| Mobile| RSS

Naomi Campbel Jadi Jelek ..... !


Sore menjelang magrib  di rumah Emak Amah sudah berkumpul beberapa ibu-ibu. Waktu yang pas untuk ngerumpi sambil menunggu magrib. Mpok Iyah yang sejak tadi seperti sedang memikirkan sesuatu akhirnya tidak tahan juga untuk mengatakan apa yang sedang dipirkannya.
“ngeliat penyanyi di tipi (TV) resep banget, apalagi cewek-ceweknya cakep-cakep.” Kata Mpok Iyah terpesona.
“Iya .... orangnya putih-putih semua.  Seneng ngelihatnya!” Kata Mpok Fitri penuh semangat.
“Semua artis sama penyanyi ditipi orangnya putih. Kok bisa ya?” Sambung Mpok Tuti penuh rasa takjub.
“Kalau enggak putih jelek, mana resep ditonton!.” Mak Amah menimpali.
“Iya, gimana caranya ya supaya bisa putih kayak gitu?” Timpal Mpok Iyah.
“Saya ditawarin pemutih sama seles pemutih tapi harganya mahal banget. Kepenget sih beli tapi duitnya enggak cukup.” Kata Mpok Iyah dengan nada pasrah.
“Pakai merek ini aja Mpok! Saya pakai ini muka saya lebih putih. Padahal baru pakai dua bulan.”Mpok Tuti menjelaskan sambil menunjukkan pemutih dalam kemasan botol plastik.  

“Entar malem deh saya beli.”Kata Mpok Iyah sambil memperhatikan kemasan pemutih ditangannya.
“Biar suami kita pada betah dan enggak ngelirik sama cewek yang putih.”Sambung Mpok Iyah penuh harap.  
“Saya pakai pemutih kok enggak putih-putih juga. Padahal udah gonta-ganti merek pemutih. “ Sambung Mpok Iyah penuh dengan kebingungan.
Perbincangan semakin menarik diantar mereka, satu demi satu setiap artis yang dikenal dianalisa dan dikatagorikan mana yang cantik dan tidak.  Hasilnya semua yang memiliki paras putih di katagorikan kata cantik sementara yang tidak putih tidak cantik.
“Kemaren malem, si Candra pas lagi nonton penyanyi dia minta badannya diputihin. Saya jawab aja, kalau kamu mah mesti direndem baiklin (bayclean)” Cerita Mpok Iyah sambil ketawa geli.

(brawidjaja)

Kamis, 08 Maret 2012 | posted in | 0 comments [ More ]

Air Pancuran.

Tahun 2002 ketika Daru dan teman-temannya masih duduk di sekolah dasar hampir dua minggu sekali pergi ke pancuran Cikambangan. Pancuran air yang merupakan ruang publik warga kampung berinteraksi ketika mereka muncuci pakaian, mandi, dan kegiatan lainnya. Waktu itu mata air mengalir cukup besar sehingga suaranya bisa terdengar dalam jarak 10 m. waktu itu dibagian atas pancuran air Cikambangan ditumbuhi oleh tanaman bambu yang cukup lebat dan menyerupai hutan bambu kecil. Dari tahun ketahun pancuran itu tidak pernah berubah debit air yang keluar, termasuk musim kemarah panjangpun air tetap berlimpah. Tidak ada istilah kekeringan air pada musim kemarau.

Tahun 2007 terdengar santer bahwa hutan kecil bambu dibeli oleh sebuah perusahaan pengembang perumahan. Cukup luas tanah yang akan menjadi lokasi perumahan itu. Ada rasa khawatir juga dibenak banyak orang yang peduli dengan keberadaan pancuran  ketika mendengar rencana itu. Apalagi ketika pancuran itu akan masuk wilayah perumahan, pastilah akan hilang atau berubah fungsinya. Sempat terdengar juga sumber air itu akan berubah kepemiikannya menjadi kepunyaan sebuah perusahaan air minum tidak jelas. Yang jelas mungkin sumber air itu akan segera menjadi sumber uang untuk perusahaan air minum dan dengan sendirinya merubah fungsi sosial pancuran itu.

Tahun 2009 pembangunan perumahan tampaknya sudah dimulai, ditandai dengan penebangan hutan bambu oleh pengembang. Hutan bambu yang dulu begitu sejuk di siang hari yang terik kini benar-benar menjadi daerah yang panas dan tidak lagi menjadi sumber kesejukan dimusim panas. Apa yang menjadi kekawatiran dari banyak orang sebagai pengguna pancuran itu mulai menampakkan gejalanya. Kini air pancuran itu mulai berkurang dan tidak sederas dulu. Sudah dapat dipastikan bahwa pengaruh perubahan fungsi hutan bambu menjadi perumahan akan membawa konsekuensi logis akan berkurangnya debit air pancuran dibawahnya.   Meskipun begitu masyarakat tetap menggunakan pancuran itu sebagai ruang publik warga kampung sambil melakukan pekerjaan sehari-hari.

