| Mobile| RSS

Rumah


Pagi-pagi sekali seorang ibu pengurus rumah kontrakan menemui Jojo. Dari wajahnya terlihat ada sesuatu yang sangat serius mau disampaikan. Sudah bisa ditebak, pasti ibu itu akan menyampaikan pesan dari pemilik rumah kontrakan.
"Jojo!" Kata ibu tergopoh-gopoh dan suaranya tegas dipaksakan.
"Ada apa Mpok?" Kata Jojo biasa memanggil ibu itu.
"Yang punya rumah minta Jojo tidak memperpanjang sewa rumah untuk bulan depan!" Sambungnya lagi nyerocos.
"Loh, memang kenapa? Bukannya saya selalu  membayar tepat waktu?!" Kata Jojo keheranan.
"Mpok Nur, kemarin di telephone sama orang yang enggak jelas namanya. Bilang kalau Jojo suka nyimpen perempuan dan sanggar sering ditutup!" Pengurus kontrakan dengan suara datar. "Mpok Nur orang aneh! Kan setiap hari sanggar enggak pernah ditutup pintunya dan enggak ada yang tidur di sanggar selain Jojo dengan Lukman?"Katanya penuh kebingungan.
"Ya sudah, kalau masalah tidak boleh diperpanjang enggak masalah! Tapi soal tuduhan itu harus saya selesaikan!" Suara Jojo jengkel.
Berhari-hari Jojo menunggu pemilik rumah itu tapi tidak juga kunjung tiba, sampai semua barang selesai dipindahkan ke penyimpanan sementara beberapa meter dari rumah lama.  Yang sangat menjengkelkan lagi pemilik rumah menyampaikan pesan  "Kalau Jojo masih betah tinggal dirumah itu mesti tambah uang sewa 100 ribu lagi!" "Bilang aja mau menaikkan uang sewa, kenapa mesti muter-muter!" Pikir Jojo jengkel. "Mpok, bilang aja kepemilik rumah, bahwa uang sewa sebelum dinaikkan saja sudah mahal, apalagi dinaikkan 100 ribu!" Jelas Jojo ke pengurus kontrakan. Jojo seperti dilempar kekejadian beberapa tahun lalu sebelum tinggal di kontrakan itu. Sungguh pengalaman menjengkelkan dan tidak mengenakkan. Ditahun itu pula Jojo pernah berencana menyewa sebidang tanah untuk dibuat rumah kegiatan anak dan dalam waktu yang bersamaan harus mengeluarkan biaya ujian untuk salah seorang anak yang akan mengakhiri pendidikannya di SMK. Walhasil Jojo mesti menjual tabungannya - batu kali dan pasir untuk menutupi biaya ujian. Sontak saja membuat pemilik tanah kecewa karena uang sewa di hadapan matanya lenyap karena tertunda. Kini Jojo mencoba menemui lagi pemilik tanah itu, barangkali saatnya membuat rumah kegiatan ditanah sewaan itu bisa terjadi kali ini. Pikir Jojo optimis. Mulailah Jojo mengutarakan rencana itu kepada Yani sahabat terdekatnya.
"Jo ...! Coba hitung berapa harga sewa tanah itu dan biaya pembuatan rumah semipermanen untuk shelter sementara kegiatan anak-anak?" Usul Yani diujung phonecellnya.
Dengan cekatan Jojo menemui pemilik tanah itu untuk mengutarakan niatnya yang tertunda untuk waktu yang lama untuk bisa menyewa tanah dan membangun shelter disana.
"Jojo, .... Saya kecewa sama soal rencana itu! Dulu mau bangun shelter kenapa enggak jadi? Dan sekarang mau buat lagi!" Suara Adul tidak mengenakkan telinga Jojo.    "Dul....! Saya mau tanya. Saya menjual batu kali dan pasir itu untuk siapa?" Suara Jojo kelihatan agak meninggi.
"Buat adik saya." Kata Adul dengan agak malu.
