| Mobile| RSS

Ketika Benih Mimpi Di Tabur .... !

Hari ini minggu terakhir dari kegiatan akhir semester genap, berarti minggu depan tets segera akan dimulai. Tidak terlihat diwajah teman-teman Rachman yang kelihatan tegang karena hari itu tinggal didepan mata. tidak terkecuali Rachman. Sedang asik-asiknya Rachman bergurau dengan teman cewek satu kelasnya, tiba-tiba dia dikejutkan dengan hadirnya petugas tata usaha sekolah.
"Rachman, kamu dipanggil oleh ibu kepala sekolah!"Kata petugas tata usaha sambil menepuk-nepuk bahu Rachman.
"Ada apa pak?"Tanya Rachman diliputi kecemasan. Kemudian Rachman pergi menuju ruang kepala sekolah, yang pintunya tidak pernah ditutup kecuali ada pembicaraan khusus.
"Siang Bu ... Ibu panggil saya?"Tanya Rachman sambil memandangi wajah kepala sekolah dengan gusar.
"Duduk Rachman."kata kepala sekolah sambil tersenyum untuk mengurangi ketegangan di wajah Rachman.
"Rachman, kabarnya om kamu gimana?"Kepala sekolah membuka pembicaraan siang itu. Pernyaan yang langsung bisa ditangkap maksudnya oleh Rachman. Pertanyaan yang kalau bisa dihindari oleh Rachman.
"Baik Bu."Kata Rachman berusaha tetap tenang.
"Minggu depan kamu sudah test, dari catatan administrasi yang ibu terima dari tata usaha, kamu ada tunggakan empat bulan."Kata kepala sekolah merinci sambil menyodorkan catatan tunggakan biaya sekolah. Dari matanya Rachman kelihatan gelisah. Dia tidak tahu bagaimana harus menjelaskan keadaan yang sebenarnya.
"Bisa tidak, om kamu menyelesaikan segala tunggakan sebelum kamu test minggu depan?"Kata kepala sekolah lagi. Sementara Racman hanya menundukkan kepala sambil memainkan jari tangannya.
"Ini surat untuk om kamu. Besok saya tunggu siang hari."Kata kepala sekolah sambil menyodorkan surat kepada  Rachman.
"Baik bu."Kata Rachman tidak semangat. Kemudian Racmanpun keluar dari ruang kepala sekolah kembali ke menemui teman-temannya.
"Ada apaan dipanggil kepala sekolah Man?"Tanya salah seorang temannya sambil senyum-senyum.
"Biasa, masih punya utang sama sekolah."Kata Racman sambil senyum-senyum serba salah. Tidak lama kemudian bel masukpun berbunyi dan semua murid SMK itu berhamburan masuk kekelas masing-masing. sementara Rachman pikirannya dipenuhi kegalauan. Dia tidak tahu mesti bagaimana mengatakan ini pada Jojo.

Jam lima sore Rachman menelusuri jalan kampung Lolongok yang ramai dengan orang tua sedang kongkow di depan beberapa rumah warga. Biasa sambil menunggu magrib biasanya mereka menghabiskan waktu untuk menyuapi anak-anaknya sambil ngerumpi mertuanya atau membicarakan beberapa teman pengajian yang selalu mengenakan baju bagus yang dibeli di pasar.  Dari kejauhan Rachman melihat Jojo sedang bermain dengan beberapa anak di beranda rumah. Pikirannya dipenuhi dengan keraguan untuk membicarakan hasil pembicaraannya dengan kepala sekolah. Tapi surat itu harus disampaikannya tidak bisa tidak.
"Assalammuallaikum."Rachman memberi salam dari depan halaman sanggar.
"Waalaikum salam"Jawab anak-anak hampir serempak. Rachman mendekati Jojo sambil membawa surat dari kepala sekolah yang hendak disampaikan kepada Jojo.
"Kak, ini dapat surat dari sekolah. Senin minggu depan mau test. Kepala sekolah bilang semua tunggakan mesti dilunasi."Racman menjelaskan hasil pertemuannya dengan kepala sekolah sambil menyodorkan surat dari kepala sekolah ke Jojo.
"Taruh diatas komputer Man!"Kata Jojo meneruskan permainannya kembali bersama anak-anak. Rachman kembali kerumahnya untuk mandi sebelum kesanggar lagi.
"Kak ... saya ada PR, nanti ajarin ya ... "Kata Putri manja.
"Nanti Kak Racman aja yang mengajari kamu. Sehabis sholat magrib ya ... "Kata Jojo sambil bercanda guling-gulingan dilantai dengan Alim.
"Eh ... sudah magrib, kita berhenti dulu! Sekarang kamu semua pulang dulu. Nanti setelah sholat kita main lagi."Kata Jojo sambil melepaskan tangan anak-anak dari bajunya. Akhirnya mereka pulang semua dan sanggar seketika menjadi senyap dari kegaduhan anak-anak.

