Hari ini minggu terakhir dari kegiatan akhir semester genap, berarti minggu depan tets segera akan dimulai. Tidak terlihat diwajah teman-teman Rachman yang kelihatan tegang karena hari itu tinggal didepan mata. tidak terkecuali Rachman. Sedang asik-asiknya Rachman bergurau dengan teman cewek satu kelasnya, tiba-tiba dia dikejutkan dengan hadirnya petugas tata usaha sekolah.
"Rachman, kamu dipanggil oleh ibu kepala sekolah!"Kata petugas tata usaha sambil menepuk-nepuk bahu Rachman.
"Ada apa pak?"Tanya Rachman diliputi kecemasan. Kemudian Rachman pergi menuju ruang kepala sekolah, yang pintunya tidak pernah ditutup kecuali ada pembicaraan khusus.
"Siang Bu ... Ibu panggil saya?"Tanya Rachman sambil memandangi wajah kepala sekolah dengan gusar.
"Duduk Rachman."kata kepala sekolah sambil tersenyum untuk mengurangi ketegangan di wajah Rachman.
"Rachman, kabarnya om kamu gimana?"Kepala sekolah membuka pembicaraan siang itu. Pernyaan yang langsung bisa ditangkap maksudnya oleh Rachman. Pertanyaan yang kalau bisa dihindari oleh Rachman.
"Baik Bu."Kata Rachman berusaha tetap tenang.
"Minggu depan kamu sudah test, dari catatan administrasi yang ibu terima dari tata usaha, kamu ada tunggakan empat bulan."Kata kepala sekolah merinci sambil menyodorkan catatan tunggakan biaya sekolah. Dari matanya Rachman kelihatan gelisah. Dia tidak tahu bagaimana harus menjelaskan keadaan yang sebenarnya.
"Bisa tidak, om kamu menyelesaikan segala tunggakan sebelum kamu test minggu depan?"Kata kepala sekolah lagi. Sementara Racman hanya menundukkan kepala sambil memainkan jari tangannya.
"Ini surat untuk om kamu. Besok saya tunggu siang hari."Kata kepala sekolah sambil menyodorkan surat kepada Rachman.
"Baik bu."Kata Rachman tidak semangat. Kemudian Racmanpun keluar dari ruang kepala sekolah kembali ke menemui teman-temannya.
"Ada apaan dipanggil kepala sekolah Man?"Tanya salah seorang temannya sambil senyum-senyum.
"Biasa, masih punya utang sama sekolah."Kata Racman sambil senyum-senyum serba salah. Tidak lama kemudian bel masukpun berbunyi dan semua murid SMK itu berhamburan masuk kekelas masing-masing. sementara Rachman pikirannya dipenuhi kegalauan. Dia tidak tahu mesti bagaimana mengatakan ini pada Jojo.
Jam lima sore Rachman menelusuri jalan kampung Lolongok yang ramai dengan orang tua sedang kongkow di depan beberapa rumah warga. Biasa sambil menunggu magrib biasanya mereka menghabiskan waktu untuk menyuapi anak-anaknya sambil ngerumpi mertuanya atau membicarakan beberapa teman pengajian yang selalu mengenakan baju bagus yang dibeli di pasar. Dari kejauhan Rachman melihat Jojo sedang bermain dengan beberapa anak di beranda rumah. Pikirannya dipenuhi dengan keraguan untuk membicarakan hasil pembicaraannya dengan kepala sekolah. Tapi surat itu harus disampaikannya tidak bisa tidak.
"Assalammuallaikum."Rachman memberi salam dari depan halaman sanggar.
"Waalaikum salam"Jawab anak-anak hampir serempak. Rachman mendekati Jojo sambil membawa surat dari kepala sekolah yang hendak disampaikan kepada Jojo.
"Kak, ini dapat surat dari sekolah. Senin minggu depan mau test. Kepala sekolah bilang semua tunggakan mesti dilunasi."Racman menjelaskan hasil pertemuannya dengan kepala sekolah sambil menyodorkan surat dari kepala sekolah ke Jojo.
"Taruh diatas komputer Man!"Kata Jojo meneruskan permainannya kembali bersama anak-anak. Rachman kembali kerumahnya untuk mandi sebelum kesanggar lagi.
"Kak ... saya ada PR, nanti ajarin ya ... "Kata Putri manja.
"Nanti Kak Racman aja yang mengajari kamu. Sehabis sholat magrib ya ... "Kata Jojo sambil bercanda guling-gulingan dilantai dengan Alim.