Tahun 2011 pembangunan perumahan hampir selesai, dulu tanah terbuka diatasnya sudah ditutupi oleh perumahan dengan berbagai tipe dan jalan aspal perumahan. Semua limbah air dari perumahan itu dibuang ke kali Ciliwung yang kebetulan juga menjadi sumber air minum orang depok dan Jakarta. Jika musim hujan tibagot besar dari perumahan itu tidak saja membawa air tetapi juga sampah plastik. itu kebiasaan warga kebanyakan membuang sampah ke selokan air sebagai pembuangan sampah. Menyedihkan.  Air pancuranpun sudah semakin kecil dan suaranya tidak lagi dapat terdengar dari jauh. Rasa air itu juga ikut berubah. Itu menandakan ada perubahan komposisi kandungan di dalam air. Sekarang ini menunggu kapan air pancuran itu akan hilang untuk selamanya, tidak ada yang bisa diperbuat oleh warga kampung selain menunggu. Tak ada kesempatan untuk tetap menjaga air itu tetap tersedia sampai anak mereka beranak-pinak.

Cilawet.

Jumat, 23 September 2011 | posted in | 0 comments [ More ]

Ini Bukan Masalah Ikhlas!

Sore hari sambil menunggu buka puasa Jojo pergi kerumah Bang Aziz, bukan untuk berbuka puasa tapi hanya ingin berkunjung, sambil  ngobrol tentang anaknya yang paling besar. Di depan pintu Jojo melihat Bang Aziz sedang tidur-tiduran sambil nonton TV, sementara istrinya kelihatan sedang di dapur, mungkin sedang menyiapkan makanan buka puasa. Anaknya yang paling besar tidak tampak hanya yang paling kecil sedang bermain bersama anak tetangga.
"Assalammualaikum."Kata Jojo di depan pintu sambil memperhatikan suasana gelap di dapur. Seperti sinar lampu 10 w, yang hanya bisa menerangi sedikit ruang dapur.
"Wualaikumsallam. Masuk!"Sahut Bang Aziz langsung berdiri ketika mendengar suara Jojo dan sudah berdiri didepan pintu.
"Mau kemana udah rapih?"Bang Aziz memulai pembicaraan.
"Enggak kemana-mana. Cuma keabisa pakaian alakadarnya."Balas Jojo sambil  sambil mesem-mesem ngeledek Bang Aziz.
"Bisak aje ... Jojo ...."Bang Aziz tersenyum geli mendengar jawaban Jojo yang sekenaknya.
"Eh Jojo ..."Kata istri  Bang Aziz sambil jalan menuju beranda. Jojo hanya menolah sambil melemparkan senyum khas Jojo pada istri Bang Aizi.
"Jo ... buka puasa disini yah?"Kata Istri Bang Aziz sambil bangun dari duduknya hendak menuju dapur.
"Enggak usah! saya enggak puasa."Kata Jojo sambil memberi isyarat dengan tangannya.
"Serius nih .... Jo!"Istrinya Bang Aziz terus menawari Jojo sambil menuju dapur.
"Dibilang enggak usah!"Kata Jojo setengah berteriak.
"Mendingan sini kita ngobrol aja!"Kata Jojo sambil menepuk-nepuk lantai memberi isyaarat untuk duduk.
"Sebenarnya saya masih mau bantu biaya sekolah Fadlah .... tapi anak yang dibantu mesti rajin belajar dan saya tahu perkembangan anaknya. Itu bisa kalau anaknya sering ketemu sama saya."Kata Jojo hati-hati.
"Darul bisa jadi sekarang karena sering ketemu, kadang-kadang saya suka saya minta dia belajar sesuatu yang selama ini enggak pernah dipelajari disekolah. Itu terjadi waktu dia masih kelas satu SMP. Emang dia kebayang bisa sekolah grafika!"Jojo mencoba menjelaskan proses Darul  waktu masih sekolah SMP.
"Saya enggak ngerti maksud Kakak!"Kata istri Bang Aziz sambil mengerutkan alirsnya.
"Mpok, Darul sebelum tahu apa itu grafika dia saya kenalin dulu sama program-program komputer. Dari belajar itukan akhirnya dia tertarik, nah waktu dia tertarik itu saya kasih tahu bahwa ada sekolah yang namanya grafika! Dari sekolah grafika dia bisa kerja di percetakan atau kekerjaan yang masih ada hubungan dengan percetakan! Bisa juga wiraswasta buka percetakan sendiri. Kalau saya enggak deket mana tahu ketertarikan anaknya!"Jojo merinci prosesnya Darul ke istri Bang Aziz. Bang hanya Aziz manggu-mangut mendengar penjelasan Jojo.
"Sekarang gina aja, kalau kakak mau bantu bantu aja tapi ikhlas! enggak usah gini-gitu!"Kata Istri Bang Aziz tidak paham apa yang dijelaskan Jojo.
"Mpok, duit yang saya kasih buat bantu anak sekolah jangan sampe sis-sia dan enggak ada gunanya buat anak! Dengan uang itu anak bisa sekolah yang bener, jelas, dan lulus dari sekolah langsung bisa kerja. Bukan kerja cuma di kontrak 3 bulan setelah itu selesai tapi jadi karyawan tetap. Itu yang saya mau coba bantu anak Mpok!"Jojo menjelaskan dengan jengkel tapi dia sadar siapa yang sedang diajak bicara. Perlahan-lahan Jojo menjelaskan sekali lagi dan istri Bang Aziz hanya diam saja. Entah apa yang ada dipikiran istri Bang Aziz.
Tidak lama kemudian terdengan suara azan di TV dan musholah, waktunya buka puasa dan Jojopun pamitan pulang.