Selesai mengajarkan tiga anak menyelesaikan PR sekolah, Rachman duduk di tepi kolam sambil memandangi ikan didalam kolam. Matanya berusaha fokus pada satu ikan yang lebih besar dan matanya mengikuti kemana ikan itu bergerak. Rachman berharap malam ini dia mendapatkan uang untuk menyelesaikan tunggakannya disekolah. Dia sangat khawatir tidak bisa mengikuti test itu. Seakan-akan dunia akan kiamat jika dia tidak bisa mengikuti test semester akhir.  Rachman menyadari jika dirinya tidak bisa mengikuti test berarti dia harus mengundurkan diri dan pindah sekolah. Pindah sekolah dikampunya itu yang terbayang dihadapannya. Sekolah yang tidak menarik bagi Rachman jika dibandingkan dengan tempat sekolahnya sekarang. Sekolah yang selama ini menjadi keinginannya. Disekolah itu memang Rachman belajar secara khusus tentang dunia grafika dan dari sekolah itu dia berharap bisa langsung bekerja.
"Kenapa sih, dulu kak Jojo banyak cerita soal sekolah garfika dan kenapa dia banyak bicara sial dunia grafis? dan kenapa pula dia memberi peluang sekolah itu?"Rachman berkecamuk didalam batinnya. Tiba-tiba dia terkejut ketika air dikolam bergolak.Sementara  dari belakang Rachman Jojo yang sejak tadi memperhatikannya melemparkan batu kedalam kolam sekedar mengejutkan Rachman dari lamunannya.
"Man, ini uang terakhir yang saya miliki dan tidak ada lagi."Kata Jojo sambil menyerahkan uang untuk tunggakannya disekolah.
"Besok kakak makan dari mana?"Tanya Rachman merasa tidak tidak enak.
"Teanang aja, kemarinkan kak Mira membelikan persediaan beras sama  mie instant."Kata Jojo dengan tenang untuk mengurangi rasa bersalah Rachman.
"Sudah sekarang belajar sana? Setelah itu tidur, besok jangan sampai kesiangan."Kata Jojo menyakinkan Rachman semuanya akan baik-baik saja tanpa uang sepeserpun.
Kemudian Rachman berjalan menju pintu pagar untuk menutup pintunya dan setelah itu dia masuk kedalam untuk mengambil buku pelajarnnya. Sementar Rachman belajar Jojo menghidupkan komputer untuk online. Jojo mesti membuka email dan memilah-milah mana yang harus dijawab segera dan mana yang tidak. Tidak terasa sudah jam satu dini hari. Jojo keluar dari kamar mendapati Rachman duduk tertidur. Di tangannya masih ada buku yang sedang dipelajarinya.
"Man, ... bangun. Tidur yang bener di kamar."Kata Jojo sambil mengguncangkan kaki Rachman. Guncangan itu tidak juga membangunkan Rachman. Akhirnya Jojo membiarkan Rachman pada posisinya seperti itu. Kemudian Jojo pergi keberanda sambil membawa kopi yang dibuat siang tadi dan rokok kiriman dari adiknya Jojo. Duduk dipinggir kolam sambil mendengarkan lagu-lagu Michael Franks cukup membawa Jojo kedua antah brantah. Pikirannya menjelajah menelusuri jalannya. Jojo teringat ketika Rachman baru memasuki  sekolah lanjutan pertama, bagaimana Jojo bicara soal sekolah grafika dan dunia grafika serta kemungkinan untuk bisa sekolah di grafika. Dari dua puluh anak yang tumbuh bersama dengan Rachman di sanggar dengan mimpinya masing-masing akhirnya Rachman yang terbilang 'setia' dengan mimpinya. Rachman bukanlah anak yang pandai dibandingkan dengan teman-teman sebayanya, tapi justru Rachmanlah yang paling kelihatan lebih konsisten. Karena itu pulalah yang membawa Rachman bisa sekolah grafika, meski itu dibayar dengan perjuagan dan kerja keras. Tiba-tiba Jojo teringat kisah Raja Daud ketika dipilih oleh Tuhan untuk menjadi Raja Israel.
"Ah ....terlalu  romantis! Ini pasti pengaruh Michael Franks."Pikir Jojo dalam hati sambil tersenyum-senyum sendiri.