"Jadi tahukan, ....  uang itu untuk siapa! Siapa yang menikmati dari dari usaha itu? Siapa yang sering kamu ajak keluar kota dengan menggunakan mobil bosmu?" Sambung Jojo agak berhati-hari sambil menatap mata Adul yang kelihatan gelisah karena terasa sulit mencerna pertanyaan Jojo.
Kenapa kamu tdk ajak adikmu yg tidak punya uang?"Jojo terus saja menghujani Adul dengan pertanyaan.
"Maaf Jo. Saya enggak bicara lagi soal tertundanya pembuatan shelter itu" Suara Adul dengan rasa bersalah.
"Sekarang terserah Jojo aja mau berapa lama mau sewa tanah saya, lalu berapa harganya terserah Jojo aja baiknya berapa" Sambung Adul pasrah.
"Enggak bisa begitu Dul! Tanah itu milikmu dan berapa nilai sewanya kamu yang menentukan!" Sela Jojo sebelum Adul bicara banyak.
Langsung saja Adul menimpali perkataan Jojo dengan suara agak kesal “Sekarang kalau saya yang tentukan nanti sewanya kemahalan!”
“Mahal atau murah, setelah itu kan bisa saya tawar .... Dul! Iya nggak? Kita mesti ada kesepakatan soal harga, iya nggak?”Desak Jojo.
Jojo matanya terus mengawasi Adul sambil memancing harga uang sewa di rumah lama. “Ok .... kalau susah menentukan harga, sekarang saya tawarkan sebuah angka. Bagaimana kalau uang sewa rumah Mpok Nur setiap bulan saya pakai untuk harga sewa tanah itu?”   “Lalu sistem pembayarannya mau setiap bulan, perdua bulan, atau setiap tahun?” Sambung Jojo lagi.
Kemudian Adul berbicara ke Emaknya tentang angka itu dan bagaimana Adul membagi uang itu. Untuk dirinya dan jatah untuk Emaknya.  Sebelum mereka menyelesaikan pembicaraan itu Jojo langsung memotong pembicaraan mereka. “Sekarang kita lanjutkan lagi omongan kita soal berapa lama saya harus sewa tanah itu dan berapa nilai bangunan yang akan saya keluarkan!” Jojo memperlambat tempo bicaranya agar dapat dimengerti Adul sambil mengingat cara perhitungan yang diberikan oleh Yani. “Ditanah itu akan saya bangun rumah semi permanen untuk kegiatan anak-anak dan setelah sewa selesai rumah itu jadi milikmu. Gimana menurut Adul?” Jojo terus mengamati gerak gerik mata Adul yang kelihatan gembira mendengar rencana itu.
“Terus rumah itu pakai keramik nggak Jo?” Tanya Adul semangat.
“Kalau nilai rumah itu 25 juta ditambah uang sewa, berarti setiap buannya saya harus mengeluarkan 2 juta lebih untuk tanah yang saya sewa. Jika saya harus pergi dari sana  setelah dua tahun, itu bisa dibilang sangat mahal ....!” Rinci Jojo. “Gimana kalau waktu sewanya dibuat empat tahun?” Sambung Jojo dengan suara lebih santai.
“Nanti saya harus ganti pembuatan rumah yang Jojo bangun di tanah saya?” Adul penuh keraguan.
“ya enggak lah ... itu jadi rumah Adul.” Jojo menyakinkan.
“Kalau rumahnya pakai keramik dan bagus enggak apa-apa deh Jo!” Pinta Adul lagi.
“Semakin bagus dan mahal nilai rumah itu semakin lama lagi saya tinggal ditanah itu apa enggak masalah ...?” Kata Jojo sambil tersenyum.
“Ya .... jangan dong Jo. Nanti anak dan bini saya numpang terus di rumah Emak!” Protes Adul.
“Kalau gitu rumahnya jangan kemahalan dong”. Jojo menimpali.
“Sudah kalau gitu dipikir lagi aja Dul. Saya tunggu jawabanya. Setidaknya kamu saya kasih waktu seminggu untuk memberi jawaban itu. Gimana?” Jojo mengakhiri pembiraan.

