Pagi-pagi sekali seorang ibu pengurus rumah
kontrakan menemui Jojo. Dari wajahnya terlihat ada sesuatu yang sangat serius
mau disampaikan. Sudah bisa ditebak, pasti ibu itu akan menyampaikan pesan dari
pemilik rumah kontrakan.
"Jojo!" Kata ibu tergopoh-gopoh dan suaranya tegas dipaksakan.
"Ada apa Mpok?" Kata Jojo biasa memanggil ibu itu.
"Yang punya rumah minta Jojo tidak memperpanjang sewa rumah untuk bulan depan!" Sambungnya lagi nyerocos.
"Loh, memang kenapa? Bukannya saya selalu membayar tepat waktu?!" Kata Jojo keheranan.
"Mpok Nur, kemarin di telephone sama orang yang enggak jelas namanya. Bilang kalau Jojo suka nyimpen perempuan dan sanggar sering ditutup!" Pengurus kontrakan dengan suara datar. "Mpok Nur orang aneh! Kan setiap hari sanggar enggak pernah ditutup pintunya dan enggak ada yang tidur di sanggar selain Jojo dengan Lukman?"Katanya penuh kebingungan.
"Ya sudah, kalau masalah tidak boleh diperpanjang enggak masalah! Tapi soal tuduhan itu harus saya selesaikan!" Suara Jojo jengkel.
Berhari-hari Jojo menunggu pemilik rumah itu tapi tidak juga kunjung tiba, sampai semua barang selesai dipindahkan ke penyimpanan sementara beberapa meter dari rumah lama. Yang sangat menjengkelkan lagi pemilik rumah menyampaikan pesan "Kalau Jojo masih betah tinggal dirumah itu mesti tambah uang sewa 100 ribu lagi!" "Bilang aja mau menaikkan uang sewa, kenapa mesti muter-muter!" Pikir Jojo jengkel. "Mpok, bilang aja kepemilik rumah, bahwa uang sewa sebelum dinaikkan saja sudah mahal, apalagi dinaikkan 100 ribu!" Jelas Jojo ke pengurus kontrakan. Jojo seperti dilempar kekejadian beberapa tahun lalu sebelum tinggal di kontrakan itu. Sungguh pengalaman menjengkelkan dan tidak mengenakkan. Ditahun itu pula Jojo pernah berencana menyewa sebidang tanah untuk dibuat rumah kegiatan anak dan dalam waktu yang bersamaan harus mengeluarkan biaya ujian untuk salah seorang anak yang akan mengakhiri pendidikannya di SMK. Walhasil Jojo mesti menjual tabungannya - batu kali dan pasir untuk menutupi biaya ujian. Sontak saja membuat pemilik tanah kecewa karena uang sewa di hadapan matanya lenyap karena tertunda. Kini Jojo mencoba menemui lagi pemilik tanah itu, barangkali saatnya membuat rumah kegiatan ditanah sewaan itu bisa terjadi kali ini. Pikir Jojo optimis. Mulailah Jojo mengutarakan rencana itu kepada Yani sahabat terdekatnya.
"Jo ...! Coba hitung berapa harga sewa tanah itu dan biaya pembuatan rumah semipermanen untuk shelter sementara kegiatan anak-anak?" Usul Yani diujung phonecellnya.
Dengan cekatan Jojo menemui pemilik tanah itu untuk mengutarakan niatnya yang tertunda untuk waktu yang lama untuk bisa menyewa tanah dan membangun shelter disana.
"Jojo, .... Saya kecewa sama soal rencana itu! Dulu mau bangun shelter kenapa enggak jadi? Dan sekarang mau buat lagi!" Suara Adul tidak mengenakkan telinga Jojo. "Dul....! Saya mau tanya. Saya menjual batu kali dan pasir itu untuk siapa?" Suara Jojo kelihatan agak meninggi.
"Buat adik saya." Kata Adul dengan agak malu.
"Jadi tahukan, .... uang itu untuk siapa! Siapa yang menikmati dari dari usaha itu? Siapa yang sering kamu ajak keluar kota dengan menggunakan mobil bosmu?" Sambung Jojo agak berhati-hari sambil menatap mata Adul yang kelihatan gelisah karena terasa sulit mencerna pertanyaan Jojo.