Kamis, 28 Juli 2011 | posted in | 0 comments [ More ]

Rongsokan.

Rumah baru, meski cuma kontrak bukan berarti tidak bisa membangun mimpi setinggi langit. Begitu kata pepatah. Rumah berarti membiarkan segala kemungkinan akan terjadi disana.  Rumah sebagai ruang publik anak bukan berarti juga menutup kemungkinan masyarakat akan datang dan berinteraksi disana bahkan lebih dari itu. Bisa jadi dianggap dari simbol perlawanan terutama  dari sesuatu yang mapan. Dirumah itu juga akan ada banyak gagasan bermunculan disamping  bagaimana menemani anak dalam memetakan dan membantu mewujudkan apa yang menjadi ketertarikkannya. Mimpi itu dimulai dengan dua unit komputer rongsokan sumbangan dari teman.  Benda mati itu akan menjadi benda tanpa makna. Tidak akan terjadi lompatan jauh kedepan  tanpa orang-orang  yang dapat membawa anak kedimensi yang jauh dikemudian hari dengan dua komputer rongsokan.

I am accustomed to sleep and in my dreams to imagine the same things that lunatics imagine when awake.  ( "Meditations on First Philosophy") - Rene Descartes.

Meski benda itu bisa dikatakan rongsokan tapi fungsinya masih ada meski tidak maksimal. melihat benda itu Yoan, Jojo, dan Mira membuat diskusi kecil dengan komputer bekas itu.
"Yoan, kita dikasih komputer bekas dari Mo Wisnu. Sekarang barangnya ada di sanggar."Mira memberi tahu Yoan dengan dengan gembira.
"Mana barangnya?"Tanya Yoan sambil mengikuti Mira dari belakang menuju kamar depan tempat komputer itu disimpan.
"Masih lumayan Mir, ..."Kata Yoan sambil mengamati komputer itu.
"Yo, sekarang kita mau diapakan benda ini?"Tanya Jojo melanjutkan pembicaraan.
"Kalau  lihat dalamnya sih masih lumayan,  yang penting masih berfungsi meski jauh dari kata maksimal"Yoan menjelaskan sambil membongkar-bongkar komputer.
"Elo lebih tahu lah Yo, tentang barang itu dan pengalaman loe kan enggak jauh dari benda itu!"Kata Mira menegaskan pernyataan Yoan.
"Sekarang kita buat program apa selain mengetik? Bagaimanapun dikampung ini anak-anak belum menganal komputer. Mungkin sering mendengar namanya tapi belum pernah menggunakan."Tanya Jojo mencoba lebih kritis.
"kita bagi tugas aja! Jojo ngarin menulis dengan komputer dan elo Yo ngajarin program yang ada hubungannya sama komputer."Kata Mira mencoba memecah fokus untuk setiap kegiatan.
"Bisa sih ...  gue akan coba ngari anak untuk membongkar dan merakit kembali komputer ini dan harus hidup!"Yoan merinci apa yang dilihatnya dengan komputer rongsokan itu.
"Kapan kita bisa mulai dengan kegiatan merakit komputer?"Kata Mira tidak sabar.
"Hari minggu pagi bisa dimulai. Cuma kita batasi setiap kegiatan untuk dua orang! Ini akan memakan banyak waktu."Yoan mencoba memberikan kepastian.
Lebih dari satu jam pembicaraan itu dan akhirnya didapakan kepastian mau diapakan komputer rongsokan itu.