Minggu, 21 Agustus 2011 | posted in | 0 comments [ More ]

Biarkan Aja ... !

Selesai sholat tarawih bapak-bapak dan para pemuda kampung duduk-duduk di depan rumah Engkong Anda. Itu kebiasaan baru setelah ada seorang warga menyediakan lapangan tenis meja di halaman rumah Engkong Anda. Jojo yang sedang duduk-duduk di bagian belakang dapur Bang Jaul dikagetkan dengan suara pak Gomer dari belakang dan langsung duduk disebelah Jojo. Pak Gomer seorang bapak teman berbicara dengan Jojo, dan kebetulan sering memperhatikan anak-anak yang sering datang ke sanggar.
 "Jo, saya kok enggak lihat Candra? Biasanya bolak-balik ke sanggar!"Tanya Pak Gomer sambil memandangi wajah Jojo yang kelihatan diam saja.
"Biasa Pak. Namanya juga anak-anak. Kalau lagi jenuh hilang dan kalau bosan disana akan datang lagi ke sanggar."Kata Jojo sambil memperhatikan orang didepannya sedang bermain tenis meja.
"Memang sedang suka main dimana?"Pak Gomer tanya lagi.
"Di warnet depan."Jojo tidak bisa menghidari pertanyaan seperti itu.
“Main apa sih kok sampai betah begitu ya?” Pak Gomer bingung.
“Candra suka sekali main games online dan itu baru terjadi sekarang ini, dulu dia cukup puas dengan edu games di sanggar.”Jojo berusaha menjelaskan itu.
“Ada banyak anak juga suka permainan dikomputer termasuk anak bapak.”Sambung Jojo.
“Saya enggak ngerti games di komputer! Kadang saya suka nguping anak-anak cerita games ini dan itu.”Kata pak Gomer dingin.   

“Sekarang ini ada banyak anak sedang gandrung games point blank. Itu games perang -  Point Blank, sebuah Online First Person Shooting Game dengan tingkat realistik tinggi.
Biasanya dalam game online FPS akan terdapat dua buah kubu yang akan saling berhadapan, dalam Point Blank, kedua kubu tersebut adalah CT Force dan Free Rebels.”Jojo menjelaskan lebih jauh sambil mengamati pak Gomer yang kelihatan tidak tertarik.
“Ayo Pak Gomer main tennis meja.”Teriak Bang Oma dari depan rumah Engkong Anda sambil mengangkat bet tennis meja.
“Jojo nih enggak pernah main tenis meja...”Kata Pak Gomer ngeledek Jojo sambil menuju kelapangan tenis meja.  
Jojo hanya senyum-senyum sambil terus mengamati Pak Gomer mendekati Bang Oma.

Keesokan hari Jojo melihat beberapa anak putri yang sedang duduk-duduk di bawah pohon mangga. Entah apa yang dibicarakannya. Jojo mencoba mendekati mereka untuk mencari tahu kabar Candra.
“Nya, Candra dimana?”Tanya Jojo
“Biasa kalau jam segini ada di warnet ...”Jawab Anya sambil senyum-senyum.
“Kemaren saya ketemu Kak. Saya tanya kenapa enggak ke sanggar lagi, eh malah jawab lagi nyari cit (cheat). Saya enggak tahu apaan cit.”Kata Anya dengan tatapan serius.
“Oh .... cit ....  cara bermain gemes dengan curang. Biasanya pakai kode, kebetulan saya juga enggak pernah main games yang sering dimainkan Candra.”Jojo menjelaskan. Sementara Anya dan teman-temannya hanya diam dan tidak tahu mau menanggapi apa tentang cit itu.
“Ya sudah, biarkan aja, nanti juga bosen sendiri.”Kata Jojo sambil mengerlingkan matanya pada Putri yang sejak tadi melongok.
“Emang kakak mau kemana, kok sudah rapi?”Tanya Putri sambil mengamati pakaian yang dikenakan Jojo.
“Mau cari pacar ... “Kata Jojo sambil tertawa meledek Putri dan anak-anak itu juga tertawa terpingkal-pingkal mendengar jawaban Jojo yang nyeleh dimata anak-anak.
“Ih ... kakak tampangnya lucu .... “Kata Fadlah menambah durasi ketawa anak-anak yang ada di bawah pohon mangga.

