| Mobile| RSS

1.335 m dpl

Kamis, 14 Juli 2011 | posted in | 0 comments

(Bagian Pertama)

“Over time, our only chance at safety will depend on not turning the mountains into Disneyland.” (Reinhold Messner) 


 Kabut masih menyelimuti puncak Gunung Salak dan bukit-bukit disekitarnya. Dikejauhan terdengar sayup-sayup air terjun.  Kicau burung ramai bersutan, sesekali terdengar hembusan angin menerpa dedaunan pohon damar  yang tinggi menjulang.  Suaranya seperti  madah cinta pada Sang Khalik.  Embun masih menyelimuti setiap dedaunann dan tetesannya berjatuhan membasahi bumi, sehingga humus tetap terjaga kelembapannya agar memberi kesuburan tanah dibawahnya dan siap memberi  makanan kepada pohon-pohon yang hidup disana. Manusia tidak perlu memberi pupuk,  karena alam memelihara dengan caranya yang bijaksana. Sementara tetesan-tetesan air berjatuhan membentuk aliran-aliran air kecil menuju aliran air yang lebih besar.   Suaranya seperti mantra yang membawa jiwa kedunia yang tidak bertepi.

Dikejauhan terlihat tenda mulai bergerak-gerak, tanda kehidupan baru telah dimulai. Anak-anak sudah bangun dari tidurnya yang hangat berselimutkan mimpi penuh canda tawa bersama para malaikat yang selalu menjaga mereka dimalam hari. Mata mereka begitu jernih pertanda malam menjadi milik mereka. Lamat-lamat terdengar obrolan setengah berbisik.
“Iis ...Iis ... bangun!”Putri membangunkan sambil mengoyang-goyang badan Iis. Fadlah yang mendengar Putri membangunkan Iis juga ikut bangun disusul Anya. Mata mereka saling berpandangan satu sama lain.
“Kak Budi udah bangun belom Nya?”Kata Putri kepada ketiga temannya.
“Pasti belom bangun. Kak Budi ...  kan kalau disanggar bangunnya siang.”Kata Fadlah.
“Emang!”Anya membenarkan. Sementara Iis hanya tersenyum-senyum mengengarkan pembicaraan teman-temannya.
“Yuk, kita bangunin kak Budi Nya?”Ajak Putri sambil menyingkirkan selimut dari tubuhnya, diikuti oleh yang lainnya dan keluar dari tenda.
“Kak ... kak ... kak Budi ... “Kata empat anak itu berulang-ulang membangunkan kak Budi. Suaranya memecah keheningan pagi. Tidak ada tanda-tanda kak Budi didalam tenda orange.
“Kak Budi kemana sih.”Kata Fadlah sambil mengintip tenda orange.
“Tuh ... kak Budi, ada disana!”Kata Iis sambil menunjuk kak Budi berdiri di pinggir hutan sambil membawa kamera nikon kesayangannya.
“Ngapain sih kak Budi, kaya orang gila. Sendirian disana!”Kata Putri sambil memperhatikan dari kejauhan.
“Tauk ... tuh?”Kata Anya menimpali. Sementar Iis dan Fadlah hanya memandangi kak Budi dari kejauhan.
“Orang stress ...”Kata Putri sambil cekikikan keteman-temannya.
“Stress ditinggal sama kak Mira ... “Sambung Fadlah menimpali sambil cekikikan.
“Nya ... ke wc yuk ... “Kata Putri sambil menahan kencing.
“Yuk ... “Kata Iis dan yang lainnya sambil  jalan menuruni tangga menuju MCK.
Hampir 10 menit kemudian keampat anak itu keluar dari MCK sementara kak Budi sudah berada di dekat MCK.
“Ayo cepet mandi dan sarapan roti dan coklat hangat!”Kata kak Budi sambil mengarahkan telunjukkan ke arah tenda.
“Kak ... rotinya tinggal empat lembar ... “Kata Anya dengan suara rendah. Dari sorot matanya kelihatan bersalah.
“Kenapa kok tinggal empat lembar?”Tanya kak Budi lagi.
“Tadi malem saya lapar dan makanin roti.”Anya berusaha menjelaskan.
“Lalu, sekarang kita mau sarapan apa? Kalau roti jatah untuk sarapan sudah kamu makan!”Kata kak Budi sambil memandang tajam mata Anya. Anya tidak bisa menjawab, sambil memainkan jari-jarinya sorot matanya kelihatan serba-salah.
“Ya sudah, sekarang mandi dan setelah itu sarapan di warung!”Kata kak Budi sambil berlalu. Tak lama kemudian anak-anak itu menikmati sarapan pagi bersama di  warung Mang Enjum.

0 Responses So far

Posting Komentar

Bamboo Leaf Gallery Photos