Hari terus berganti, minggu berganti minggu, dan bulan berganti bulan. Akhirnya ada banyak anak yang bukan saja dapat menggunakan komputer  tetapi lebih dari itu. Ada proses kreatif yang membuat anak lebih suka berjam-jam didepan komputer hanya untuk membuat film animasi sederhana. meski juga sekali-sekali mereka menggunakannya untuk bermain games. Tidak terbayangkan ketika mereka memulai itu tidak  banyak sekolah di sekitar kampung mereka memiliki komputer.  Betapa mereka menjadi keheranan banyak guru ketika anak-anak mulai belajar komputer disekolah di lanjutan pertama. Ada banyak pertanyaan untuk itu karena mereka memiliki kemampuan jauh dari teman-teman lainnya yang sama sekali belum pernah belajar komputer. Itu pula yang akhirnya menarik banyak anak-anak seusia lanjutan pertama datang ke sanggar hanya untuk belajar komputer. Konsekuensinya ketika beberapa anak sudah lebih baik mengenal teknologi itu, mereka mulai pergi ke warnet, meski jauh toh mereka sekali-sekali melakoni itu karena ketertarikannya sudah melebihi. Tidak jarang juga Mira membuat program khusus belajar internet di warnet meski jauh dari kampung dengan beberapa anak yang sudah terbiasa dengan anak-anak yang belum mengerti sama sekali. Bukan hanya sekedar tahu tetapi mereka belajar untuk itu secara khusus.  Kini dikampung Lolongok sudah masuk peradapan teknologi itu. sementara anak-anak kini sudah besar dan bekerja dari mimpinya bersentuhan dengan komputer.

Rabu, 27 Juli 2011 | posted in | 0 comments [ More ]

Rumah

Dua tahun sudah Jojo dan Mira aktif mendampingi anak-anak di Kampung Lolongok dibantu dengan beberapa teman, ada banyak hal yang dilihat oleh mereka berdua.  Meski mereka memulai kegiatan pendampingan setiap minggu pagi sampai sore tapi kini mereka mulai berpikir untuk menyewa sebuah rumah yang bisa dijadikan base dari proses pendampingan. Entah bagaimana datangnya pikiran itu, karena untuk menyewa sebuah rumah tentunya dibutuhkan biaya dan mereka tidak punya uang untuk itu. Akhirnya mereka menceritakan rencana itu kepada seorang teman yang kebetulan seluruh hidupnya dipersembahkan untuk Tuhan dan kini menjadi dosen di Sastra Cina UI. Kami memanggilnya dengan sebutan Romo Bowo.   Pagi ini kami janjian bertemu dikantornya untuk membicarakan rencana itu.  Kemudian  mereka menceritakan tentang rencan menyewa sebuah rumah untuk ruang publik anak.
“Jo, sewa rumah satu  tahun berapa?”Tanya Romo Bowo serius.
“Tiga setengah juta Mo!”Jawab Jojo.
“Murah itu. Coba nanti saya coba bicara dengan beberapa teman. Siapa tahu mereka bisa bantu.”Romo Bowo menjelaskan.
“Lalu untuk membayar listrik dan telephone?”Tanya Romo Bowo lagi.
“Untuk start awal saya pikir tidak membutuhkan biaya Mo. Di rumah  dampingan belum ada komputer. Soal telephone berapa biayanya saya belum bisa memastikan.”Jawab Jojo.
“Sampai tiga ratus ribuan sebulan!”Tanya Romo Bowo lagi.
“Saya pikir itu dicukup-cukupkan.”Jawab Jojo yakin.
“Kamu sudah bicara dengan Romo Wisnu  soal ini?”Tanya Romo Bowo sambil memandang wajah Jojo serius.
“Sudah Mo! Malah saya diminta untuk membicarakan ini sama Romo Bowo dulu, nanti Mo Wis akan membantu!”Jojo menjelaskan.
“Ya sudah kalau begitu. Kamu tunggu kabar dari saya.”Kata Romo Bowo serius.
“Baik Mo. Kami pamit. Terima kasih ya Mo.”Kata Jojo sambil tersenyum.
“Iya Jo ...”Kata Romo Bowo sambil memperhatikan Mira dengan mata jail.