Selasa, 16 Agustus 2011 | posted in | 0 comments [ More ]

Auk Ah Gelap ....!

Sejak usia empat tahun Jojo sudah mengenal Aldo. Anak laki-laki yang tinggal di belakang sanggar. Satu rumah kecil dengan ukuran 21/2 m x 6 m di huni oleh delapan orang,  ayah, ibu, tiga anak putra dan 3 anak putri.   Ruang tamu sekaligus  ruang tidur, karena ruang tidur yang ada tidak mencukupi. Sedangkan dapur menjadi kamar mandi dan sumur didalamnya. Dapur untuk memasak pindah di luar rumah, samping rumah karena menggunakan kayu bakar. Kini ayah Aldo bekerja menjadi pemotong rumput di lingkungan perumahan. 5 km dari tempat tinggalnya. Sedangkan istrinya menjadi pekerja rumah tangga dilingkungan perumahan bersama dengan suaminya. Praktis sehari-hari anaknya tidak ada orang dewasa yang  mengurusi. Anaknya yang paling besar, semenjak tidak bisa melanjutkan sekolah lanjutan pertaman kini juga harus bekerja menjadi buruh cuci pakaian di lingkungan perumahan yang sama dengan kedua orang tuanya. Anak yang kedua juga demikian meski ditempat yang berbeda. Meskipun demikian keluarga itu saling bahu membahu, tidak ada kata menyerah. Didepan rumah Aldo tinggal juga pamannya yang kehidupan ekonominya jauh lebih baik. Dengan dua angkot dan paman yang bekerja tetap membuat semuanya menjadi lebih pasti.

Ketika ada banyak anak seusia Aldo disekolahkan ke taman kanak-kanak, tidak untuk Aldo. Jawabanya jelas. Tidak ada uang untuk itu. Tidak sekolah tidak akan membuat Aldo dan keluarganya mati, tetapi tidak mendapatkan uang untuk makan Aldo dan keluarganya akan mati. Ada benarnya prinsip itu. Tidak keliru juga pemahaman itu menjadi sebuah keniscayaan. Aldo dan adik-adiknya tidak luput dari mata Jojo dan Daru. Setiap ada kesempatan mengajari Aldo dan adiknya mulai dari mewarnai sampai menulis dan membaca bahkan berhitung sekalipun itu dilakukan.  Mengajak Aldo dan adiknya bukan perkara mudah, karena ketika anak itu melihat Daru atau Jojo mendekati anak itu langsung lari menjauh. Ini terjadi sampai berbulan-bulan. Akhirnya Jojo mulai sering berkunjung ke rumah Aldo untuk sekedar bincang-bincang dengan bapak dan ibunya, sampai akhirnya bisa mendekat dan bicara dengan Aldo. Sikap depensif Aldo bukan lahir karena rasa takut bertemu dengan orang lain tapi muncul dari sikap defensif orangtua yang seringkali merasa seringkali dipojokkan dengan ketidak berdayaannya menghidupi keluarga karena kemiskinan itu. Keberhasilan Daru dan Jojo mendekati dan membantu mendampingi Aldo dan adik-adiknya setidaknya bisa dikatakan memberikan hak Aldo dan adiknya sebagai hak anak untuk mendapatkan pendidikan. Hanya itu yang bisa dilakukan, kalau uang jelas tidak bisa karena sanggar bukan lembaga bagi-bagi uang. Tidak lebih dari pada memberi keseimbangan.

