| Mobile| RSS

Teman Lama.

Sabtu pergi ke Taman Nasional Gunung Salak - Cidahu, Cicuruk, Kabupaten Sukabumi. Yang menarik dari perjalanan itu bisa bertemu teman lama. Namanya Mang Enjum. Orangnya kecil, putih,  dan bertubuh gampal. Mang Enjum sama seperti orang desa pada umumnya di daerah Jawa Barat. Pada tahun 2001 aku pernah mengunjung Mang Enjum tapi hanya mendapati  istrinya saja, yang sendang tidak harmonis dengan Mang Enjum lantaran menikah lagi dan tidak pernah pulang ke istri pertamanya. Aku hanya berpikir nekat juga nih orang! Dengan pekerjaan yang tidak pasti berani-beraninya punya istri lebih dari satu! Mang Enjum itu orang desa yang tidak punya sawah untuk digarap dan tidak punya kolam untuk ditanami ikan. Hidupnya dari kerja serabutan. Dalam pertemuan itu terkejut juga ternyata Mang Enjum jauh lebih sehat dan kelihatan lebih baik kehidupannya. Dia punya warung di wilayah taman nasional dan sekarang di kelola oleh anak dan mantunya.
"Neng bapak ayak?"Tanyaku
"Bapak teh di lebak!"Jawab perempuan itu
"Kapan teh bapak ka luhur?Tanyaku lagi
"Embung"Jawab perempuan itu bingung.
"Bapak teh saha?"Tanya perempuan itu
"Saya temannya Mang Enjum!"Jawabku
"Oh. Saya teh anaknya Mang Enjum"Jawab perempuan itu sambil tersenyum
"Ditelepon aja pak, nantikan datang. Bapakkan bawa hape "Sambung wanita itu
"Iya!"Kata mengiyakan
Jalan-jalan di areal perkeman sambil memetakan lokasi perkemahan iseng-iseng aku memperhatikan warung mana yang ramai dikunjungi oleh tamu (orang berkemah atau sekedar wisata). Dari penglihatanku ternyata warung Mang Enjum jauh lebih ramai dikunjungi oleh banyak orang. Ada bebrapa alasan untuk itu. Mungkin lebih "represntatif" dibandingkan warung lainnya.
"Mungkin sekarang Mang Enjum pasti lebih baik ekonomi keluarganya"Aku berguman dalam hati
Keesokan harinya seorang lagi-laki bertubuh gempal menghampiri dan mengamai wajahku lekat-lekat.
"Budi ..."Kata Mang Enjum sambil tertawa
"Elo kan "orang gila"Katanya semangat
Sambil bersalaman akhirnya kami ngobrol diwarung Mang Enjum
"Bud, gue enggak lupa sama elu ha .. ha ..."Kata Mang Enjum tertawa
"Jaman sekarang udah enggak ada lagi kegiatan kayak dulu. Apalagi ngemparin muka orang pakai tai kerbo"Sambung Mang Enjum mengingat masa lalu
"Saya mau tanya nih, sekarang kok juala didalam taman konservasi?"Aku bertanya
"Orang-orang yang jualan disini itu yang dari dulu emang udah jualan dan sebelom tempat ini jadi daerah konservasi. Pedagang ini mulai waktu masih dikelola sama Perum Perhutani"Mang Enjum mejelaskan
"Biasanyanya diwilayah konservasikan tidak boleh berdagang?"Tanyaku lagi
"Gini Bud, jadi pemilik warung diajak terlibat menjaga konservasi, makanya diadakan lokasi permahan disini, tapi ada daerah yang enggak boleh buat dagang. Itu wilayah inti konservasi. Lokasinya itu lebih keatas sedikit."Kata Mang Enjum sambil menunjuk kearah Gunung Salak.
