| Mobile| RSS

"Kok, Tuhan bisa digambar?"

Satu hari ini mencoba mengerjakan blog dilantai bawah sambil menemani beberapa anak usia tiga sampai empat tahun. Agak repot anak usia seperti mereka jika tidak ditunggui, bisa dipastikan ada buku yang sobek dan cover buku terlepas dari bukunya. Biasanya mereka saling berebut untuk melihat buku sambil 'membaca' menurut fantasi anak. Sekitar setengah jam berlalu Anya datang sambil membawa sleeping dalam kantong kresek.
"Kak, ini saya dipinjami sleeping bag untuk berkemah besok."Kata Anya sambil menunjukan isi kantong plastik.
"Nya... ini bau! sudah lama pasti enggak dicuci!"Kataku sambil menyerahkan kantong kresek itu. "Jemur sana, mumpung masih ada panas!"Kata sambil mengarahkan mukaku kearah jemuran.
"Iya ... kakak ...."Kata Anya sambil tersenyum meringis dan berjalan menuju jemuran disebelah sanggar.
Tak lama kemudian Anya kembali sambil memperhatikan apa yang aku kerjakan.
"Nya, coba kamu baca deh tulisan kakak. "Kataku sambil menunjukkan artikel 'Hai nak, sedang apa kamu?'
Dibacanya perlahan-lahan dengan suara hampir berbisik. Beberapa detik kemudian.
"Kak, kok  wajah Tuhan bisa digambar?"Tanya Anya heran dengan tatapan curiga.
"Nya, di pengajian kamu diajari bahwa Tuhan itu Maha Pencipta dan Maha Baik. Dari mana kamu tahu semua Maha itu?"Tanyaku agak khawatir dengan pertanyaanku.
"Coba kamu beri contoh bahwa Tuhan itu Maha Pencipta dan Maha Baik!"Kataku mempersempit agar dapat dicerna.
  "Allah menciptakan manusia dan segala mahluk hidup."Kata Anya sambil memaikan jari-jarinya
"Terus!"Selaku tidak sabar
"Kalau Allah itu Maha Baik,  kita diberi hidup."Kata Anya tidak percaya diri
"Coba beri saya contoh kalau Allah itu memberi hidup?"Kataku sambil tersenyum
Anya hanya memainkan tari-jarinya dan mengoyang-goyangkan badannya.
"Nya, ayahmu setiap hari bekerja menjadi sopir dan mengantar bosnya kesana-kemari. Dari hasil kerja itu ayahmu mendapat uang, kemudian uang itu dibelikan beras dan sayuran untuk makan kamu sekeluarga. Ketika kamu sekeluarga bisa makan, itu artinya Tuhan Maha Baik. Tuhan memberi rejeki melalui pekerjaan ayahmu."Kataku hati-hati
"Kamu bisa menangkap apa yang saya maksud Tuhan itu Maha Baik!"Kataku sambil tersemyum
"Iya kak!"Jawab Anya sambil tersenyum. Melihat Anya tersenyum aku merasa lega setidaknya dia dapat menangkat apa yang aku jelaskan.
"Nya, kamu tahu kalau ayahmu menyanyangi kamu?"Tanyaku lagi
""Iya."Jawab Anya penuh percaya diri
"Contohnya apa Nya?"Tanyaku lagi
"Saya selalu diperhatiin, diajak jalan-jalan, suka di ajak makan. Pokoknya bayak deh kak!"Kata Anya dengan mata berbinar-binar
"Nah, dari rasa sayang ayahmu itu, merupakan  sedikit dari wajah Tuhan. Tuhan yang baik."Kataku tersenyum.
"Oh gitu .... he ... he ...saya baru tahu .. "Kata Anya sambil tertawa girang.

(Anya anak SD kelas 5)

Kamis, 07 Juli 2011 | posted in | 1 comments [ More ]

Kali ini tanpa Candra ....