Setiap sore hari dan hari libur Daru selalu menyempatkan diri untuk mulai dengan kegiatan yang sangat sederhana. Menemani. Selama proses kegiatan itu Aldo tidak diperlakukan istimewa tapi bersama dengan teman-teman lainnya. Pada proses awal kegiatan mewarnai Aldo juga banyak diejek dengan teman-temanya yang lebih dahulu terlibat di sanggar. Pola mewarnai Aldo yang oleh teman-temanya dianggap aneh, misalnya satu gambar diwarnai dengan banyak warna akhirnya gambar itu tertutup oleh tumpukan warna. dan gambarnyapun hilang. Hanya warna gelap dari tumpukan warna-warna. Dua bulan prose itu dijalani dengan tekun oleh Daru dan hasilnyapun menggembirakan. Artinya warna itu ditempatkan pada bagian-bagian yang semestinya diwarnai dengan satu warna dan tidak lagi tertumpuk menjadi satu. Dengan perjalanan waktu Aldopun menjadi memiliki 'pengalaman sama' dengan teman-teman lainnya. terutama ketika dia harus mulai masuk sekolah dasar, tidak banyak mengalami kesulitan dalam membaca, menulis, dan berhitung. apalgsi menggabar. Kini Aldo tampil sebagai anak-anak pada umumnya. Meskipun untuk bisa sekolah dasar sanggar mesti support semua kebutuhan sekolahnya tapi itu bagian dari konsekwensi mengedepankan pendidikan anak akan hak mendapatkan pendidikan meski tidak bermutu nasional plus atau sekolah dasar favorite kampung Lolongok.

Ketika Aldo sudah kelas empat sekolah dasar dan tampil penuh dengan kepercayaan diri kuat akan dirinya. Kini coba dilepas dan pembiayaan sekolah diserahkan penuh keorangtuanya. Ada pertimbangan untuk itu, karena orangtuanya melihat peluang dibantunya Aldo untuk biaya pendidikan membuat tanggung jawab nya justru malah menggantungkan dengan menambah satu anaknya lagi. Peluang itu kini justru diambil oleh kader partai agama dan melalkukan kebalikan apa yang pernah dilakukan oleh Daru.   Kini Aldo seperti orang asing, berpapasan dengan Darupun tidak seperti dulu yang pernah diajarkannya. Anak seperti komoditi yang bisa mendatangkan uang. Orangtua Aldo kini terbebas dari semua pembiayaan sekolah kedua anaknnya, berkat bantuan kader partai agama. Entah Aldo diajari apa disana.

Senin, 15 Agustus 2011 | posted in | 0 comments [ More ]

Buku Pelajaran .... !

Buku pelajaran, sebelum tahun 85 an selalu bisa dipergunakan kembali oleh adik kelas, tapi setelah tahun berikutnya tidak demikian. Tahun ajaran baru menggunakan buku baru pula dan setelah itu menjadi sampah! Bisnis bukupun menjadi bisnis sekolah dengan penerbit, tentunya dengan keuntungan dikedua belah pihak. Lumayan untuk sampingan para guru pada waktu itu yang berpenghasilan rendah. Tapi itu dulu! Sekarang, sama saja! Tapi polanya pendistribusian yang dirubah. Di Kampung Lolongok Mak Ijah yang dulu menjual kebutuhan sehari-hari  kini tambah satu jenis lagi barang dagannya. Buku pelajaran sekolah!  Tanpa modal sepeserpun Mak Ijah kini bisa menjual buku pelajaran.  Pak Junaedi guru olah raga di Kampung Lolongok kebetulan masih kerabat Mak Ijah  memberi mandat untuk itu. Semua anak yang sekolah di tempat Pak Junaedi mengajar  diarahkan ke warung Mak Ijah. Masalah harga buat warga Kampung Lolongok terasa mencekik leher.  Tapi apa mau dikata! Ada uang ada barang!  Jangan salahkan kalau warga Kampung Lolongok menjadi sangat pragmatis.  Ketika kader partai agama menawarkan bantuan untuk anak akan langsung diambil. Itu peluang emas bagi warga kampung Lolongok. Tidak masalah setelah itu para orangtua berduyun-duyun mengikuti kegiatan rutin keagamaan yang diadakan oleh kader partai agama meskipun mereka tidak berminat! Bagi warga kebanyakan Kampung Lolongok yang penting semuanya ‘LANCAR’.  

Terik mentari terasa menyengat menemani  Cahyati menelusuri jalan raya kampung yang tidak lagi ditanami pohon rindang.   Mata Cahyani terasa perih karena keringat terus bercucuran membasahi matanya.  Pikirannya tertuju pada Pak Ilham, guru IPA. Cahyani masih ingat ketika Pak Ilham menjelaskan tentang pemanasan global. Ditandai dengan meningkatnya panas matahari karena rusaknya lapisan ozon dan meleleahnya kutub utara dan selatan.  
“Din ... dit ...”Bunyi klakson motor motor Bang Aziz mengagetkan Cahyani.
“Yah ... bukan dari tadi jemputnya!”Kata Cahyani sambil cemberut kepada ayahnya. Ayahnya hanya tersenyum mendengar anaknya protes.
“Udah cepet naik!”Kata Bang Aziz sambil memperhatikan kaki Cahyani mengijak salah satu pedal untuk bisa duduk di jok belakang.
“Udah?”Kata Bang Aziz memastikan Cahyani sudah duduk dengan nyaman di jok belakang. Sekali lagi ditengoknya Cahyani sekali lagi sebelum  Aziz memacu motornya.
Sesampainya dirumah Cahyani seperti biasa melepaskan sepatu dan meletakkan tas sekolahnya di atas meja disebelah TV. Setelah itu dia langsung kedapur dan emakya sudah  menyiapkan  makan siang,  Cahyati kelihatan lahap dengan makan siangnya, sementara Aziz ayah Cahyati memperhatikan anaknya sambil senyum penuh kebahagiaan. Tak ada kata yang bisa mengungkapkan perasaan itu, selain kata cinta ayah pada anaknya.

