Dua tahun sudah Jojo dan Mira aktif mendampingi anak-anak di Kampung Lolongok dibantu dengan beberapa teman, ada banyak hal yang dilihat oleh mereka berdua. Meski mereka memulai kegiatan pendampingan setiap minggu pagi sampai sore tapi kini mereka mulai berpikir untuk menyewa sebuah rumah yang bisa dijadikan base dari proses pendampingan. Entah bagaimana datangnya pikiran itu, karena untuk menyewa sebuah rumah tentunya dibutuhkan biaya dan mereka tidak punya uang untuk itu. Akhirnya mereka menceritakan rencana itu kepada seorang teman yang kebetulan seluruh hidupnya dipersembahkan untuk Tuhan dan kini menjadi dosen di Sastra Cina UI. Kami memanggilnya dengan sebutan Romo Bowo. Pagi ini kami janjian bertemu dikantornya untuk membicarakan rencana itu. Kemudian mereka menceritakan tentang rencan menyewa sebuah rumah untuk ruang publik anak.
“Jo, sewa rumah satu tahun berapa?”Tanya Romo Bowo serius.
“Tiga setengah juta Mo!”Jawab Jojo.
“Murah itu. Coba nanti saya coba bicara dengan beberapa teman. Siapa tahu mereka bisa bantu.”Romo Bowo menjelaskan.
“Lalu untuk membayar listrik dan telephone?”Tanya Romo Bowo lagi.
“Untuk start awal saya pikir tidak membutuhkan biaya Mo. Di rumah dampingan belum ada komputer. Soal telephone berapa biayanya saya belum bisa memastikan.”Jawab Jojo.
“Sampai tiga ratus ribuan sebulan!”Tanya Romo Bowo lagi.
“Saya pikir itu dicukup-cukupkan.”Jawab Jojo yakin.
“Kamu sudah bicara dengan Romo Wisnu soal ini?”Tanya Romo Bowo sambil memandang wajah Jojo serius.
“Sudah Mo! Malah saya diminta untuk membicarakan ini sama Romo Bowo dulu, nanti Mo Wis akan membantu!”Jojo menjelaskan.
“Ya sudah kalau begitu. Kamu tunggu kabar dari saya.”Kata Romo Bowo serius.
“Baik Mo. Kami pamit. Terima kasih ya Mo.”Kata Jojo sambil tersenyum.
“Iya Jo ...”Kata Romo Bowo sambil memperhatikan Mira dengan mata jail.
Satu minggu kemudian ada seorang teman yang kebetulan bekerja di Panin Bank , memberi tahu tentang kegiatan perayaan natal untuk komunitas karyawan dan menawarkan Jojo untuk mencarikan pastor untuk memimpin misa.
“ Jo, ... kamu bisa carikan pastor untuk misa natal komunitas karyawan di Jl. Sudirman?”Tanya Jacob.
“Bisa Mas!”Jawab Jojo.
“Nanti dalam acara itu saya bisa perkenalkan kamu dengan seorang teman namanya Merry, siapa tahu dia bisa bantu kegiatan anak-anak yang kamu kelola.”Jacob menjelaskan.
“Boleh Mas .... he .. . he ...”Kata Jojo girang.
“Kapan kamu akan kasih kabar ke saya tentang pastor itu?”Tanya Jacob lagi
“Besok siang, saya akan memberi kabar ke Mas Jacob!”Kata Jojo penuh keyakinan.
Sore itu juga Jojo segera menghubungi Mo Wis untuk mau memimpin misa di perayaan natal komunitas karyawan Sudirman.
“Hallo Mo ... “Kata Jojo diujung telephone.
“Sore ... apa?”Kata Mo Wis
“Mo mau ya mimpin misa natal untuk komunitas karyawan Sudirman?”Kata Jojo setengah merajuk.
“Kapan?”Tanya Mo Wis lagi.
“Minggu depan Mo.”Kata Jojo.
“Bisa Mo . ...”Kata Jojo merajuk.
“Iya.”Jawab Mo Wis menyanggupi.
“Nanti saya ditemani misa ketempatnya .. Jo.”Kata Mo Wis
“Ok Mo.”Kata Jojo girang, seperti anak kecil diberi permen.
Dan Jojo segera memberi tahu Mas Jacob tentang kesanggupan Mo Wis memimpin perayaan misa natal untuk karyawan. Jojo menceritakan kabar menggembirakan itu ke Mira dan mereka gembira dan takjub. Akhirnya pendampingan anak bisa punya harapan mengontrak rumah.
Satu minggu setelah misa perayaan natal Romo Bowo menghubungi Jojo untuk memberi kabar tentang temannya di Amerika mau membantu kegiatan pendampingan.
“Jo ... teman saya mau membantu dan sudah kirim uang untuk itu.”Kata Romo Bowo di ujung telephone.
“Iye Mo .... “Kata Jojo tidak percaya.
“Iye ... “Kata Romo Bowo sambil ngeledek Jojo.
“Besok kamu bisa ambil kerumah.”Kata Romo Bowo.
“Ok Mo ...”Kata Jojo kegirangan.
“Terima kasih ya Mo ... “Kata Jojo
“Besok kamu kewarnet dan kirim ucapan terima kasih untuk teman saya. Nanti kamu saya beri alamat emailnya. Tapi kamu jagan ngangguin dia ya . karna dia seorang ibu. “Kata Romo Bowo ngeledek.
“He ... he ...”Jojo hanya bisa tertawa diledek Romo Bowo.
Akhirnya anak-anak bisa punya tempat meski harus menyewa, tapi itu sudah lebih dari cukup. Sekarang bagaimana rumah yang tidak menarik itu menjadi kelihatan menarik dan mulailah Jojo membeli tanaman dan menjadikan rumah yang gersang menjadi astri, hingga setiap orang yang lewat di depan rumah itu akan tertarik dan datang. Dirumah kontrakan baru anak-anak akhirnya bisa belajar komputer dan ini sesuatu yang baru untuk anak-anak di Kampung Lolongok. Dari rumah itu juga ada banyak mimpi menjadi dan menjadi kenyataan. Ada seorang ibu bertanya pada Jojo.
"Apakah kamu selalu punya uang untuk membayar sewa ?"Tanya Bu Jessy.
"Tidak mesti."Jawab Jojo
"Apakah kamu pernah tidak bisa membayar sewa rumah untuk kegiatan anak?"Tanya Bu Jessy penasaran
"Belum pernah."Jawab Jojo serius.
Bu Jessy tersenyum mendengar jawaban Jojo yang apa adanya.

Posting Komentar