Pergi ke pameran buku IKAPI beberapa hari lalu menjadi berbeda seperti tahun sebelumnya. Berbeda? Ya berbeda. Menurut seorang teman perpedaan itu secara tegas dikatakan sebagai 'Kepekaan Gender'. Tanpa Candra. Jika ingat hal itu suka tertawa seorang diri. Pergi ke pameran buku dengan anak-anak putri.Pagi-pagi sekali sekitar pukul 06.00 Anya, Putri, Fadlah, dan Iis sudah hadir dihalaman Sanggar.
"Kak .... kak ..... kak .... bangunn .... udah sianggg ...."Teriakan cempreng Anya dan Putri sudah cukup memekakkan telingaku. Apalagi itu dilakukan berulang-ulang, karena dari lantai atas tidak terdengan jawaban. Aku yang baru menikmati tidur sekelebatan mesti harus bangun dan memperlihatkan diri dilantai atas kepada anak-anak.
"Ya, saya sudah bangun."Kataku sambil melihat lima anak putri sudah siap pergi ke pameran.
"Sudah sarapa belum?"Kataku kepada lima anak dibawah
"Udaaah .... ! Cepetan, katanya pagi-pagi?"Kata Putri dengan suara cempreng ditamban Sasa juga ikut-ikutan teriak.
"Sasa, sorry ya kamu enggak saya ajak he .. he .. he .."Kataku meledek Sasa dan dibalas dengan ekspresi meledek khas Sasa, dengan memanjangkan wajahnya sambil melet-meletkan lidahnya. Kemudian Sasa lari menemui Dara. Aku lihat Sasa ingin ikut juga dengan yang lainnya tapi terlalu kecil jika ikut kepameran. Kecuali ada pendamping lain selain aku.
Kemudian aku membukakan pintu Sanggar dan mulai mempersiapkan diri untuk pergi.
"Serius nih, semua sudah makan?"Kataku lagi memastikan
"Sudah kakakkk ....."Jawab Fadlah
"Ok, sebelum berangkat saya mau tanya? Siapa yang tidak membawa air minum?"Kataku lebih memastikan
"Kita bawa kakakkk.... "Jawan mereka bertiga. Seperti anak pramuka. "Takut enggak dikasih minum sama kak Budi ..."Sambung Fadlah ngeledek
"Ok. Kita berangkat!"Aku memberi perintah
Selama perjalanan dari Sanggar sampai Istora aku hanya memperhatikan mereka berempat sambil mendengarkan apa yang mereka obrolkan.
"Mereka seperti ibu-ibu arisan. Lucu :P"Kataku dalam hati
Ketika sampai di Stasiun mereka aku minta untuk berkumpul disatu titik (sebelah Mini Market) sementara aku membeli tiket.
"Kamu jangan kemana-mana. Disini aja dan jangan sampai menggangung orang lain yang lalu-lalang!"Pintaku sebelum membeli tiket di loket.
Setelah proses pembeliat tiket selesai dan ketika aku membalikkan badan, keempat anak itu sudah berada dibelakangku.
"Tadi saya bilang apa? Kamu cukup berdiri disana aja! Kamu menganggu orang yang mau berangkat kerja. Semua orang distasiun harus cepat-cepat!"Kataku jengkel
"Saya mau kencing ... "Kata Putri sambil menahan kencing
"Iya kak ... saya juga mau kencing."Kata Anya
"Ya sudah, sekarang kamu semua kemar kecil dulu. setelah itu baru kita menunggu kereta!"Usulku sambil menyerahkan uang empat ribu rupiah untuk membayar penjaga toilet.
Sesampainya di Istora, aku coba menghubungi seorang teman pendamping yang selalu membuat anak-anak ini bertanya-tanya. Setelah aku pastikan dia tidak ada dan seandainya ada apakah dia mau bertemu apa tidak, jika tidak lebih baik bersembunyi saja selama anak-anak berada dipameran. 
Setelah semuanya siap kami mulai start di ruang pameran aku biarkan mereka melihat-lihat sambil sekali-sekali membuka dan membaca buku sementara aku sambil mengawasi mereka aku  juga mulai melihat kemungkinan menemukan buku yang bagus untuk Bale Baca.
"Kak, bukunya maham bener!"Kata Putri keheranan sambil menumjukkan buku itu.
"Iya ya ... "Kataku meanggapiasal
""Buku ini mahal karena buku ini aslinya dari Inggris Put. Ketiak diterjemahkan oleh penerbit ..... harganya jadi mahal, karena penerbitnya harus membayar ke penerbit  buku ini berasal."Aku menjelaskan
"Oo .... gitu ya kak."Kata Putri sambil memperhatikan buku itu.
"Kak ... kak ... Budi, beli buku ini dong!"Kata Fadlah sambil menunjukkan satu buku tentang princess
"Memangnya buku 'Left The Flap Book' seperti ini kamu bisa menjaga. Ada banyak buku sejenis ini di Sanggar dan cepat rusak!"Kata menjelaskan
"Iya sih kak. "Kata Fadlah dengan nada datar
"Kamu cari-cari lagi aja yang lainnya. "kataku untuk menenangkan Fadlah, sambil aku menyerahkan buku tentang air.
Aku melihat Anya dan Putri sibuk mencari-cari buku yang menarik ditumpukan kotak buku. Sedangkan Iis sedang asik membaca buku Cinderalla.
"Kak ... saya mau kencing."Kata Fadlah tiba-tiba
"Saya juga kak ..."Sambung Putri dan yang lainnya juga ikut-ikutan.
Tidak terasa putar-putar di pameran sudah lebih dari empat jam lebih dan persediaan air anak-anak sudah habis. Ini pertanda mesti istirahat sambil mencari makan agar dapat energi baru.Setelah itu itu mereka berkeliling lagi satu putaran sambil sekali-sekali duduk di balkon. Balkon sesautu yang baru mereka lihat secara langsung.
"Ayo kita pulang. Kalau kesorean nanti kita bisa bareng dengan orang pulang kerja. Kereta pasti penuh."Kata mengusulkan
"Iya kak. Sudah capek ... "Kata Fadlah dan ketiga temannya.
Akhirnya kami melakukan perjalanan pulang ke Depok dengan Kereta Listrik.

