| Mobile| RSS

1.335 m dpl

Jumat, 15 Juli 2011 | posted in | 0 comments

 (Bagian Kedua)

“Over time, our only chance at safety will depend on not turning the mountains into Disneyland.” (Reinhold Messner) 

“Ayo ... ayo ... Fadlah, Anya, Putri, Iis. Kumpul!”Kata kak Budi sambil menggerakkan tangannya memanggil.
“Cepet ... cepet .... sudah semakin siang!”Sambung kak Budi. Berselang beberapa menit kemudian keempat anak itu sudah dihadapan kak Budi. Mereka siap dengan kegiatan eksplorasi ke puncak Kawah Ratu.
“Mari, kita saling berangkulan satu sama lain. Fadlah, kamu disebelah Anya.”Kata kak Budi tidak sabar. Sementara pikiran Fadlah sedang tidak hadir. Itu terlihat dari tatapannya yang kosong.
“Fadlah! Cepat kamu disebelah Anya!”Kata kak Budi lagi dengan suara agak keras.
“Kamu kenapa Fadlah! Kenapa tidak memperhatikan apa yang saya katakan. Lihat teman-temanmu sudah siap!”Sambung kak Budi sambil memperhatikan Fadlah yang baru terhenyak dari dunianya dan langsung masuk dalam lingkaran.
“Nah, sekarang ini sebelum kita mulai pendakian ada baiknya kalian dengar dulu apa yang harus diperhatikan dalam kegiatan ini.

Pertama, kita tidak diperkenankan memetik atau merusak apa yang ada disalam hutan selama perjalanan. Kedua, kita tidak boleh meninggalkan sampah apapun selama perjalanan di dalan hutan. Simpanlah sampah itu didalam saku celanamu. Ketiga, Berjalanlah sesantai mungkin untuk satu jam pertama. Itu penting untuk penyusuian otot di tubuhmu. Disamping itu jantungmu juga butuh penyusuaian agar kamu tidak pusing. Kamu jangan lupa, semakin tinggi kita berada semakin tipis juga oksigen. Itu akan memacu lebih cepat detak jantungmu. Keempat, atur jarak satu sama lainnya, jangan terlalu dekat. Apalagi saling berpegangan tangan. Jangan samakan di hutan dengan disekolahmu. Itu akan membahayakan dirimu sendiri dan teman-temanmu. Ditempat ini kalian akan aman. Karena disamping saya masih ada Bapak dari konservasi yang akan membantu memandu kalian.
Kelima, ada pertanyaan?”Kata kak Budi memberi  penjelasan.
“Apakah penjelasan saya cukup jelas!”Sambung kak Budi.
‘Kalau jelas. Cobalah teriak jelas sekeras-kerasnya!”Kata kak Budi membangun semangat.
“Jelas ..... !“Kata keempat anak-anak itu berteriak.
“Sekali lagi!”Kata kak Budi.
“Jelas ...............  “Anak-anak mengulangi teriakannya lebih keras lagi.
“Terima kasih. “Kata ka Budi sambil tersenyum dan memandangi mata anak satu persatu.
“Orang yang ada paling depan adalah bapak dari konservasi, dilanjutkan kalian berempat, setelah itu Aak Komeng dan saya berada paling belakang.”Kak Budi menjelaskan strategi perjalanan ke puncak Kawah Ratu.
“Jelas!”Kata kak Budi lagi.
“Jelas .... !”Kata anak-anak hampir bersamaan.
“Sebelum kita mulai perjalanan, ada baiknya kita berdoa dulu. Karena Candra tidak ikut maka kita berdoa masing-masing. Berdoa dimulai!”Kak Budi memberi aba-aba.
“Berdoa selesai!”Kata kak Budi beberapa detik kemudian.
“Mari kita teriakkan kata-kata oneng bersama-sama!”Kata kak Budi lagi.
“Oneng ..... !” Teriakan itu memecah kesunyian hutan dan setelah itu perjalanan dimulai.

"If you are thinking a year ahead, sow a seed.
If you thinking ten years ahead, plant a tree.
If you thinking one hundred years ahead, educate the people."
-Chinese Proverb

0 Responses So far

Posting Komentar

Bamboo Leaf Gallery Photos