"Nah lokasi camping ini semua dibuat sama penduduk, sedikit-sedikit dan tanam pohon sedikit-sedikit. Sekarang liat aja."Kata Mang Enjum sambil menunjuk daerah-daerah yang dikerjakan oleh penduduk
"Bagus juga Mang, kalau penduduk dilibatkan. Itu artinya penduduk belajar merasa memiliki taman konservasi"Balasku
"Tapi kalau dibandingin sama perkemahan pak Yos, tempat kita kalah"Mang Enjum tidak semangat
""loh, memang kenapa dengan lokasi Pak Yos?"Aku mencari tahu
"Pak Yous itu beli tanah adat yang masih girik dan sama dia dibuat perkemahan. Disono ada outbond, perkemahannya diapit dua sungai, terus didepannya air terjun."Mang Enjum menjelaskan
"Loh bukannya Air terjun dan sungai milik taman konservasi!"Aku berusaha menenangkan Mang Enjum
"Iya."Kata Mang Enjum
"Air terjun yang dulu kita temuin itu masih ada, tapi kalau sekarang mau kesana harus dibuat jalan. Itukan pakai biaya."Mang Enjum menjelaskan lagi
"Kaalu gitu, sekarang pendudik yang jualan gotong royong lagi membuat trakking ke air terjun!"Aku mengusulkan
"Udah saya mulai. Jalannya agak melingkar. Supaya orang yang kesana enggak bosen jalan kesana"Kata Mang Enjum
"Wah ... itu bagus Mang!"Kataku menyemangati
"Bud, sekarang kerjanya ngapai?"Tanya Mang Enjum
"Saya cuma guru. Kerjanya ngajar soal lingkungan hidup, termasuk belajar di taman konservasi."Jawabku
"Tapi saya enggak sendiri. Disana ada beberapa teman yang hebat-hebat"Jawabku sambil tersenyum
"Saya kesini sambil mau ketemu Mang Enjum juga mau lihat kemungkinan bisa menggunakan tempat ini sebagai tampat kegiatan belajar tentang hutan konservasi"Lanjutku menjelaskan
"Wah, asik tuh kelihatannya..."Kata Mang Enjum menanggapi
"Saya diajarin dong kegiatan itu?"Pinta  Mang Enjum
"Nanti kita belajar sama-sama Mang! Pasti saya melibatkan Mang Enjum, khusus untuk jenis-jenis tanaman hutanyang bisa dimakan dan dijadikan obat. Mang Enjum pasti menguasai itu kan?"Kataku
"Wah itu sih gue hapal Bud."Katanya semangat
"Nah mulai sekarang belajar terus soal itu ya Mang?"Pintaku
"Siap."Kata Mang Enjum gembira
"Nih, ngomong-ngomong gue mau tanya?"Kata Mang Enjum
"Tanya apa?" Balasku
"Sekarang anaknya berapa?"Tanya Mang Enjum lagi
"Wah.. anak saya banyak. Ada satu kampung"Jawabku sambil tersenyum
"Maksudnya?"Tanya Mang Enjum sambil mengerutkan dahi
"Saya sama beberapa teman membuat sanggar. Di Sanggar anak-anak kampung bisa membaca buku-buku bagus, juga bisa belajar tentang hutan."Aku menjelaskan
"Bikin disini dong!"Pinta Mang Enjum
"Itu juga menjadi pertimbangan saya Mang"Jawabku
"Jadi sekarang masih sendiri dong ..."Kata mang Enjum sambil ngakak ngeledek
Akupun juga tertawa ngakak. Ketawa penuh makna untuk laki-laki.
"Kan jatah saya sudah diambil sama Mang Enjum"Kataku sambil tertawa dan kami pun tertawa.