  

Kamis, 26 Juli 2012 | posted in | 0 comments [ More ]

"Apa Sejarah Kak?"

Beberapa waktu lalu Jojo bersama 20 anak membuat program "Belajar Ke Museum".  Supaya kegiatan itu berkesan  untuk anak-anak maka dibuat kegiatan petualangan di dalamnya. Pagi-pagi sekali anak-anak sudah berkumpul di sanggar, suaranya riuh mengganggu para tetangga yang masih tidur lelap. Tapi tidak bagi anak-anak pagi itu. Sebelum berangkat anak yang remaja mulai mendata anak-anak yang ikut kegiatan bertualang ke museum. Setelah mereka siap mereka langsung menuju angkot sewaan yang akan mengantar sampai Stasiun Depok Lama.
Selama perjalanan menuju Stasiun Kota anak-anak berkejar-kejaran didalam kereta, hari itu kereta lumayan kosong dan anak-anak bisa menikmati petualangannya. Untuk banyak anak- ini perjalanan pertamanya jauh dari kampung dan orangtuanya. Tidak sedikitpun ada rasa takut tapi malah sebaliknya mereka begitu menikmati dengan caranya. Bercanda sepenjang perjalanan sampai Stasiun Kota.
Sebelum keluar stasiun anak-anak dibagi perkelompok agar lebih mudah mengawasi dan menjelaskan jika ada pertanyaan atau menjelaskan sesuatu kepada anak jika memang ada objek yang bisa menambah pemahaman mereka tentang budaya. Sambil berjalan keluar stasiun, Suri memegang tangan kiri Jojo matanya diarahkan kebanyak tempat dan sudut, ada banyak hal yang belum dilihatnya. Sesampainya diluar stasiun tiba-tiba suara dan tarikan tangan Suri  mengejutkan Jojo.
"Kak! ... kok disini  banyak Cina?"Suri penuh keheranan dan matanya tidak henti-hentinya memperhatikan orang-orang yang berbeda dengan lingkungan di kampungnya.
Jojo yang pada awalnya terkejut mendadak ingin tertawa sejadinya, tapi niat itu diurungkan karena melihat ekpresi Suri yang masih diliputi rasa heran.
"Loh ... memang kamu disekolah belum diajari sejarah ya ?"Tanya Jojo menyelidik.
"Apa sejarah Kak?"Suri malah balik bertanya.
"Sejarah itu seperti cerita jaman dulu. Contohnya tempat ini. Kenapa ada banyak orang Chinese sampai sekarang.... "Jojo menjelaskan sesederhana mungkin ke pada Suri.
"Oh .... saya baru tahu Kak!."Jawab Suri masih dengan  tatapan penuh keheranan.
Petualangan dari museum ke museum dan beberapa tempat yang berdekatan dikunjungi sampai akhirnya anak-anak kembali pulang dengan membawa pengalaman masing-masing dari apa yang menjadi ketertarikannya.

 
 

Senin, 07 Mei 2012 | posted in | 0 comments [ More ]

" .... Dan Cerita Itu Menjadi Mimpi ..."

