Sejak usia empat tahun Jojo sudah mengenal Aldo. Anak laki-laki yang tinggal di belakang sanggar. Satu rumah kecil dengan ukuran 21/2 m x 6 m di huni oleh delapan orang, ayah, ibu, tiga anak putra dan 3 anak putri. Ruang tamu sekaligus ruang tidur, karena ruang tidur yang ada tidak mencukupi. Sedangkan dapur menjadi kamar mandi dan sumur didalamnya. Dapur untuk memasak pindah di luar rumah, samping rumah karena menggunakan kayu bakar. Kini ayah Aldo bekerja menjadi pemotong rumput di lingkungan perumahan. 5 km dari tempat tinggalnya. Sedangkan istrinya menjadi pekerja rumah tangga dilingkungan perumahan bersama dengan suaminya. Praktis sehari-hari anaknya tidak ada orang dewasa yang mengurusi. Anaknya yang paling besar, semenjak tidak bisa melanjutkan sekolah lanjutan pertaman kini juga harus bekerja menjadi buruh cuci pakaian di lingkungan perumahan yang sama dengan kedua orang tuanya. Anak yang kedua juga demikian meski ditempat yang berbeda. Meskipun demikian keluarga itu saling bahu membahu, tidak ada kata menyerah. Didepan rumah Aldo tinggal juga pamannya yang kehidupan ekonominya jauh lebih baik. Dengan dua angkot dan paman yang bekerja tetap membuat semuanya menjadi lebih pasti.
Ketika ada banyak anak seusia Aldo disekolahkan ke taman kanak-kanak, tidak untuk Aldo. Jawabanya jelas. Tidak ada uang untuk itu. Tidak sekolah tidak akan membuat Aldo dan keluarganya mati, tetapi tidak mendapatkan uang untuk makan Aldo dan keluarganya akan mati. Ada benarnya prinsip itu. Tidak keliru juga pemahaman itu menjadi sebuah keniscayaan. Aldo dan adik-adiknya tidak luput dari mata Jojo dan Daru. Setiap ada kesempatan mengajari Aldo dan adiknya mulai dari mewarnai sampai menulis dan membaca bahkan berhitung sekalipun itu dilakukan. Mengajak Aldo dan adiknya bukan perkara mudah, karena ketika anak itu melihat Daru atau Jojo mendekati anak itu langsung lari menjauh. Ini terjadi sampai berbulan-bulan. Akhirnya Jojo mulai sering berkunjung ke rumah Aldo untuk sekedar bincang-bincang dengan bapak dan ibunya, sampai akhirnya bisa mendekat dan bicara dengan Aldo. Sikap depensif Aldo bukan lahir karena rasa takut bertemu dengan orang lain tapi muncul dari sikap defensif orangtua yang seringkali merasa seringkali dipojokkan dengan ketidak berdayaannya menghidupi keluarga karena kemiskinan itu. Keberhasilan Daru dan Jojo mendekati dan membantu mendampingi Aldo dan adik-adiknya setidaknya bisa dikatakan memberikan hak Aldo dan adiknya sebagai hak anak untuk mendapatkan pendidikan. Hanya itu yang bisa dilakukan, kalau uang jelas tidak bisa karena sanggar bukan lembaga bagi-bagi uang. Tidak lebih dari pada memberi keseimbangan.
Setiap sore hari dan hari libur Daru selalu menyempatkan diri untuk mulai dengan kegiatan yang sangat sederhana. Menemani. Selama proses kegiatan itu Aldo tidak diperlakukan istimewa tapi bersama dengan teman-teman lainnya. Pada proses awal kegiatan mewarnai Aldo juga banyak diejek dengan teman-temanya yang lebih dahulu terlibat di sanggar. Pola mewarnai Aldo yang oleh teman-temanya dianggap aneh, misalnya satu gambar diwarnai dengan banyak warna akhirnya gambar itu tertutup oleh tumpukan warna. dan gambarnyapun hilang. Hanya warna gelap dari tumpukan warna-warna. Dua bulan prose itu dijalani dengan tekun oleh Daru dan hasilnyapun menggembirakan. Artinya warna itu ditempatkan pada bagian-bagian yang semestinya diwarnai dengan satu warna dan tidak lagi tertumpuk menjadi satu. Dengan perjalanan waktu Aldopun menjadi memiliki 'pengalaman sama' dengan teman-teman lainnya. terutama ketika dia harus mulai masuk sekolah dasar, tidak banyak mengalami kesulitan dalam membaca, menulis, dan berhitung. apalgsi menggabar. Kini Aldo tampil sebagai anak-anak pada umumnya. Meskipun untuk bisa sekolah dasar sanggar mesti support semua kebutuhan sekolahnya tapi itu bagian dari konsekwensi mengedepankan pendidikan anak akan hak mendapatkan pendidikan meski tidak bermutu nasional plus atau sekolah dasar favorite kampung Lolongok.
Ketika Aldo sudah kelas empat sekolah dasar dan tampil penuh dengan kepercayaan diri kuat akan dirinya. Kini coba dilepas dan pembiayaan sekolah diserahkan penuh keorangtuanya. Ada pertimbangan untuk itu, karena orangtuanya melihat peluang dibantunya Aldo untuk biaya pendidikan membuat tanggung jawab nya justru malah menggantungkan dengan menambah satu anaknya lagi. Peluang itu kini justru diambil oleh kader partai agama dan melalkukan kebalikan apa yang pernah dilakukan oleh Daru. Kini Aldo seperti orang asing, berpapasan dengan Darupun tidak seperti dulu yang pernah diajarkannya. Anak seperti komoditi yang bisa mendatangkan uang. Orangtua Aldo kini terbebas dari semua pembiayaan sekolah kedua anaknnya, berkat bantuan kader partai agama. Entah Aldo diajari apa disana.

Posting Komentar