Kenapa kamu tdk ajak adikmu yg tidak punya uang?"Jojo terus saja menghujani Adul dengan pertanyaan.
"Maaf Jo. Saya enggak bicara lagi soal tertundanya pembuatan shelter itu" Suara Adul dengan rasa bersalah.
"Sekarang terserah Jojo aja mau berapa lama mau sewa tanah saya, lalu berapa harganya terserah Jojo aja baiknya berapa" Sambung Adul pasrah.
"Enggak bisa begitu Dul! Tanah itu milikmu dan berapa nilai sewanya kamu yang menentukan!" Sela Jojo sebelum Adul bicara banyak.
"Jojo!" Kata ibu tergopoh-gopoh dan suaranya tegas dipaksakan.
"Ada apa Mpok?" Kata Jojo biasa memanggil ibu itu.
"Yang punya rumah minta Jojo tidak memperpanjang sewa rumah untuk bulan depan!" Sambungnya lagi nyerocos.
"Loh, memang kenapa? Bukannya saya selalu membayar tepat waktu?!" Kata Jojo keheranan.
"Mpok Nur, kemarin di telephone sama orang yang enggak jelas namanya. Bilang kalau Jojo suka nyimpen perempuan dan sanggar sering ditutup!" Pengurus kontrakan dengan suara datar. "Mpok Nur orang aneh! Kan setiap hari sanggar enggak pernah ditutup pintunya dan enggak ada yang tidur di sanggar selain Jojo dengan Lukman?"Katanya penuh kebingungan.
"Ya sudah, kalau masalah tidak boleh diperpanjang enggak masalah! Tapi soal tuduhan itu harus saya selesaikan!" Suara Jojo jengkel.
Berhari-hari Jojo menunggu pemilik rumah itu tapi tidak juga kunjung tiba, sampai semua barang selesai dipindahkan ke penyimpanan sementara beberapa meter dari rumah lama. Yang sangat menjengkelkan lagi pemilik rumah menyampaikan pesan "Kalau Jojo masih betah tinggal dirumah itu mesti tambah uang sewa 100 ribu lagi!" "Bilang aja mau menaikkan uang sewa, kenapa mesti muter-muter!" Pikir Jojo jengkel. "Mpok, bilang aja kepemilik rumah, bahwa uang sewa sebelum dinaikkan saja sudah mahal, apalagi dinaikkan 100 ribu!" Jelas Jojo ke pengurus kontrakan. Jojo seperti dilempar kekejadian beberapa tahun lalu sebelum tinggal di kontrakan itu. Sungguh pengalaman menjengkelkan dan tidak mengenakkan. Ditahun itu pula Jojo pernah berencana menyewa sebidang tanah untuk dibuat rumah kegiatan anak dan dalam waktu yang bersamaan harus mengeluarkan biaya ujian untuk salah seorang anak yang akan mengakhiri pendidikannya di SMK. Walhasil Jojo mesti menjual tabungannya - batu kali dan pasir untuk menutupi biaya ujian. Sontak saja membuat pemilik tanah kecewa karena uang sewa di hadapan matanya lenyap karena tertunda. Kini Jojo mencoba menemui lagi pemilik tanah itu, barangkali saatnya membuat rumah kegiatan ditanah sewaan itu bisa terjadi kali ini. Pikir Jojo optimis. Mulailah Jojo mengutarakan rencana itu kepada Yani sahabat terdekatnya.
"Jo ...! Coba hitung berapa harga sewa tanah itu dan biaya pembuatan rumah semipermanen untuk shelter sementara kegiatan anak-anak?" Usul Yani diujung phonecellnya.
Dengan cekatan Jojo menemui pemilik tanah itu untuk mengutarakan niatnya yang tertunda untuk waktu yang lama untuk bisa menyewa tanah dan membangun shelter disana.
"Jojo, .... Saya kecewa sama soal rencana itu! Dulu mau bangun shelter kenapa enggak jadi? Dan sekarang mau buat lagi!" Suara Adul tidak mengenakkan telinga Jojo. "Dul....! Saya mau tanya. Saya menjual batu kali dan pasir itu untuk siapa?" Suara Jojo kelihatan agak meninggi.
"Buat adik saya." Kata Adul dengan agak malu.
