudian terdengan suara azan di TV dan musholah, waktunya buka puasa dan Jojopun pamitan pulang.