Selasa, 05 Juli 2011 | posted in | 1 comments [ More ]

"Kak, saya seneng kalau lihat keluarga Culek!"

Aku dan Candra duduk dibawah pohon besar sambil menikmati matahari terbit. Tatapannya penuh dengan ekspresi, matanya tidak pernah diam selalu ada hal-hal yang menarik perhatiannya. Candra mencoba duduk sambil menyandarkan  badanya di sisi kiri badanku.
"Kak ...."Candra membuka pembicaraan
"Apaan Can!"Katakku menanggapi
"Saya seneng lihat keluarga Culek (Seorang bapak)."Candra melanjutkan pembicaraan
"Kenapa kamu senang dengan keluarga Culek?"Aku mencoba cari tahu
"Iya, kalau pagi Culek pergi kerja. Jujuk (Istri Culek) kerjanya masak sama ngurus Della. Coba bapak sama kayak gitu ya!"Kata Candra sambil menatap kedepan
"Loh, bukan bapak sama ibu sama dengan Culek dan Juju?"Kataku ingin tahu
"Enggak kak."Jawab Candra tidak setuju
"Memang kayak apa?"Tanyaku lagi
"Emak masih harus bantu bapak ngurusin kerjaan bapak, terus ngurusin Ica adik saya. Enggak kaya Cule."Candra membandingkan tapi kelihatan bingung
"Culek sayang sama Juju dan Della dan   enggak pernah berantem."Candra menjelaskan lebih jauh dari apa di lihatnya.
"Memang bapak ibumu gimana Can?"Tanyaku lagi ingin tahu
"Bapak galak. Suka berantem dan mukul emak. Saya sering dipukul sama bapak."Candra menjelaskan sambil menunduk kebawah dan tangannya mencabut rumput didepannya
"Oh .. ya ...?Kataku penasaran
"Saya takut sama bapak."Kata Candara masih menundukkan kepala sambil mencabut rumput didepannya.
"Memang kamu sehari dupukul berapa kali Can?"Kata terus mencari tahu
"Enggak setiap hari sih kak."Candra menjelaskan
"Setiap minggu?"Tanyaku lagi
"Hampir dua minggu sekali saya pasti dipukul sama bapak."Candra menjelaskan tapi kini tatapannya kosong. Dia tidak sedang  memandang sesuatu dikejauhan.
"Can, biasanya kamu di gebukin karena apa?"Aku tersus mencari tahu
Candra tidak menjawab dia kelihatan kebingungan mencari jawaban.
"Gini aja Can, kalau minta sesuatu enggak usah pakai nangis. Bisa jadi bapakmu marah karena hari ini dia enggak punya uang."Kataku mencoba menenangkan
"Bapak, kalau enggak ada emak pasti enggak punya uang."Kata Candra datar.
"Lah iya lah Can. Kan emak yang ngatur uang yang bapak cari!"Kataku mendudukkan posisi ibu.
"Yah... kak elo nggak tahu sih."Katanya datar
"Can. beberapa minggu lalu ibumu mencari kamu di sanggar karena ibumu hanya tahu kalau tidak pulang kamu pasti tidur di sanggar dan ternyata kamu tidur di warnet main PB"Kataku mencoba menghadapkan kelakan Candra. Candra hanya terdiam mendengar kejadian itu.
"Sekarang gini, saya usul sama kamu."Kata mencoba menenenagkan
""Apaan kak?"Candra memotong pembicaraanku
"Kamu boleh melawan dan tidak setuju dengan saya, tapi kamu mesti punya alasan. Kamu boleh juga memarahi saya jika saya berbuat salah. Kamu tidak mesti takut dengan saya!"Kataku memberi ruang yang berbeda dengan pengalaman Candra dirumah.
"Kan enggak sopan kak!"Kata Candra tidak setuju
"Dengan saya kamu boleh!"Kataku menyakinkan Candra. "Gimana?"Sambungku
Candra hanya tertawa membayangkan dirinya bisa melawan kak Budi.