"Eh ... sudah magrib, kita berhenti dulu! Sekarang kamu semua pulang dulu. Nanti setelah sholat kita main lagi."Kata Jojo sambil melepaskan tangan anak-anak dari bajunya. Akhirnya mereka pulang semua dan sanggar seketika menjadi senyap dari kegaduhan anak-anak.
Selesai mengajarkan tiga anak menyelesaikan PR sekolah, Rachman duduk di tepi kolam sambil memandangi ikan didalam kolam. Matanya berusaha fokus pada satu ikan yang lebih besar dan matanya mengikuti kemana ikan itu bergerak. Rachman berharap malam ini dia mendapatkan uang untuk menyelesaikan tunggakannya disekolah. Dia sangat khawatir tidak bisa mengikuti test itu. Seakan-akan dunia akan kiamat jika dia tidak bisa mengikuti test semester akhir. Rachman menyadari jika dirinya tidak bisa mengikuti test berarti dia harus mengundurkan diri dan pindah sekolah. Pindah sekolah dikampunya itu yang terbayang dihadapannya. Sekolah yang tidak menarik bagi Rachman jika dibandingkan dengan tempat sekolahnya sekarang. Sekolah yang selama ini menjadi keinginannya. Disekolah itu memang Rachman belajar secara khusus tentang dunia grafika dan dari sekolah itu dia berharap bisa langsung bekerja.
"Kenapa sih, dulu kak Jojo banyak cerita soal sekolah garfika dan kenapa dia banyak bicara sial dunia grafis? dan kenapa pula dia memberi peluang sekolah itu?"Rachman berkecamuk didalam batinnya. Tiba-tiba dia terkejut ketika air dikolam bergolak.Sementara dari belakang Rachman Jojo yang sejak tadi memperhatikannya melemparkan batu kedalam kolam sekedar mengejutkan Rachman dari lamunannya.
"Man, ini uang terakhir yang saya miliki dan tidak ada lagi."Kata Jojo sambil menyerahkan uang untuk tunggakannya disekolah.
"Besok kakak makan dari mana?"Tanya Rachman merasa tidak tidak enak.
"Teanang aja, kemarinkan kak Mira membelikan persediaan beras sama mie instant."Kata Jojo dengan tenang untuk mengurangi rasa bersalah Rachman.
"Sudah sekarang belajar sana? Setelah itu tidur, besok jangan sampai kesiangan."Kata Jojo menyakinkan Rachman semuanya akan baik-baik saja tanpa uang sepeserpun.
Kemudian Rachman berjalan menju pintu pagar untuk menutup pintunya dan setelah itu dia masuk kedalam untuk mengambil buku pelajarnnya. Sementar Rachman belajar Jojo menghidupkan komputer untuk online. Jojo mesti membuka email dan memilah-milah mana yang harus dijawab segera dan mana yang tidak. Tidak terasa sudah jam satu dini hari. Jojo keluar dari kamar mendapati Rachman duduk tertidur. Di tangannya masih ada buku yang sedang dipelajarinya.
"Man, ... bangun. Tidur yang bener di kamar."Kata Jojo sambil mengguncangkan kaki Rachman. Guncangan itu tidak juga membangunkan Rachman. Akhirnya Jojo membiarkan Rachman pada posisinya seperti itu. Kemudian Jojo pergi keberanda sambil membawa kopi yang dibuat siang tadi dan rokok kiriman dari adiknya Jojo. Duduk dipinggir kolam sambil mendengarkan lagu-lagu Michael Franks cukup membawa Jojo kedua antah brantah. Pikirannya menjelajah menelusuri jalannya. Jojo teringat ketika Rachman baru memasuki sekolah lanjutan pertama, bagaimana Jojo bicara soal sekolah grafika dan dunia grafika serta kemungkinan untuk bisa sekolah di grafika. Dari dua puluh anak yang tumbuh bersama dengan Rachman di sanggar dengan mimpinya masing-masing akhirnya Rachman yang terbilang 'setia' dengan mimpinya. Rachman bukanlah anak yang pandai dibandingkan dengan teman-teman sebayanya, tapi justru Rachmanlah yang paling kelihatan lebih konsisten. Karena itu pulalah yang membawa Rachman bisa sekolah grafika, meski itu dibayar dengan perjuagan dan kerja keras. Tiba-tiba Jojo teringat kisah Raja Daud ketika dipilih oleh Tuhan untuk menjadi Raja Israel.