Sepulang dari pengajian Cahyati langsung membuka tas sekolah miliknya untuk melihat tugas sekolah yang harus dikerjakan sore ini.
“Wah ... PR matematika! Pinjem buku sama siapa ya ...?”Pikir Cahyati dalam hati, sambil mengingat beberapa teman yang bisa dipinjami buku paket matematika. 
“Mak, mau kerumah  Nuriah .... “Kata Cahyati sambil mengenakan sandal dan berlalu.
“Eh .... ! Mau ngapain ?”Teriak emaknya Cahyati sambil berlari ke pintu.
“Mau pinjem buku matematika!”Balas Cahyati sambil terus berjalan.
“Jangan lama-lama !”Teriak emaknya lagi. Cahyati terus saja berjalan seakan tidak menghiraukan ucapan emaknya.
Tidak sampai seperempat jam Cahyati sudah kembali dengan buku matematika pinjamannya. Terlihat cerah diwajah Cahyati bisa mendapat pinjaman buku. Itu artinya dia bisa mengerjakan tugas yang diberikan oleh sekolah. Cahyati berusaha menyelesaikan setiap tugasnya lebih cepat  karena dia tahu buku yang dipinjamnya belum dipergunakan oleh pemiliknya.  Butuh waktu lama untuk Cahyati dapat menyelesaikan tugas dua puluh lima soal.  Emaknya cukup penat  juga mendampingi Cahyati menyelesaikan tugas dari sekolah. Maklum emaknya Cuma lulusan sekolah lanjutan pertama.  Kampung Lolongok sudah selepas magrip sudah terasa sepi dan Cahyati menunda mengembalikan buku Nuriah.
“Mak ! besok ingetin Cahyati ya .... mau mulagin buku!”Pinta Cahyati sambil meletakkan buku matematika pinjaman diatas TV.
“Iya!”Balas emaknya sambil melihat buku itu diletakkan.

Keesokan harinya sebelum Cahyani pulang sekolah, ibunya Nuriyati datang kerumah Cahyati untuk mengambil buku matematika milik anaknya.
“Eh .... pulangin dong tuh buku! Gue beliin anak gue suapaya Nuriyati  enggak minjem sama orang!”Emak Nuriyati marah-marah sambil bertolak pinggang.
“Maaf ya  mpok, .... saya bukan enggak mau mulangin. Tadi saya kerumah mpok tapi pintunya ditutup.”Jelas emaknya Cahyati merasa enggak enak dengan perkataan mpok Saadah.   
“Gue mau pergi  mau pergi entar kalau Nuriyati pulang kasih aja sama dia!”Sahut mpok Saadah dengan ketus sambil pergi meninggalkan emaknya Cahyati terbengong-bengong seorang diri.
“Ya Allah .... hidup gue gini amat sih.”Kata Mpok Romlah dalam hati. Persaannya begitu ngenes diperlakukan begitu oleh mpok Saadah. Mpok  Rompalh masuk kedalam rumah dan ditemui suaminya yang sedang tidur setelah pulang dari bekerja sebagai satpam.
“Bang .... bang .... ya Allah ..... bang .... “Mpok Romlah sambil mengguncang-guncang bahu suaminya  sampai bangun.
“Apaan sih?”Kata suaminya jengkel dan berusaha membuka matanya lebar-lebar.
“Makanya bang beliin buku pelajaran buat anak  kita! Biar enggak dihina sama orang!”Kata mpok Romlah dengan mata berkaca-kaca.  Melihat istrinya, Gatong tidak bisa ber bisa berkata apa-apa. Dia sebagai suami tidak punya alternatif untuk  bisa mencari tambahan. Waktunya habis untuk bekrja sebagai satpam dan pulang dua hari sekali agar bisa menghemat pengeluaran.