Minggu, 03 Juli 2011 | posted in | 0 comments [ More ]

"Kak ... kita jadi kemping nggak?"

Selesai sholat isya, Fadlah, Putri, Anya, dan Iis bolak-balik nengok kekamarku. Matanya ingin mengatakan sesautu tapi tidak berani. Sesekali aku mendengar pembiraan mereka di ruang komputerr sebelah. Sepertinya mereka meminta Fadlah menjadi juru bicara mereka.
"Kak, kita mau tanya,. Boleh nggak"Fadlah memberanikan diri sambil memainkan jari-jari tangannya.
"Tadi kamu bilang kita? Siapa itu kita?"Kataku bertanya
"Maksudnya anak-anak. Gitu kak."Jawab Fadlah masih memainkan jari-jari tangannya
"Apa itu?"Tanyaku lagi
"Mau tanya, anak-anak jadi kemping nggak?"Tanya Fadlah perlahan
"Hmm ... kemping?"Kataku berlaga tidak tahu maksud mereka
""Iya kak, kan katanya kalau liburan sekolah mau kemping!"Suara Fadlah lebih berani
Aku perhatikan wajah anak-anak itu satu persatu mencoba mencari tahu siapa yang benar ingin berkemah.
"Iya Kak, kemping. Sayakan sudah kenaikan kelas."Kata Putri dengan suara memohon
"Iya kak ..."Kata Anya dengan rendah karena takut
"Saya mau tanya tentang satu hal"Kataku sambil memperhatikan wajah mereka
"Apa kak ... "Jawab mereka hampir bersamaan
"Environment Writing Project, sudah selesai belum?"Tanyaku
"Belum selesaikan. Saya baru tiga halaman."Kata Fadlah
"Saya baru satu halaman."Anya memotong pembicaraaan
"Kamu Put?"Tanyaku
"Belom .... kak ...."Kata Putri sambil tersenyum dipaksa
"Sekarang mana karangan itu. Saya mau lihat."Pintaku
Mereka bertiga langsung turun kelantai bawah mengambil buku tuliss yang biasa digunakan untuk kegiatan menulis. Kemudian mereka menunjukkan satu persatu dari tulisan itu.
"Ini sih bukan mengarang tapi menuliskan kembali"Kataku dalam hati
"Fadlah, Putri, Anya .... ini kamu mengarang apa? Ini namanya kamu menuliskan kembali dari buku cetak ini ke bukumu!"Kata sambil melihat mata Fadlah. Sementara Fadlah memainkan jari-jemarinya.
"Yang saya maksudkan, kamu bercerita tentang pengalamanmu tentang air! Selama sekian lama kamu saya ajak ke Situ, sungai, hutan. Nah, dari pengalaman itu  kamu bisa di jadikan bahan untuk kamu melnulis."Aku berusaha membantu Fadlah mengingatkan kegiatan tentang air.
"Saya mau tanya, kamu bisa tidak hidup tanpa air?"Tanyaku lagi
"Eee... nggak. "Jawab Fadlah ragu
"Loh .... kok kamu jawabnya enggak pasti!"Kataku sambil melihat mata Fadlah
"Kamu harus yakin dengan jawabnmu! Bahwa kamu tidak bisa hidup tanpa air! Memang kamu mandi pakai apa?Minum pakai apa? Mencuci bajumu pakai apa?"Kataku mencoba lebih detail
"Untuk yang lain mengerti maksud saya?"Sambungku
"Iya kak.!"Kata mereka yakin
"Nah sekarang kerjakan. Waktumu sampai saya pulang dari mengantar berkemah anak-anaknya teman-teman saya!"Kataku
"Jangan lupa tidak ada kemping kalau project itu tidak selesai dan tidak ada hadiah dari project itu! Sekarang setiap hari kamu kerjakan itu di Sanggar dan saya temani!"Kataku tegas.
"Mana enggak enak sih, lomba hadiahnya uang sekolah satu tahun! Mereka tidak tahu kalau orangtuanya selalu kesulitan keuangan untuk biaya sekolah mereka."Kataku dalam hati.

| posted in | 0 comments [ More ]

"Kak .... bangun .... udah siang....!"

