| Mobile| RSS

"Kak .... ngulek cabenya pakai apa .... ?"

Rabu, 13 Juli 2011 | posted in | 0 comments

In a dark moment I ask, "How can anyone bring a child into this world?"  And the answer rings clear, "Because there is no other world, and because the child has no other way into it."  ~Robert Brault.
 Dalam perjalanan menuju perkemahan rombongan perkemahan berhenti di pasar desa, 10 km jaraknya radi perkemahan.
"Kak, itu ada pasar. Kita belanja disitu aja!"Kata Putri tidak sabar.
"Iya kak."Anak-anak lainya ikutan bersuara.
"Putri sama Fadlah turun. Kita belanja kebutuhan disana."Kak Budi mengajak sambil membuka pintu kendaraan.
"Kak, Putri aja deh yang belanja, kita di mobil aja!"Kata Anya dan lainnya saling bersautan seperti paduan suara.
"Ayo Put!"Kata kak Budi sambil membantu Putri keluar dari dalam mobil yang sesak dengan perlengkapan berkemah.
"Putri enggak mau ditutun!"Kata Putri sambil menarik tangannya kebelakang.
"Kamu ini! Nanti ada kendaraan menubruk kamu gimana?"Kata kak Budi sambil mengamati wajah Putri yang judes. Beberapa saat kemudian kak Budi menggandeng tangan Purti untuk menyebrangi jalan desa yang ramai oleh hilir mudik kendaraan angkot dan ojek. Sekali-sekali kendaraan pabrik minuman.
"Kak diwarung itu aja belinya."Kata Putri sambil menunjuk salah satu warung penuh dengan sayuran.
"Punten, teh abdi made meser sayuran."Kata kak Budi kepemilik warung. Sementara Putri memperhatikan kak Budi sambil menahan tawa melihat kak Budi bicara bahasa sunda.
"Put, beli sayuran apa?"Kataku
"Beli pisang aja ka."Jawab Putri dengan tenang.
"Loh katanya kita mau masak sawi ditumis!"Kataku lagi. "Mana catatan yang harus dibeli?"Sambungku bertanya.
"Ketinggalan di Sanggar."Jawab Putri santai.
"Jadi kita mau beli apa dong?"Kataku menguji.
"Sawi."Kata Putri sekenanya. Sementara aku memilih sawi yang masih segar dan bagus. Putri hanya memperhatikan. Meja jualannya terlalu tinggi untuk Putri bisa bantu memilih.
"Terus apa lagi Put?"Kataku lagi
"Cabe sama bawang, Kak"Jawab Putri. :Kak, pakai tomat nggak?"Kata Putri setengah berbisik karena tidak yakin dengan salah atu bumbu tumis itu.
"Ya ... enggak usah pakai tomat juga ok Put."Kata mencoba menenangkan Putri.
"Kak, pisangnya?"Kata Putri mengingatkan.
"Teh, ayak cauk nangka?"Kataku kepenjual sayur.
"Teuk aya aak."Sahut penjual sayur.
"Enggak ada pisang nangkanya Put!"Kataku sambil melihat wajah Putri.
"pisang yang kecil-kecil aja Kak."Kata putri sambil menunjuk pisang mas.
"Wah kalau itu enggak bisa digoreng Put!"Kataku mejelaskan. Kulihat wajah Putri cemberut.
"Nanti kita cari lagi warung yang jual pisang Put"Kata mencoba menenangkan Putri.
"Awas kalau enggak beli Pisang!"Kata Putri sambil marah.
Dalam perjalan semua isi mobil celingukkan mencari-cari warung penjual pisang. Meski jalan yang dilalui rombangan itu termasuk desa bukan berarti tidak ditemukan penjual pisang. Desa itu tidak lagi merupakan desa yang ditumbuhi tanaman padi. Disepanjnag perrjalanan dikana kiri dijumpai pabrik berbahan dasar air. Desa itu kelihatan kumuh dan kotor. Dimana-mana ditemukan sampah menumpuk. Selokan-selokan air tidak lagi jernih tapi berubah menjadi keruh karena hasil dari pembuangan rumah tangga dan pabrik tyang tumbuh rapat megelilingi pabrik. Udara yang dulu sejuk kini juga sudah berubah menjadi panas. Perubahan yang fantastis!.
"Kak ... itu ada warung jual pisang. Cepet turn kak!"Kata Putri tidak sabar. Kak Budi keluar dari mobil dan langsung melihat-lihat pisang nangka. Ternyata ada tapi sudah menghitam.Kak Budi kembali ke mobil lagi.
"put, pisangnya sudah jelek dan cenderung busuk."Kata kak Budi dengan suara pelan.
"Yah ... enggak jadi goreng pisang deh!"Kata Putri kelihatan kecewa.
"Nanti terigunya digoreng aja Put. Dikasih gula atau makannya dicocol pakai gula pasir."Kata kak Budi ngeledek.
Putri kelihatan cemberut keinginannya goreng pisang batal.
Sesampainya diperkemahan dan tenda sudah berdiri semua. Komeng mengumpulkan empat anak lainnya.
"Putri, Anya, Fadlah, IIs. Sekarang kita masak buat entar malem" Kata Komeng memberi pengarahan.
"Anya, keluarin trangia dua-duanya terus bawa kesini."Sambung Komeng lagi. "Fadlah sama Iis keluarin sayuran yang tadi dibeli."Sambung Komeng lagi. Fadlah dan Pitri kembali dengan membawa trangia dan sayuran ketempat yang telah ditentukan Komeng untuk memasak.
"Botol spiritusnya mana?"Tanya Komeng sambil memperhatikan wajah anak-anak satu persatu. Dan keempat anak itu saling berpandangan.

"Iis, coba lihat di kotak gede. Botolnya warna merah.!"Kata Komeng sambil menunjuk countainer bertutup warna pink.
"Ini ak Komeng?"Kata Iis sambil menunjukan botol spiritus warna merah.
"Kata kak Budi sekarang kamu berempat belajar masak sendiri!"Kata Komeng ke pada empat anak putri.
"Ak komeng, ngulek cabenya pakai apaan?"Tanya Putri lagi.
"Coba kamu tanya sama kak Budi."Kata Komeng sambil menunjuk kak Budi yang sedang duduk di bawah pohon menikmati kopi hangat buatan teh Dewi.
"Kakk.... kakk .... "Teriak Putri berulang-ulang yang berjarak 20 meter dari kak Budi.
"Kamu ini benar-benar ibu-ibu ya di Kampung Kebon Duren ya!"Kataku ngeledek.
"Kak .... nguleknya pakai apa?"Kata Putri sedikit manja.
"Pakai gigi kelincinya Anya aja."Kataku ngeledek lagi.
"Pakai gigi kakak aja."Suara Putri balas ngeledek ka Budi.
"Engga usah diulek cukup dipotongin aja cabenya."Kata kak Budi menjelaskan sambil menyerahkan pisau victoronox dari saku kak Budi.
Dari atas Kak Budi memperhatikan bagaimana anak-anak berempat membuat masakan sementara Komeng menemani keempat anak putri  tersebut. Anak-anak begitu heboh sekaligus menikmati kegiatan itu.
"Ini lebih baik, dari pada di Sanggar mereka masak gula pasir dicampur sabun sunlinght! Dasar bocah."Kata Kak Budi  dalam hati sambil senyum-senyum sendiri dari atas.

0 Responses So far

Posting Komentar

Bamboo Leaf Gallery Photos