Keesokan pagi tanpa diketahu Cahyati, mpok Romlah pergi kesekolah anaknya untuk bisa bertemu dengan wali kelas Cahyati. Ada banyak harapan jika bisa bertemu dengan wali kelas Cahyati, terutama tentang buku paket matematika.  Sesampainya disekolah diketuknya pintu ruangan para guru.
“Assalammualaikum .... “Kata mpok Romlah sambil menundukkan bahunya. Matanya tertuju pada satu orang yang duduk disudut ruangan.
“Waalaikum salam.”Sahut guru-guru diruangan itu.
“Ada apa bu. “Sapa wali kelas Cahyati dengan sopan.
“Silahkan duduk disini bu.”Belum sempat menjawab, mpok Romlah sudah dipersilahkan duduk didepan meja wali kelas Cahyati.
“Pak, saya mau minta tolong .... bisa nggak Cahyati punya buku paket matematika. Saya kasihan kalau pas ada pekerjaan rumah dari sekolah. Pinjem sana-pinjem sini. Kalau pas enggak tipakai sih enggak apa-apa tapi kalau pas dipake saya enggak enak sama orangtuanya.”Mpok Romlah menjelaskan perlahan-lahan, matanya hampir berkaca-kaca karena teringat peristiwa kemarin dengan mpok Saadah. 
“Tapi saya enggak punya duit banyak buat beli buku itu. Kalau boleh saya cicil.”Mohon mpok Romlah setengah menundukkan wajahnya.
“Ambil saja buku matematika ini.”Kata wali kelas sambil menyodorkan buku matematika.
“Untuk beberapa buku tidak usah dibeli, tidak apa-apa. Yang penting Cuma beberapa.”Wali kelas Cahyadi menyodorkan beberapa buku paket kepada mpok Romlah.
“Terus bayarnya gimana pak?”Tanya mpok Romlah.
“Kalau ibu punya uang, silahkan bayar. Dicicl boleh.”Kata wali kelas sambil tersenyum. Kemudian mpok Romlah mengambil buku yang telah disodorkan itu.
“Kalau gitu saya terima kasih pak. Saya janji kalau punya uang berapa aja aka saya langsung bayarin utang buku ini.”Mpok Romlah berusaha menyakinkan wali kelas Cahyati.
“Kalau begitu saya permisi mau pulang pak!”Mpok Romlah berdiri sambil membungkukkan bahunya.
“Silahkan bu. “Kata wali kelas sambil tersenyum.
Mpok Romlah pulang dengan hati gembira, kini Cahyati punya buku paket dan tidak mesti pinjam lagi.             

Minggu, 07 Agustus 2011 | posted in | 0 comments [ More ]

Mesin Cuci

Pagi hari Bang Aziz pulang dengan mata kuyuk karena pekerjaan itu kini hidupnya dibalik, siang menjadi malam dan malam menjadi siang. Tapi apa mau dikata baginya cuma kesempatan waktu itulah dia bisa mendapatkan pekerjaan. seperti biasa Bang Aziz pulang kerumah dan tidak langsung tidur tetapi pergi kewarung untuk membeli beras tiga liter untuk makan hari ini sampai besok pagi dan kopi hitam untuk dirinya sebagai teman santai sambil ngopi.  Pagi ini merupakan hari yang membahagiakan dirinya. Dia mendapatkan uang  satu juta sebagai uang tunjangan hari raya. Sebagai buruh harian lepas tunjangan itu diluar ketentuan aturan dari kesepakatan kerja di tempatnya menggantungkan hidup yang telah dijalani lebih dari lima tahun.
"Bang nih kopinya."Sahut sang istri tanpa ekspresi.
"Tarok disitu!"Kata Aziz sambil menghisap rokok. Semua seperti biasa tidak ada yang istimewa.
"Ety, nih uang ... dari tempat kerjaan."Aziz memberikan amplop coklat kepada istrinya.
Dan Etypun membuka amplop itu dan menghitung jumlah uang didalam amp;ot itu.
"Satu juta Ziz>"Tanya istrinya sambil memandangi wajah Aziz  dengan tatapan menyelidik. Seperti biasa Aziz tidak menghiraukan tatapan Ety istrinya. Aziz sudah terbisa dengan tatapan itu.
"Wah, bisa beli mesin cuci perti punyanya Mpok Acih, lumayan enggak usah ngucek pakaian lagi... tapi masih kurang seratus ribu lagi? hmm ... pinjem sama Mpok Tiur."Ety berguman dalam hati. Tanda disadari Ety, Aziz yang sejak tadi memperhatikannya. Aziz selalu berusaha menahan diri untuk i bertanya pada istrinya. Sudah tidak ada lagi tenaga untuk itu.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali setelah mengantar kedua anaknya Ety pergi ketoko elektronik. Dipilihnya mesin cuci yang sesuai dengan uang yang dimilikinya. Setelah tawar-menawar akhirnya kesepakatan terjadi dan hari itu juga mesin cuci diantar ke rumah kontrakan Ety. Begitu bangganya Ety bisa membeli mesin cuci seperti milik Mpok Acih. Pikirannya dipenuhi dengan kebanggan bisa membeli dan memiliki mesin cuci itu. Sekarang dirinya sudah sama dengan para tetangganya yang lain. Kini Ety tidak perlu lagi merasa minder dengan tetangganya.
"Eh ... habo borong nih ... "Kata Mpok Acih ketika mobil pengantar mesin cuci melewati samping rumahnya.
"ini sih nggak borong Cih ... "Kata Ety dengan rasa penuh bangga sambil mlengos melihat kedepan jalan untuk memberi tahu mobil itu dimana harus berhenti.