"Ah ....terlalu romantis! Ini pasti pengaruh Michael Franks."Pikir Jojo dalam hati sambil tersenyum-senyum sendiri.
"Rachman, kamu dipanggil oleh ibu kepala sekolah!"Kata petugas tata usaha sambil menepuk-nepuk bahu Rachman.
"Ada apa pak?"Tanya Rachman diliputi kecemasan. Kemudian Rachman pergi menuju ruang kepala sekolah, yang pintunya tidak pernah ditutup kecuali ada pembicaraan khusus.
"Siang Bu ... Ibu panggil saya?"Tanya Rachman sambil memandangi wajah kepala sekolah dengan gusar.
"Duduk Rachman."kata kepala sekolah sambil tersenyum untuk mengurangi ketegangan di wajah Rachman.
"Rachman, kabarnya om kamu gimana?"Kepala sekolah membuka pembicaraan siang itu. Pernyaan yang langsung bisa ditangkap maksudnya oleh Rachman. Pertanyaan yang kalau bisa dihindari oleh Rachman.
"Baik Bu."Kata Rachman berusaha tetap tenang.
"Minggu depan kamu sudah test, dari catatan administrasi yang ibu terima dari tata usaha, kamu ada tunggakan empat bulan."Kata kepala sekolah merinci sambil menyodorkan catatan tunggakan biaya sekolah. Dari matanya Rachman kelihatan gelisah. Dia tidak tahu bagaimana harus menjelaskan keadaan yang sebenarnya.
"Bisa tidak, om kamu menyelesaikan segala tunggakan sebelum kamu test minggu depan?"Kata kepala sekolah lagi. Sementara Racman hanya menundukkan kepala sambil memainkan jari tangannya.
"Ini surat untuk om kamu. Besok saya tunggu siang hari."Kata kepala sekolah sambil menyodorkan surat kepada Rachman.
"Baik bu."Kata Rachman tidak semangat. Kemudian Racmanpun keluar dari ruang kepala sekolah kembali ke menemui teman-temannya.
"Ada apaan dipanggil kepala sekolah Man?"Tanya salah seorang temannya sambil senyum-senyum.
"Biasa, masih punya utang sama sekolah."Kata Racman sambil senyum-senyum serba salah. Tidak lama kemudian bel masukpun berbunyi dan semua murid SMK itu berhamburan masuk kekelas masing-masing. sementara Rachman pikirannya dipenuhi kegalauan. Dia tidak tahu mesti bagaimana mengatakan ini pada Jojo.
Jam lima sore Rachman menelusuri jalan kampung Lolongok yang ramai dengan orang tua sedang kongkow di depan beberapa rumah warga. Biasa sambil menunggu magrib biasanya mereka menghabiskan waktu untuk menyuapi anak-anaknya sambil ngerumpi mertuanya atau membicarakan beberapa teman pengajian yang selalu mengenakan baju bagus yang dibeli di pasar. Dari kejauhan Rachman melihat Jojo sedang bermain dengan beberapa anak di beranda rumah. Pikirannya dipenuhi dengan keraguan untuk membicarakan hasil pembicaraannya dengan kepala sekolah. Tapi surat itu harus disampaikannya tidak bisa tidak.
"Assalammuallaikum."Rachman memberi salam dari depan halaman sanggar.
"Waalaikum salam"Jawab anak-anak hampir serempak. Rachman mendekati Jojo sambil membawa surat dari kepala sekolah yang hendak disampaikan kepada Jojo.
"Kak, ini dapat surat dari sekolah. Senin minggu depan mau test. Kepala sekolah bilang semua tunggakan mesti dilunasi."Racman menjelaskan hasil pertemuannya dengan kepala sekolah sambil menyodorkan surat dari kepala sekolah ke Jojo.
"Taruh diatas komputer Man!"Kata Jojo meneruskan permainannya kembali bersama anak-anak. Rachman kembali kerumahnya untuk mandi sebelum kesanggar lagi.
"Kak ... saya ada PR, nanti ajarin ya ... "Kata Putri manja.
"Nanti Kak Racman aja yang mengajari kamu. Sehabis sholat magrib ya ... "Kata Jojo sambil bercanda guling-gulingan dilantai dengan Alim.
