| Mobile| RSS

Air Pancuran.

Tahun 2002 ketika Daru dan teman-temannya masih duduk di sekolah dasar hampir dua minggu sekali pergi ke pancuran Cikambangan. Pancuran air yang merupakan ruang publik warga kampung berinteraksi ketika mereka muncuci pakaian, mandi, dan kegiatan lainnya. Waktu itu mata air mengalir cukup besar sehingga suaranya bisa terdengar dalam jarak 10 m. waktu itu dibagian atas pancuran air Cikambangan ditumbuhi oleh tanaman bambu yang cukup lebat dan menyerupai hutan bambu kecil. Dari tahun ketahun pancuran itu tidak pernah berubah debit air yang keluar, termasuk musim kemarah panjangpun air tetap berlimpah. Tidak ada istilah kekeringan air pada musim kemarau.

Tahun 2007 terdengar santer bahwa hutan kecil bambu dibeli oleh sebuah perusahaan pengembang perumahan. Cukup luas tanah yang akan menjadi lokasi perumahan itu. Ada rasa khawatir juga dibenak banyak orang yang peduli dengan keberadaan pancuran  ketika mendengar rencana itu. Apalagi ketika pancuran itu akan masuk wilayah perumahan, pastilah akan hilang atau berubah fungsinya. Sempat terdengar juga sumber air itu akan berubah kepemiikannya menjadi kepunyaan sebuah perusahaan air minum tidak jelas. Yang jelas mungkin sumber air itu akan segera menjadi sumber uang untuk perusahaan air minum dan dengan sendirinya merubah fungsi sosial pancuran itu.

Tahun 2009 pembangunan perumahan tampaknya sudah dimulai, ditandai dengan penebangan hutan bambu oleh pengembang. Hutan bambu yang dulu begitu sejuk di siang hari yang terik kini benar-benar menjadi daerah yang panas dan tidak lagi menjadi sumber kesejukan dimusim panas. Apa yang menjadi kekawatiran dari banyak orang sebagai pengguna pancuran itu mulai menampakkan gejalanya. Kini air pancuran itu mulai berkurang dan tidak sederas dulu. Sudah dapat dipastikan bahwa pengaruh perubahan fungsi hutan bambu menjadi perumahan akan membawa konsekuensi logis akan berkurangnya debit air pancuran dibawahnya.   Meskipun begitu masyarakat tetap menggunakan pancuran itu sebagai ruang publik warga kampung sambil melakukan pekerjaan sehari-hari.

Tahun 2011 pembangunan perumahan hampir selesai, dulu tanah terbuka diatasnya sudah ditutupi oleh perumahan dengan berbagai tipe dan jalan aspal perumahan. Semua limbah air dari perumahan itu dibuang ke kali Ciliwung yang kebetulan juga menjadi sumber air minum orang depok dan Jakarta. Jika musim hujan tibagot besar dari perumahan itu tidak saja membawa air tetapi juga sampah plastik. itu kebiasaan warga kebanyakan membuang sampah ke selokan air sebagai pembuangan sampah. Menyedihkan.  Air pancuranpun sudah semakin kecil dan suaranya tidak lagi dapat terdengar dari jauh. Rasa air itu juga ikut berubah. Itu menandakan ada perubahan komposisi kandungan di dalam air. Sekarang ini menunggu kapan air pancuran itu akan hilang untuk selamanya, tidak ada yang bisa diperbuat oleh warga kampung selain menunggu. Tak ada kesempatan untuk tetap menjaga air itu tetap tersedia sampai anak mereka beranak-pinak.

Cilawet.

Jumat, 23 September 2011 | posted in | 0 comments [ More ]

Bamboo Leaf Gallery Photos