Satu minggu kemudian ada seorang teman yang kebetulan bekerja di Panin Bank , memberi tahu tentang kegiatan perayaan natal untuk komunitas karyawan dan menawarkan Jojo untuk mencarikan pastor untuk memimpin misa.
“ Jo, ... kamu bisa carikan pastor untuk misa natal komunitas karyawan di Jl. Sudirman?”Tanya Jacob.
“Bisa Mas!”Jawab Jojo.
“Nanti dalam acara itu saya bisa perkenalkan kamu dengan seorang teman namanya Merry, siapa tahu dia bisa bantu kegiatan anak-anak yang kamu kelola.”Jacob menjelaskan.
“Boleh Mas .... he .. . he ...”Kata Jojo girang.
“Kapan kamu akan kasih kabar ke saya tentang pastor itu?”Tanya Jacob lagi
“Besok siang, saya akan memberi kabar ke Mas Jacob!”Kata Jojo penuh keyakinan.
Sore itu juga Jojo segera menghubungi Mo Wis untuk  mau memimpin misa di perayaan natal komunitas karyawan  Sudirman.
“Hallo Mo ... “Kata Jojo diujung telephone.
“Sore ... apa?”Kata Mo Wis
“Mo mau ya mimpin misa natal untuk komunitas karyawan Sudirman?”Kata Jojo setengah merajuk.
“Kapan?”Tanya Mo Wis lagi.
“Minggu depan Mo.”Kata Jojo.
“Bisa Mo . ...”Kata Jojo merajuk.
“Iya.”Jawab Mo Wis menyanggupi.
“Nanti saya ditemani misa ketempatnya .. Jo.”Kata Mo Wis
“Ok Mo.”Kata Jojo girang, seperti anak kecil diberi permen.
Dan Jojo segera memberi tahu Mas Jacob  tentang kesanggupan Mo Wis memimpin perayaan misa natal untuk karyawan.   Jojo menceritakan kabar menggembirakan itu ke Mira dan mereka gembira dan takjub. Akhirnya pendampingan anak bisa punya harapan mengontrak rumah.

Satu minggu setelah misa perayaan natal Romo Bowo menghubungi Jojo untuk memberi kabar tentang temannya di Amerika mau membantu kegiatan pendampingan.
“Jo ... teman saya mau membantu dan sudah kirim uang untuk itu.”Kata Romo Bowo di ujung telephone.
“Iye Mo .... “Kata Jojo tidak percaya.
“Iye ... “Kata Romo Bowo sambil ngeledek Jojo.
“Besok kamu bisa ambil kerumah.”Kata Romo Bowo.
“Ok Mo ...”Kata Jojo kegirangan.
“Terima kasih ya Mo ... “Kata Jojo
“Besok kamu kewarnet dan kirim ucapan terima kasih untuk teman saya. Nanti kamu saya beri alamat emailnya. Tapi kamu jagan ngangguin dia ya . karna dia seorang ibu. “Kata Romo Bowo ngeledek.
“He ... he ...”Jojo hanya bisa tertawa diledek Romo Bowo.
Akhirnya anak-anak bisa punya tempat meski harus menyewa, tapi itu sudah lebih dari cukup. Sekarang bagaimana rumah yang tidak menarik itu menjadi kelihatan menarik dan mulailah Jojo membeli tanaman dan menjadikan rumah yang gersang menjadi astri, hingga setiap orang yang lewat di depan rumah itu akan tertarik dan datang. Dirumah kontrakan baru anak-anak akhirnya bisa belajar komputer dan ini sesuatu  yang baru untuk anak-anak di Kampung Lolongok.  Dari rumah itu juga ada banyak mimpi menjadi dan menjadi kenyataan.  Ada seorang ibu bertanya pada Jojo.
"Apakah kamu selalu punya uang untuk membayar sewa ?"Tanya Bu Jessy.
"Tidak mesti."Jawab Jojo
"Apakah kamu pernah tidak bisa membayar sewa rumah untuk kegiatan anak?"Tanya Bu Jessy penasaran
"Belum pernah."Jawab Jojo serius.
Bu Jessy tersenyum  mendengar jawaban Jojo yang apa adanya.