Hampir satu bulan Ety hidup dengan mesin cuci, kini dia tidak perlu lagi mengucek dan mengilas setiap pakaian, kini dia  mencuci pakaian cukup tiga hari sekali. Ada banyak waktu luang dengan adanya mesin cuci itu dan dia bisa ngobrol dengan para tetangganya atau sekali-sekali pergi kerumah orangtuanya untuk ngobrol dengan adik kandungnya sambil menunggu anaknya selesai sekolah. Pembicaraan Ety tidak jauh seperti ibu-ibu kampung di pinggiran kota. Ibu-ibu yang selalu takjub dengan barang-barang elektronik yang banyak dimiliki oleh kaum urban yang tinggal di kampung Lolongok. Kaum urban di Kampung Lolongok suami dan istri harus bekerja untuk mimpi-mimpi keluarga mereka dikemudian hari.
"Aziz .... ziz .... bangun .... !"Ety menguncang-guncang badan suaminya.
"Apaan sih .... "Jawab Aziz enggan membuka matanya.
"Bulan ini kita mesti bayar listri hampir dua kali lipet dari bulan kemaren!"Kata Ety lagi kelihatan serba salah.
"Makanya dipikir dulu kalau mau beli mesin cuci!"Kata Aziz sebenarnya enggan mengatakan itu pada istrinya.
"Nah elu sih enak, enggak ngerain nyuci pakean sama ngurusin anak-anak!"Ety membela diri.
"Elo kan tahu setiap hari gue cuma dapat duit lima puluh ribu!Buat beli bensin sama makan gue aja di tempat kerjaan udah banyak, belom lagi buat masak sama jajan anak-anak! Elo pikir aja sendiri!"Aziz kelihatan tidak berdaya dan tidak tahu harus menjelaskan apa. Hanya itu yang di lakukan setiap harinya selama bertahun-tahun.
"Ngobyek apa kek Ziz? Buat cari tambahan, masak elo nggak bisa. "Ety terus mendesak Aziz yang masih ngantuk.
"Elo aja sana cari obyekan, ngapin kek sono! Minta ama babak loe!"Aziz kelihatan mulai terdesak.
"Elo laki apan sih, nggak bisa cari tambahan buat bayar listrik!"Ety terus mendesak Aziz.
"elo kan tahu kerjaan gue itu apaan dan elo juga tahu berapa duit gue! kenapa elu masih juga ngotot beli mesin cuci!"Kata Aziz bangkit berdiri sambil memandang tajam mata istrinya.
"Jual tuh mesin cuci, bikin susah laki aja!"Kata Aziz lagi menahan marah.
"Ya enggak bisa dong .... elo mau enaknye doang !"Ety merasa terpojok. Kemudian Aziz keluar rumah dan berusaha menghindari pertengkaran dengan istrinya.
"Pokoknya gue enggak mau tahu! Elo harus cariin duit buat bayar listri!"Ety bertambah emosi melihat Aziz keluar dari rumah dan kata-katanya mulai tidak teratur dan terkendali. Seperti miteliur.
"Plak."Aziz membalik sambil menampar isrtinya dan Etypun lari kerumah tetangganya sambil teriak minta tolong. Akhinya para tetangga kiri dan kanan berkumpul untuk melihat apa yang terjadi. Uwak Napi juga tidak ketinggalan datang dan melerai pertengaran itu.
"Kenape sih ...! udah pada tua masih aje ribut! enggak malu apa sama tetanga dan anak-anak!"Uwak Napi berusaha menenangkan pertengkaran itu.
"Ayo masuk! Udah punya anak dua kok ribut sih! Emangnye enggak bisa diomongin! Kapan mau jadi orang tua yang baik! Guw enggak mau denger ribut-ribut lagi dan belajar selesaiin masalah dan enggak pake pukul-pukulan!"Kata Uwak Napi sambil merangkul Aziz dan Ety.
"Udah nye gue balik dan elo selesain baik-baik."Uwak Napi mengulangi lagi kata-katanya dan berharap Aziz dan Ety bisa menyelesaikan persoalan itu dan Uwak Napi pun pamit pulang.

Gonzaga, 03/08/11

Kamis, 04 Agustus 2011 | posted in | 0 comments [ More ]

Bamboo Leaf Gallery Photos