Sore menjelang
magrib di rumah Emak Amah sudah
berkumpul beberapa ibu-ibu. Waktu yang pas untuk ngerumpi sambil menunggu
magrib. Mpok Iyah yang sejak tadi seperti sedang memikirkan sesuatu akhirnya
tidak tahan juga untuk mengatakan apa yang sedang dipirkannya.
“ngeliat
penyanyi di tipi (TV) resep banget, apalagi cewek-ceweknya cakep-cakep.” Kata
Mpok Iyah terpesona.
“Iya
.... orangnya putih-putih semua. Seneng
ngelihatnya!” Kata Mpok Fitri penuh semangat.
“Semua
artis sama penyanyi ditipi orangnya putih. Kok bisa ya?” Sambung Mpok Tuti
penuh rasa takjub.
“Kalau
enggak putih jelek, mana resep ditonton!.” Mak Amah menimpali.
“Iya,
gimana caranya ya supaya bisa putih kayak gitu?” Timpal Mpok Iyah.
“Saya
ditawarin pemutih sama seles pemutih tapi harganya mahal banget. Kepenget sih
beli tapi duitnya enggak cukup.” Kata Mpok Iyah dengan nada pasrah.
“Pakai
merek ini aja Mpok! Saya pakai ini muka saya lebih putih. Padahal baru pakai
dua bulan.”Mpok Tuti menjelaskan sambil menunjukkan pemutih dalam kemasan botol
plastik.
“Entar
malem deh saya beli.”Kata Mpok Iyah sambil memperhatikan kemasan pemutih
ditangannya.
“Biar
suami kita pada betah dan enggak ngelirik sama cewek yang putih.”Sambung Mpok
Iyah penuh harap.
“Saya
pakai pemutih kok enggak putih-putih juga. Padahal udah gonta-ganti merek
pemutih. “ Sambung Mpok Iyah penuh dengan kebingungan.
Perbincangan
semakin menarik diantar mereka, satu demi satu setiap artis yang dikenal dianalisa
dan dikatagorikan mana yang cantik dan tidak.
Hasilnya semua yang memiliki paras putih di katagorikan kata cantik sementara
yang tidak putih tidak cantik.
“Kemaren
malem, si Candra pas lagi nonton penyanyi dia minta badannya diputihin. Saya
jawab aja, kalau kamu mah mesti direndem baiklin (bayclean)” Cerita Mpok Iyah
sambil ketawa geli.
(brawidjaja)