"Eh ... sudah magrib, kita berhenti dulu! Sekarang kamu semua pulang dulu. Nanti setelah sholat kita main lagi."Kata Jojo sambil melepaskan tangan anak-anak dari bajunya. Akhirnya mereka pulang semua dan sanggar seketika menjadi senyap dari kegaduhan anak-anak.
Selesai mengajarkan tiga anak menyelesaikan PR sekolah, Rachman duduk di tepi kolam sambil memandangi ikan didalam kolam. Matanya berusaha fokus pada satu ikan yang lebih besar dan matanya mengikuti kemana ikan itu bergerak. Rachman berharap malam ini dia mendapatkan uang untuk menyelesaikan tunggakannya disekolah. Dia sangat khawatir tidak bisa mengikuti test itu. Seakan-akan dunia akan kiamat jika dia tidak bisa mengikuti test semester akhir. Rachman menyadari jika dirinya tidak bisa mengikuti test berarti dia harus mengundurkan diri dan pindah sekolah. Pindah sekolah dikampunya itu yang terbayang dihadapannya. Sekolah yang tidak menarik bagi Rachman jika dibandingkan dengan tempat sekolahnya sekarang. Sekolah yang selama ini menjadi keinginannya. Disekolah itu memang Rachman belajar secara khusus tentang dunia grafika dan dari sekolah itu dia berharap bisa langsung bekerja.
"Kenapa sih, dulu kak Jojo banyak cerita soal sekolah garfika dan kenapa dia banyak bicara sial dunia grafis? dan kenapa pula dia memberi peluang sekolah itu?"Rachman berkecamuk didalam batinnya. Tiba-tiba dia terkejut ketika air dikolam bergolak.Sementara dari belakang Rachman Jojo yang sejak tadi memperhatikannya melemparkan batu kedalam kolam sekedar mengejutkan Rachman dari lamunannya.
"Man, ini uang terakhir yang saya miliki dan tidak ada lagi."Kata Jojo sambil menyerahkan uang untuk tunggakannya disekolah.
"Besok kakak makan dari mana?"Tanya Rachman merasa tidak tidak enak.
"Teanang aja, kemarinkan kak Mira membelikan persediaan beras sama mie instant."Kata Jojo dengan tenang untuk mengurangi rasa bersalah Rachman.
"Sudah sekarang belajar sana? Setelah itu tidur, besok jangan sampai kesiangan."Kata Jojo menyakinkan Rachman semuanya akan baik-baik saja tanpa uang sepeserpun.
Kemudian Rachman berjalan menju pintu pagar untuk menutup pintunya dan setelah itu dia masuk kedalam untuk mengambil buku pelajarnnya. Sementar Rachman belajar Jojo menghidupkan komputer untuk online. Jojo mesti membuka email dan memilah-milah mana yang harus dijawab segera dan mana yang tidak. Tidak terasa sudah jam satu dini hari. Jojo keluar dari kamar mendapati Rachman duduk tertidur. Di tangannya masih ada buku yang sedang dipelajarinya.
"Man, ... bangun. Tidur yang bener di kamar."Kata Jojo sambil mengguncangkan kaki Rachman. Guncangan itu tidak juga membangunkan Rachman. Akhirnya Jojo membiarkan Rachman pada posisinya seperti itu. Kemudian Jojo pergi keberanda sambil membawa kopi yang dibuat siang tadi dan rokok kiriman dari adiknya Jojo. Duduk dipinggir kolam sambil mendengarkan lagu-lagu Michael Franks cukup membawa Jojo kedua antah brantah. Pikirannya menjelajah menelusuri jalannya. Jojo teringat ketika Rachman baru memasuki sekolah lanjutan pertama, bagaimana Jojo bicara soal sekolah grafika dan dunia grafika serta kemungkinan untuk bisa sekolah di grafika. Dari dua puluh anak yang tumbuh bersama dengan Rachman di sanggar dengan mimpinya masing-masing akhirnya Rachman yang terbilang 'setia' dengan mimpinya. Rachman bukanlah anak yang pandai dibandingkan dengan teman-teman sebayanya, tapi justru Rachmanlah yang paling kelihatan lebih konsisten. Karena itu pulalah yang membawa Rachman bisa sekolah grafika, meski itu dibayar dengan perjuagan dan kerja keras. Tiba-tiba Jojo teringat kisah Raja Daud ketika dipilih oleh Tuhan untuk menjadi Raja Israel.
"Ah ....terlalu romantis! Ini pasti pengaruh Michael Franks."Pikir Jojo dalam hati sambil tersenyum-senyum sendiri.