Senin, 25 Juli 2011 | posted in | 0 comments [ More ]

Kampung Lolongok

Deru angin menerpa daun bambu selalu menyanyikan lagu tentang kedamain jiwa, tak ubahnya kidung pujian pada Sang Khalik.  Bahkan  sengatan terik mentari tidak dapat menembus  warga Kampung Lolongok.    Hampir seluruh kampung ditumbuhi  pohon bambu, karena pada siang hari tanaman melakukan fotosintesis yang  menyerap karbondioksida (CO2) dan melepaskan oksigen (O2) sehingga membuat udara di Kampung Lolongok menjadi segar.  Itu mengapa warga Kampung Lolongok  enggan pergi meninggalkan kampungnya,  mereka cukup dengan hidup menggarap kebun dan makan dari apa yang mereka tanam.  Perputaran uang nyaris tidak ada,  karena  kampung memenuhi apa yang dubutuhkan oleh warga kampung, kecuali beberapa kebutuhan yang mesti didapat dipasar . Ini berlangsung sejak dari jaman leluhur mereka. Kesederhanaan dan kesahajaan Kampung Lolongok bisa dilihat dari surau yang mereka miliki.   Semua bahan mereka dapatkan dari apa yang ada di kampung itu. Mereka akan ke surau pada waktu-waktu tertentu saja, biasanya warga kampung akan sholat tidak jauh dari tempatnya bekerja. Kadang mereka malukan itu di pinggiran sungai ciliwung yang jenih. Hingga Gusti Allah tidak perlu lagi mencatat setiap penyimpangan yang dilakukan oleh warga Kampung Lolongok, karena semua baik adanya.
10 km dari Kampung Lolongok, tepatnya di desa tetangga sedang melakukan bedol desa. Kata Pak Kepala Desa,  akan dibangun kota baru yang lebih bagus, jalanannya akan dibeton dan tidak becek pada musim hujan  dan disana akan dibangun pasar bagus, bukan seperti pasar yang selama ini mereka lihat yang becek dan bau.  Kabar itu sempat terdengar oleh warga Kampung Lolongok dan menjadi pembicaraan mereka. Ada banyak hal yang tidak dimengeri oleh warga kampung tentang pasar yang bagus. bagi mereka pasar sama saja becek dan bau terutama dimusim hujan. Bagi warga Kampung  Lolongok pasar tempat bukan sekedar tempat transaksi jual beli  untuk memenuhi kebutuhan harian sampai menjual hasil bumi sebelum dibawa kekota oleh tengkulak. Lebih dari itu pasar tradisional di Kampung Lolongok meruapakan  ruang publik dari beberapa kampung yang kebetulan berdekatan.    Bukan tidak mungkin disana juga terjadi pertemuan antar komunitas pengajian, saling bertukar informasi,  tempat saling bersilatulrahmi, dan sampai tempat menemukan jodoh.
Meski berita dari Kepala Desa tentang akan ada pembangunan kota baru didesa tetangga, tidak membuat warga Kampung Lolongok menjadi gamang. Mereka cukup membicarakan itu dalam pertemuan-pertemuan informal selesai sholat di surau atau selepas pengajian.  Mereka hanya takjub dan berusaha membayangkan akan jadi seperti apa desa tetangganya.  Warga Kampung Lolongok tetap hidup seperti biasanya sama sekali tidak terpengaruh tentang cerita kota yang baru. Bagi mereka hidup seperti yang selama ini mereka jalani sejak dari para pendahulunya pasar yang bau dan becek pada musim hujan termasuk berjalan kaki atau naik sepeda tua sebagai alat tranportasi jika pergi kepasar dan pohon bambu yang memberi kesejukan. Tanpa banyak protes semua selaras dengan kehendak Gusti Allah, karena semua sudah ditentukan oleh yang memberikan hidup dan sekarang  menjalani dengan hati penuh syukur dan tetap tawakal.  

Bamboo Leaf Gallery Photos