Pada awalnya hanya sebuah cerita dan cerita itu menjadi mimpi akhirnya mimpi itu menjadi sebuah kenyataan. Itulah yang terjadi ketika Jojo memulai dengan "Project Membangun Mimpi" untuk anak-anak yang setiap hari selalu berinteraksi di Bale Baca Rebung Cendani. 
"Kak, kita buat rumah pohon yuk ... ! disinikan ada banyak pohon!"Kata Salah satu anak. 
"Boleh! Tapi sebelum kita mulai membuat rumah pohon, mesti dilihat dulu jarak pohon satu dengan yang lainnya. Sambil belajar matematika dan fisika!"Kata Jojo sambil tersenyum. 
Kemudian Jojo dan kelima anak itu pergi kebagian belakang rumah yang masih ditanami pohon cabai. Sayangnya kebun itu tidak dirawat.
"Kak, pohon yang besar cuma ada tiga! Satu lagi masih kecil batangnya dan hanya  pohon belimbing?" Kata Sobari sambil menggoyang-goyangkan batang pohon belimbing.
"Nah.... sekarang bagaimana kita bisa membuat empat tiang penyangga dari pohon, dengan satu pohon yang batangnya tidak besar?"Jojo melemparkan persoalan untuk kelima anak itu. Sementara sambil bercanda anak-anaksibuk dengan  menghitung bagaimana meletakkan tiang penyangga dan membuat bagian dasar lantainya. Jojo hanya belajar mendengarkan apa yang mereka diskusikan tentang cara pembuatan tiang penyangga dan bagian dasar rumah pohon.
"Kak, kita sudah dapat nih cara membuat tiang dari tiga pohon besar dan satu pohon belimbing yang batangnya enggak besar!"Kata Sobari penuh semangat. 
"Sekarang kita hitung berapa batang bambu yang kita butuhkan untuk membuat konstruksi bagian bawah dan lantainya!"Kata Jojo sambil membuat catatan di selembar kertas. 
Setelah mereka selesai menghitung berapa batang bambu yang mereka butuhkan untuk membuat konstruksi bagian bawah. 
"Kak, kita butuh sepuluh bambu besar untuk membuat bagian bawahnya! Bambu besar itu yang punya Bang Udin. Tapi kita harus beli supaya murah kita nebang sendiri aja Kak!"Kata Maknur. 
"Kalau bambu yang biasa kita enggak usah beli dan bisa nebang di kebon bawah" Sambung Maknur. 
 "Ok! sekarang kita mulai mengumpulkan bambu-bambu itu dan mulai membuat rumah pohon!"Sahut Jojo penuh semangat.

Selama satu  minggu, sepulang sekolah mereka selalu mengerjakan itu sambil ditemani Jojo akhirnya selesai juga mereka membuat rumah pohon dengan ukuran 3 m x 3 m dengan ketinggian 2 m. Setelah pengerjaa rumah pohon mereka bercerita tetang dinamika dari proses itu. Tanpa mereka sadari mereka membuat evaluasi kecil dari proses itu. Yang terpenting bagi mereka adalah cerita dan mimpi itu sudah menjadi kenyataan dan mereka menikmati usaha itu termasuk anak-anak yang lain yang lebih kecil.

Minggu, 06 Mei 2012 | posted in | 0 comments [ More ]

"Kak, apasih Climate Change? "


"Kak, apasih Climate Change? "Candra bertanya.
"Ada apa tiba-tiba kamu tanya climate change? Sahu Jojo menimpali.
"Saya disekolah belum pernah diajarkan tentang climate change. Tapi saya enggak ngerti!". Kata Candra sambil mengerutkan dahinya.
"Kamu tahu dari mana istilah climete change?"Tanya Jojo ingin tahu.
"Saya baca buku di sanggar dan saya lihat ada kata climete change." Kata Candra menjelaskan.
"Coba kamu buka google! di laptop, nanti kita bahas tentang climat change." Pinta Jojo.
Candra langsung berlari ke ruangan atas untuk mengambil laptop dan dibawanya ke ruangan bawah. Sementara Jojo hanya memperhatikan bagaimana Candra  mempersiapkan itu. Beberapa menit kemudian Candra mulai mengikuti apa yang diminta oleh Jojo. 
"Kak saya dapat informasi tentang climate change!"Candra kegirangan. Kemudian dibacanya artikel itu perlahan-lahan sambil berusaha memahami apa yang menjadi pertanyaannya.
"Oh jadi climate change itu terjadi karena adanya pemanasan di seluruh permukaan bumi ... "Dengan mata yang berbinar-binar karena menemukan apa yang menjadi pertanyaannya.  "Kak, kalau semua kutub mencair, apakah kita akan tenggelam?"Tanya Candra lagi. 
"Menurut teman saya, kalau kutub itu mencair tidak akan menenggelamkan bumi, hanya saja ada sebuah ekosistem yang rusak karena hilangnya kedua kutub itu."Jojo menjelaskan.
"Misalnya apa tuh kak, ekosistem yang rusak?"Tanya Candra lagi.
"Yang pasti beruang kutub akan kehilangan tempat tinggalnya dan masih ada banyak lagi!"Sambung Jojo.   
"Pantesan kalau kita pergi ke Margonda panasnya bukan main ya Kak!" Candra mencoba menghubungkan pemanasan global dengan pengalamannya jalan-jalan di Margonda.
"Ya ... jelas aja di Margonda panas, karena disepanjang jalan itu phon besarnya sudah ditebang semua untuk pelebaran jalan!" Jojo menimpali Candra.
"Iya ... ya Kak!" Candra mengiyakan. 
"Coba kamu berdiri di bahah pohon yang besar dan kemudian kamu pindah ketepat yang tidak ada pohonnya. Apa yang kamu alami?"Pinta Jojo sambil membawa Candra kebawah pohon yang rindang. Candra tertawa renyah sambil mempraktekkan apa yang diminta oleh Jojo.
    

