"Kak .... kak ..... kak .... bangunn .... udah sianggg ...."Teriakan cempreng Anya dan Putri sudah cukup memekakkan telingaku. Apalagi itu dilakukan berulang-ulang, karena dari lantai atas tidak terdengan jawaban. Aku yang baru menikmati tidur sekelebatan mesti harus bangun dan memperlihatkan diri dilantai atas kepada anak-anak.
"Ya, saya sudah bangun."Kataku sambil melihat lima anak putri sudah siap pergi ke pameran.
"Sudah sarapa belum?"Kataku kepada lima anak dibawah
"Udaaah .... ! Cepetan, katanya pagi-pagi?"Kata Putri dengan suara cempreng ditamban Sasa juga ikut-ikutan teriak.
"Sasa, sorry ya kamu enggak saya ajak he .. he .. he .."Kataku meledek Sasa dan dibalas dengan ekspresi meledek khas Sasa, dengan memanjangkan wajahnya sambil melet-meletkan lidahnya. Kemudian Sasa lari menemui Dara. Aku lihat Sasa ingin ikut juga dengan yang lainnya tapi terlalu kecil jika ikut kepameran. Kecuali ada pendamping lain selain aku.
Kemudian aku membukakan pintu Sanggar dan mulai mempersiapkan diri untuk pergi.
"Serius nih, semua sudah makan?"Kataku lagi memastikan
"Sudah kakakkk ....."Jawab Fadlah
"Ok, sebelum berangkat saya mau tanya? Siapa yang tidak membawa air minum?"Kataku lebih memastikan
"Kita bawa kakakkk.... "Jawan mereka bertiga. Seperti anak pramuka. "Takut enggak dikasih minum sama kak Budi ..."Sambung Fadlah ngeledek
"Ok. Kita berangkat!"Aku memberi perintah
Selama perjalanan dari Sanggar sampai Istora aku hanya memperhatikan mereka berempat sambil mendengarkan apa yang mereka obrolkan.
"Mereka seperti ibu-ibu arisan. Lucu :P"Kataku dalam hati
Ketika sampai di Stasiun mereka aku minta untuk berkumpul disatu titik (sebelah Mini Market) sementara aku membeli tiket.
"Kamu jangan kemana-mana. Disini aja dan jangan sampai menggangung orang lain yang lalu-lalang!"Pintaku sebelum membeli tiket di loket.
Setelah proses pembeliat tiket selesai dan ketika aku membalikkan badan, keempat anak itu sudah berada dibelakangku.
"Tadi saya bilang apa? Kamu cukup berdiri disana aja! Kamu menganggu orang yang mau berangkat kerja. Semua orang distasiun harus cepat-cepat!"Kataku jengkel
"Saya mau kencing ... "Kata Putri sambil menahan kencing
"Iya kak ... saya juga mau kencing."Kata Anya
"Ya sudah, sekarang kamu semua kemar kecil dulu. setelah itu baru kita menunggu kereta!"Usulku sambil menyerahkan uang empat ribu rupiah untuk membayar penjaga toilet.
Sesampainya di Istora, aku coba menghubungi seorang teman pendamping yang selalu membuat anak-anak ini bertanya-tanya. Setelah aku pastikan dia tidak ada dan seandainya ada apakah dia mau bertemu apa tidak, jika tidak lebih baik bersembunyi saja selama anak-anak berada dipameran.
Setelah semuanya siap kami mulai start di ruang pameran aku biarkan mereka melihat-lihat sambil sekali-sekali membuka dan membaca buku sementara aku sambil mengawasi mereka aku juga mulai melihat kemungkinan menemukan buku yang bagus untuk Bale Baca.
"Kak, bukunya maham bener!"Kata Putri keheranan sambil menumjukkan buku itu.
"Iya ya ... "Kataku meanggapiasal
""Buku ini mahal karena buku ini aslinya dari Inggris Put. Ketiak diterjemahkan oleh penerbit ..... harganya jadi mahal, karena penerbitnya harus membayar ke penerbit buku ini berasal."Aku menjelaskan
"Oo .... gitu ya kak."Kata Putri sambil memperhatikan buku itu.
"Kak ... kak ... Budi, beli buku ini dong!"Kata Fadlah sambil menunjukkan satu buku tentang princess
"Memangnya buku 'Left The Flap Book' seperti ini kamu bisa menjaga. Ada banyak buku sejenis ini di Sanggar dan cepat rusak!"Kata menjelaskan
"Iya sih kak. "Kata Fadlah dengan nada datar
"Kamu cari-cari lagi aja yang lainnya. "kataku untuk menenangkan Fadlah, sambil aku menyerahkan buku tentang air.
Aku melihat Anya dan Putri sibuk mencari-cari buku yang menarik ditumpukan kotak buku. Sedangkan Iis sedang asik membaca buku Cinderalla.
"Kak ... saya mau kencing."Kata Fadlah tiba-tiba
"Saya juga kak ..."Sambung Putri dan yang lainnya juga ikut-ikutan.
Tidak terasa putar-putar di pameran sudah lebih dari empat jam lebih dan persediaan air anak-anak sudah habis. Ini pertanda mesti istirahat sambil mencari makan agar dapat energi baru.Setelah itu itu mereka berkeliling lagi satu putaran sambil sekali-sekali duduk di balkon. Balkon sesautu yang baru mereka lihat secara langsung.
"Ayo kita pulang. Kalau kesorean nanti kita bisa bareng dengan orang pulang kerja. Kereta pasti penuh."Kata mengusulkan
"Iya kak. Sudah capek ... "Kata Fadlah dan ketiga temannya.
Akhirnya kami melakukan perjalanan pulang ke Depok dengan Kereta Listrik.
on 6 Juli 2011 pukul 22.32
Provisiat Bro!
Posting Komentar