"Kak ... kak .... bangun! Udah siang!"Teriak Fadlah berlulang-ulang dan suaranya memekikkan telinga dari luar sanggar.
"Ya ... ya ..."Jawabku dari atas
"Enggak boleh lihat orang seneng sedikit nih anak ..."Keluhku dala hati
Dengan mata masih setengah terbuka mencoba bangkit dari alam mimpi yang baru seperempat dialami.
"Kak, .... mau ngetik!"Kata Fadlah ketika pintu terbuka
"Ya ..."Jawabku masih susah membuka mata lebar-lebar
Fadlah langsung naik tangga sambil berlari dan Sasa mengikuti dibelakangnya sambil ketawa kecil melihat ekspresi wajahku yang bisa berarti lucu. Dengan cekatan saklar listri dicolokkan dan menghidupkan stabilizer dan mulai menyalakan computer.
Setelah menemani Fadlah sebentar aku kembali kekamarku untuk kembali meneruskan mimpi indah yang terpotong tapi tidak bisa.
"Fadlah, kamu sudah sarapan belum?"Tanyaku
"Belum Kak!"Jawab Fadlah
"Nih, saya ada kue!"Kataku sambil menyerahkan kue
"Terima kasih kak."Kata Fadlah sambil tersenyum sementara Sasa matanya berbinar-binar melihat kue itu.
"Dasar bocah"Kataku dalam hati
"Kak .... kak .... kak ...."Teriak seorang ibu
"Apaann ....."Jawabku
"Bangun atuh udah siang!"Suaranya menggoda
"Ini juga udah bangun!"Jawabku
"Apasih teriak-teriak. Enggak ada yang lebih mesra apa..."Jawabku menggoda sambil turun kelantai bawah untuk mulai bersih-bersih.

| posted in | 0 comments [ More ]

"Kak Budi, kenapa sih yang diajak selalu Candra?"Protes Fadlah

Pagi itu Candra kelihatan lebih semangat. Backpack sudah dipundaknya sambil bernyanyi-nyayi kecil.
"Kak ... Budi! Kak ... Budi!"Teriak Candra dari bawah
"Berisik! Kenapa mesti teriak-teriak!"Kataku kesal
Kemudia aku turun kebawah untuk membukakan pintu untuk Candra.
"Nanti kalau ada temanmu yang lain saya enggak enak!"Kataku protes
"Iya Kak!" Kata Candra kalem
Kemudian aku naik keatas untuk memeriksa beberapa perlengkapan sebelum packing terakhir
Sementara itu aku lihat Candra dari atas sedang berbicara dengan Fadlah (4 SD). Tidak lama kemudian Fadlah naik keatas untuk melihatku packing beberapa barang yang aku barus bawa ke hutan.
"Kak, kenapa sih kalau kakak pergi yang diajak selalu Candra?"Tanya Fadlah
"Akhh... akhirnya dia tanya!"Gumanku dalam hati
aku hanya tersenyum-senyum sebelum menjawab. Itu pertanyaan yang aku hindari karena aku belum pernah membawa anak putri. Kecuali dalam kegiatan yang banyak melibatkan banyak anak dan pastinya dalam kegiatan itu ada orang dewasa putri juga. Aku selalu ingin mengajak anak putri sama seperti aku mengajak Candra tapi tidak sesederhana itu. Anak putri dan putra dua hal yang berbeda untuk banyak hal dan itu akan mempengaruhi dalam komunikasi ketika pergi berdua. Idealnya ketika aku mau pergi dalam kelompok kecil mengajak orang dewasa putri juga. Itu untuk menemani anak putri, maksudnya supaya lebih mudah dalam berkomunikasi.
"Fadlah, lain kali saya akan ajak kamu. Nanti kalau ada teman saya (cewek) yang mau ikut, kamu bisa diajak"Kata menjelaskan. Sementara Fadlah hanya diam tapi kelihatan bingung. Dia hanya menyenderkan badannya di tembok pagar sambil mengesek-gesekkan badannya.
Pernah satu kali ketika mau membuat kartu nama, temanku memperhatikan design gambar kartu nama itu.
"Mas, kok gambarnya enggak ada anak perempuannya?"Kata temanku bingung
"Iya ... ya"Jawabku gamangak
Wes tak gawekke!"Kata temanku sambil mengambil gambar yang ada di laptopku
Kemudaian temanku membuat design dibagian belakang kartu nama itu dengan gambar perempuan. Tidal lama kemudian jadilah kartu nama dengan dua gambar gender - laki-laki dan perempuan.
Pada masanya di sanggar ada banyak anak putra dan  sangat sedikit anak putri dan sekarang ini anak putri lebih banyak dibandingkan anak putra!