"Jadi tahukan, .... uang itu untuk siapa! Siapa yang menikmati dari dari usaha itu? Siapa yang sering kamu ajak keluar kota dengan menggunakan mobil bosmu?" Sambung Jojo agak berhati-hari sambil menatap mata Adul yang kelihatan gelisah karena terasa sulit mencerna pertanyaan Jojo.
Kenapa kamu tdk ajak adikmu yg tidak punya uang?"Jojo terus saja menghujani Adul dengan pertanyaan.
"Maaf Jo. Saya enggak bicara lagi soal tertundanya pembuatan shelter itu" Suara Adul dengan rasa bersalah.
"Sekarang terserah Jojo aja mau berapa lama mau sewa tanah saya, lalu berapa harganya terserah Jojo aja baiknya berapa" Sambung Adul pasrah.
"Enggak bisa begitu Dul! Tanah itu milikmu dan berapa nilai sewanya kamu yang menentukan!" Sela Jojo sebelum Adul bicara banyak.
Langsung saja Adul menimpali perkataan Jojo
dengan suara agak kesal “Sekarang kalau saya yang tentukan nanti sewanya
kemahalan!”
“Mahal atau murah, setelah itu kan bisa saya
tawar .... Dul! Iya nggak? Kita mesti ada kesepakatan soal harga, iya nggak?”Desak
Jojo.
Jojo matanya terus mengawasi Adul sambil
memancing harga uang sewa di rumah lama. “Ok .... kalau susah menentukan harga,
sekarang saya tawarkan sebuah angka. Bagaimana kalau uang sewa rumah Mpok Nur
setiap bulan saya pakai untuk harga sewa tanah itu?” “Lalu
sistem pembayarannya mau setiap bulan, perdua bulan, atau setiap tahun?”
Sambung Jojo lagi.
Kemudian Adul berbicara ke Emaknya tentang
angka itu dan bagaimana Adul membagi uang itu. Untuk dirinya dan jatah untuk
Emaknya. Sebelum mereka menyelesaikan
pembicaraan itu Jojo langsung memotong pembicaraan mereka. “Sekarang kita
lanjutkan lagi omongan kita soal berapa lama saya harus sewa tanah itu dan
berapa nilai bangunan yang akan saya keluarkan!” Jojo memperlambat tempo bicaranya
agar dapat dimengerti Adul sambil mengingat cara perhitungan yang diberikan
oleh Yani. “Ditanah itu akan saya bangun rumah semi permanen untuk kegiatan
anak-anak dan setelah sewa selesai rumah itu jadi milikmu. Gimana menurut Adul?”
Jojo terus mengamati gerak gerik mata Adul yang kelihatan gembira mendengar
rencana itu.
“Terus rumah itu pakai keramik nggak Jo?” Tanya
Adul semangat.
“Kalau nilai rumah itu 25 juta ditambah uang
sewa, berarti setiap buannya saya harus mengeluarkan 2 juta lebih untuk tanah
yang saya sewa. Jika saya harus pergi dari sana setelah dua tahun, itu bisa dibilang sangat
mahal ....!” Rinci Jojo. “Gimana kalau waktu sewanya dibuat empat tahun?”
Sambung Jojo dengan suara lebih santai.
“Nanti saya harus ganti pembuatan rumah yang
Jojo bangun di tanah saya?” Adul penuh keraguan.
“ya enggak lah ... itu jadi rumah Adul.” Jojo
menyakinkan.
“Kalau rumahnya pakai keramik dan bagus enggak
apa-apa deh Jo!” Pinta Adul lagi.
“Semakin bagus dan mahal nilai rumah itu
semakin lama lagi saya tinggal ditanah itu apa enggak masalah ...?” Kata Jojo
sambil tersenyum.
“Ya .... jangan dong Jo. Nanti anak dan bini
saya numpang terus di rumah Emak!” Protes Adul.
“Kalau gitu rumahnya jangan kemahalan dong”.
Jojo menimpali.
“Sudah kalau gitu dipikir lagi aja Dul. Saya
tunggu jawabanya. Setidaknya kamu saya kasih waktu seminggu untuk memberi
jawaban itu. Gimana?” Jojo mengakhiri pembiraan.




