| Mobile| RSS

Mesin Cuci

Kamis, 04 Agustus 2011 | posted in | 0 comments

Pagi hari Bang Aziz pulang dengan mata kuyuk karena pekerjaan itu kini hidupnya dibalik, siang menjadi malam dan malam menjadi siang. Tapi apa mau dikata baginya cuma kesempatan waktu itulah dia bisa mendapatkan pekerjaan. seperti biasa Bang Aziz pulang kerumah dan tidak langsung tidur tetapi pergi kewarung untuk membeli beras tiga liter untuk makan hari ini sampai besok pagi dan kopi hitam untuk dirinya sebagai teman santai sambil ngopi.  Pagi ini merupakan hari yang membahagiakan dirinya. Dia mendapatkan uang  satu juta sebagai uang tunjangan hari raya. Sebagai buruh harian lepas tunjangan itu diluar ketentuan aturan dari kesepakatan kerja di tempatnya menggantungkan hidup yang telah dijalani lebih dari lima tahun.
"Bang nih kopinya."Sahut sang istri tanpa ekspresi.
"Tarok disitu!"Kata Aziz sambil menghisap rokok. Semua seperti biasa tidak ada yang istimewa.
"Ety, nih uang ... dari tempat kerjaan."Aziz memberikan amplop coklat kepada istrinya.
Dan Etypun membuka amplop itu dan menghitung jumlah uang didalam amp;ot itu.
"Satu juta Ziz>"Tanya istrinya sambil memandangi wajah Aziz  dengan tatapan menyelidik. Seperti biasa Aziz tidak menghiraukan tatapan Ety istrinya. Aziz sudah terbisa dengan tatapan itu.
"Wah, bisa beli mesin cuci perti punyanya Mpok Acih, lumayan enggak usah ngucek pakaian lagi... tapi masih kurang seratus ribu lagi? hmm ... pinjem sama Mpok Tiur."Ety berguman dalam hati. Tanda disadari Ety, Aziz yang sejak tadi memperhatikannya. Aziz selalu berusaha menahan diri untuk i bertanya pada istrinya. Sudah tidak ada lagi tenaga untuk itu.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali setelah mengantar kedua anaknya Ety pergi ketoko elektronik. Dipilihnya mesin cuci yang sesuai dengan uang yang dimilikinya. Setelah tawar-menawar akhirnya kesepakatan terjadi dan hari itu juga mesin cuci diantar ke rumah kontrakan Ety. Begitu bangganya Ety bisa membeli mesin cuci seperti milik Mpok Acih. Pikirannya dipenuhi dengan kebanggan bisa membeli dan memiliki mesin cuci itu. Sekarang dirinya sudah sama dengan para tetangganya yang lain. Kini Ety tidak perlu lagi merasa minder dengan tetangganya.
"Eh ... habo borong nih ... "Kata Mpok Acih ketika mobil pengantar mesin cuci melewati samping rumahnya.
"ini sih nggak borong Cih ... "Kata Ety dengan rasa penuh bangga sambil mlengos melihat kedepan jalan untuk memberi tahu mobil itu dimana harus berhenti.

Hampir satu bulan Ety hidup dengan mesin cuci, kini dia tidak perlu lagi mengucek dan mengilas setiap pakaian, kini dia  mencuci pakaian cukup tiga hari sekali. Ada banyak waktu luang dengan adanya mesin cuci itu dan dia bisa ngobrol dengan para tetangganya atau sekali-sekali pergi kerumah orangtuanya untuk ngobrol dengan adik kandungnya sambil menunggu anaknya selesai sekolah. Pembicaraan Ety tidak jauh seperti ibu-ibu kampung di pinggiran kota. Ibu-ibu yang selalu takjub dengan barang-barang elektronik yang banyak dimiliki oleh kaum urban yang tinggal di kampung Lolongok. Kaum urban di Kampung Lolongok suami dan istri harus bekerja untuk mimpi-mimpi keluarga mereka dikemudian hari.
"Aziz .... ziz .... bangun .... !"Ety menguncang-guncang badan suaminya.
"Apaan sih .... "Jawab Aziz enggan membuka matanya.
"Bulan ini kita mesti bayar listri hampir dua kali lipet dari bulan kemaren!"Kata Ety lagi kelihatan serba salah.
"Makanya dipikir dulu kalau mau beli mesin cuci!"Kata Aziz sebenarnya enggan mengatakan itu pada istrinya.
"Nah elu sih enak, enggak ngerain nyuci pakean sama ngurusin anak-anak!"Ety membela diri.
"Elo kan tahu setiap hari gue cuma dapat duit lima puluh ribu!Buat beli bensin sama makan gue aja di tempat kerjaan udah banyak, belom lagi buat masak sama jajan anak-anak! Elo pikir aja sendiri!"Aziz kelihatan tidak berdaya dan tidak tahu harus menjelaskan apa. Hanya itu yang di lakukan setiap harinya selama bertahun-tahun.
"Ngobyek apa kek Ziz? Buat cari tambahan, masak elo nggak bisa. "Ety terus mendesak Aziz yang masih ngantuk.
"Elo aja sana cari obyekan, ngapin kek sono! Minta ama babak loe!"Aziz kelihatan mulai terdesak.
"Elo laki apan sih, nggak bisa cari tambahan buat bayar listrik!"Ety terus mendesak Aziz.
"elo kan tahu kerjaan gue itu apaan dan elo juga tahu berapa duit gue! kenapa elu masih juga ngotot beli mesin cuci!"Kata Aziz bangkit berdiri sambil memandang tajam mata istrinya.
"Jual tuh mesin cuci, bikin susah laki aja!"Kata Aziz lagi menahan marah.
"Ya enggak bisa dong .... elo mau enaknye doang !"Ety merasa terpojok. Kemudian Aziz keluar rumah dan berusaha menghindari pertengkaran dengan istrinya.
"Pokoknya gue enggak mau tahu! Elo harus cariin duit buat bayar listri!"Ety bertambah emosi melihat Aziz keluar dari rumah dan kata-katanya mulai tidak teratur dan terkendali. Seperti miteliur.
"Plak."Aziz membalik sambil menampar isrtinya dan Etypun lari kerumah tetangganya sambil teriak minta tolong. Akhinya para tetangga kiri dan kanan berkumpul untuk melihat apa yang terjadi. Uwak Napi juga tidak ketinggalan datang dan melerai pertengaran itu.
"Kenape sih ...! udah pada tua masih aje ribut! enggak malu apa sama tetanga dan anak-anak!"Uwak Napi berusaha menenangkan pertengkaran itu.
"Ayo masuk! Udah punya anak dua kok ribut sih! Emangnye enggak bisa diomongin! Kapan mau jadi orang tua yang baik! Guw enggak mau denger ribut-ribut lagi dan belajar selesaiin masalah dan enggak pake pukul-pukulan!"Kata Uwak Napi sambil merangkul Aziz dan Ety.
"Udah nye gue balik dan elo selesain baik-baik."Uwak Napi mengulangi lagi kata-katanya dan berharap Aziz dan Ety bisa menyelesaikan persoalan itu dan Uwak Napi pun pamit pulang.

Gonzaga, 03/08/11

0 Responses So far

Posting Komentar

Bamboo Leaf Gallery Photos