| posted in | 0 comments [ More ]

"Nak, ... kamu jangan membuang sampah di lantai dong!"

Dua hari yang lalu ada seorang anak (Kelas 4 SD) datang kesanggar dan membawa makanan di ruang buku.
"Nak, kamu makan apa?"Tanyaku
"Jeruk Kak!"Kata anak itu sambil mengupas kulit jeruk
"Kamu tahu kalau di Taman Bacaan dilarang makan?"Tanyaku lagi perlahan-lahan
"He ... he ..."Tawa anak itu sambil keluar membuang kulit jeruk ditempat sampah
"Kak, saya boleh makan jeruknya diatas?"Pinta anak itu
"Boleh!"Kataku
Kemudian anak itu naik keatas sambil berlari. tidak lama kemuadian aku turun kelantai satu untuk mengambil sesuatu di dapur. Tiba-tiba kakiku menginjak sesuatu, lengket, kecil, dan licin. Aku ambil itu dan ternyata biji jerul. Aku langsung naik lagi keatas dan mengajak anak itu kebawah untuk mengajak dia melihat apa yang telah diperbuatnya.
"Coba kamu lihat, ini biji jeruk siapa?"Tanyaku menahan diri
"Biji jeruk Kak ..."Jawab anak itu sambil nyengenges
"Ayo ambil dan buang ditempat sampah!"Pintaku
Anak itu kemudian mengambil semua biji jeruk yang bertebaran dilantai dan membuang ke tempat sampah.
"Sudah Kak!"Kata anak itu sambil menuju lantai atas
"Lainkali jangan diulangi lagi ya!"Pintaku sambil mengikuti anak itu menaiki tangga
"Anak ini tidak lihat apa ya? Kan sanggar ini lantainya putih dan bersih. Hmm .... pantesan, rumah anak ini masih berlantai tanah"Gumanku dalam hati
Sudah dapat dipastikan anak yang berperilaku seperti itu di sanggar pasti dia jarang terlibat dalam dinamika anak-anak di sanggar. Pada awalnya anak-anak yang lain juga sama saja, membuang sampah seenaknya. Sekarang ini jauh baik. Termasuk bunga anggrekku tidak dipetik. :-)

| posted in | 0 comments [ More ]

"Hai nak sedang apa kamu ...?"

Pagi itu Tuhan jalan-jalan di pinggiran danau dan matanya tertuju pada seorang anak yang sedang menggambar sesuatu di tepi danau. Kemudian Tuhan menghampiri anak kecil itu dan berkata. “Hai Nak ... sedang apa kamu?” Kata Tuhan ingin tahu. “Aku sedang menggambar wajah Tuhan!” Anak itu menjelaskan. “Oh, ya ... “ Kata Tuhan sambil tersenyum. Tidak lama kemudian anak itu menunjukkan gambar itu pada Tuhan sambil tersenyum “Ini gambar wajah Tuhan ... “ Kata anak itu penuh semangat . Sementara Tuhan mengamati gambar anak itu dan Ia hanya melihat gambar danau yang dikelilingi oleh pohon-pohon besar, sementara dikejauhan terlihat beberapa orang sendang menjala ikan.  Disudut lain dari gambar itu air sungai itu mengairi sawah-sawah dan empang ikan dan sebagian air itu mengalir kesungai kecil.  Setelah melihat itu Tuhan hanya tersenyum sambil menyerahkan kembali gambar anak kecil itu.

| posted in | 0 comments [ More ]

Bamboo Leaf Gallery Photos