Sabtu, 05 Mei 2012 | posted in | 0 comments [ More ]

Naomi Campbel Jadi Jelek ..... !


Sore menjelang magrib  di rumah Emak Amah sudah berkumpul beberapa ibu-ibu. Waktu yang pas untuk ngerumpi sambil menunggu magrib. Mpok Iyah yang sejak tadi seperti sedang memikirkan sesuatu akhirnya tidak tahan juga untuk mengatakan apa yang sedang dipirkannya.
“ngeliat penyanyi di tipi (TV) resep banget, apalagi cewek-ceweknya cakep-cakep.” Kata Mpok Iyah terpesona.
“Iya .... orangnya putih-putih semua.  Seneng ngelihatnya!” Kata Mpok Fitri penuh semangat.
“Semua artis sama penyanyi ditipi orangnya putih. Kok bisa ya?” Sambung Mpok Tuti penuh rasa takjub.
“Kalau enggak putih jelek, mana resep ditonton!.” Mak Amah menimpali.
“Iya, gimana caranya ya supaya bisa putih kayak gitu?” Timpal Mpok Iyah.
“Saya ditawarin pemutih sama seles pemutih tapi harganya mahal banget. Kepenget sih beli tapi duitnya enggak cukup.” Kata Mpok Iyah dengan nada pasrah.
“Pakai merek ini aja Mpok! Saya pakai ini muka saya lebih putih. Padahal baru pakai dua bulan.”Mpok Tuti menjelaskan sambil menunjukkan pemutih dalam kemasan botol plastik.  

“Entar malem deh saya beli.”Kata Mpok Iyah sambil memperhatikan kemasan pemutih ditangannya.
“Biar suami kita pada betah dan enggak ngelirik sama cewek yang putih.”Sambung Mpok Iyah penuh harap.  
“Saya pakai pemutih kok enggak putih-putih juga. Padahal udah gonta-ganti merek pemutih. “ Sambung Mpok Iyah penuh dengan kebingungan.
Perbincangan semakin menarik diantar mereka, satu demi satu setiap artis yang dikenal dianalisa dan dikatagorikan mana yang cantik dan tidak.  Hasilnya semua yang memiliki paras putih di katagorikan kata cantik sementara yang tidak putih tidak cantik.
“Kemaren malem, si Candra pas lagi nonton penyanyi dia minta badannya diputihin. Saya jawab aja, kalau kamu mah mesti direndem baiklin (bayclean)” Cerita Mpok Iyah sambil ketawa geli.

(brawidjaja)

Kamis, 08 Maret 2012 | posted in | 0 comments [ More ]

Bamboo Leaf Gallery Photos