Senin, 18 Juli 2011 | posted in | 0 comments [ More ]

"Mulai dari hal kecil aja Pak!"

Peristiwa pemancungan TKW Indonesia ternyata juga menjadi pembicaraan beberapa orang tua yang malam itu kumpul didepa Sanggar Rebung Cendani. Salah seorang bapak berkomentar bahwa
"Pengurus negara ini tidak becus dan bangsa ini merasa bangga menjadi budak" katanya penuh semangat.
"Maksud bapak?" tanyaku. "Iya, pengurus negara setelah menduduki jabatan tertentu yang diurusi cuma keluarga dan teman-temannya. Dan para pekerja merasa bangga sudah bekerja dinegara orang apalagi bisa membangun rumahnya menjadi bagus."Bapak itu menjelaskan.
"Kan pembantu rumah tangga disana dihargai mahal!"Kataku menimpali.
"Iya tapi mereka bangga menjadi budak!"Protes bapak itu.
"Sekarang gini aja pak, kita tidak usah memikirkan negara yang sangat luas ini. Maksud saya di kampung ini ada sanggar dan disana anak-anak bisa membaca buku yang sangat bagus. Jika anak-anak bisa tekun saja mereka akan memiliki pengetahuan diatas rata-rata yang diajarkan  oleh sekolah. Untuk itu saja orang tua enggak mau mendorong anaknya untuk rajin membaca."Kataku
"Ah sanggar itu enggak ada apa-apanya!"Bapak itu memotong
"Maksud saya disana anak-anak belajar sesuatu untuk masa depannya agar tidak menjadi budak" Kataku jengkel. "Kita tidak usah membirakan orang pemerintah atau partai apapun itu"Sambungku. "Bapak lihat sendiri partai yang terang-terangan berlatar belakang agama aja tidak dapat memberi warna yang baik, malah sebaliknya menjadi bagian dari warna yang sama dengan yang lainnya"Aku berusaha menjelaskan
"Akh ... jangan ngomong soalama partai berbasis agama, karena dia pasti benar"Kata bapak itu penuh semangat.
"Yang saya maksud bukan agamanya pak tapi partai yang menggunnakan  agama untuk tujuan kekuasaan, uang dan sebagainya" Kataku "Sekarang ini partai berbasis agama menggunakan anak-anak untuk tujuan partai saja bapak diam"Kata menjelaskan
"Maksudnya!"Kata bapak itu.
"Maksud saya, bapak lihat sendiri bagaimana partai berbasis agama menggunakan anak-anak sebagai sasaran antara untuk menuju orangtua. Dengan membantu anaknnya diharapkan akan menimbulkan balas budi dengan mendukung partai berbasis agama.Nah untuk hal sederhana di kampung kita ini aja bapak dan warga lainnya tidak protes malah membiarkan ketidak benaran terjadi didepan mata bapak!"Kataku kesal.
"Akh itu sih urusan kecil, ngapain diurusin!"Kata bapak itu seenaknya
"Pak kita mulai dari urusan kecil dikampung ini, jika itu bisa berjalan dengan benar saja kampung kita kan jauh lebih terhormat dan orang-orang kampung belajar untuk membedakan mana yang boleh dan mana yang tidak!"Kataku berusaha menjelaskan "Kaau kita laporkan kepihak yang berwenang kader partai itu bisa menjadi urusan hukum, karena menggunakan  anak untuk tujuan partai!" Sambungku.
Bapak itu hanya diam dan kembali ke topik benang kusut.

Kokom

(Cerita Dari Kampung Lolongok)

Sepagian ini Kokom hanya bolak-balik tidak menentu didalam rumahnya yang compang-camping dan kumuh. Entah apa yang dipikirkan, lalu dia mengambil kartu ceki yang tergeletak di antara pakaiannya yang berantakan didalam lemari yang usianya lebih tua darinya. Setelah berkali-kali mencoba mengetahui keberuntungan untuk malam ini. Dia tidak mendapat gambaran bahwa malam ini dia akan sepi dari tamu.
Setelah sholat magrip usai Kokom mulai menelusuri jalan kampung yang mulai gelap, dihatinya berharap bahwa situasinya tidak seperti apa yang sejak pagi Ia lihat melalui kartu ceki. Sepanjang jalan kampung Kokom selalu “digoda” oleh para lelaki yang mengetahui pekerjaannya. Kadang godaan itu melukai perasaannya. Bagaimanapun mereka tidak mengerti mengapa Kokom melakukan pekerjaan yang selam ini dianggap sangat kotor dan penuh dengan kedosaan. Tapi bagi Kokom bermakna tidaknya hidup yang dijalani bukan orang lain yang menentukan.
Kampung Lolongok Cuma desa kelurahan, hanya didaerah tertentu yang menjadi pusat keramaian. Itu pun karena menjadi tempat transit truk container dan truk pengangkut barang untuk menghidari Polisi.
“Kom …. Kokom …. sini cepetan ..” Suara yang sangat dikenalnya. Tanpa menunda-nuda Kokom langsung menghampiri sumber suara itu.
“Ada apaaan ….. “ Kokom penuh semangat.
“Ada tamu tuh, …. kita berdua kebagian rejeki. Lumayan Kom “ Kata jubaidah sambil mengerlingkan mata ke Kokom.
“Ah .. lumayan baru dateng udah dapet rejeki” Kata Kokom dalam hati.
Ditariknya tangan Kokom oleh sahabatnya, Jubaedah menuju tempat biasa mereka bertemu para tamunya.
Keesokan harinya ketika kokok ayam belum lagi berbunyi dan Kampung Lolongok masih terlelap di ujung malam yang dingin dan ketika orang enggan untuk turun dari peraduan, Kokom pulang dengan gembira karena esok ia bisa makan bersama anak-anaknya.



Josep Budisantoso
(Belajar terbang setinggi-tingginya dan menyelam sedalam-dalamnya)

"Jaul .... bini loe beranak ....!"

Sembilan bulan Mpok Maryam hamil anak yang ketiga badanya yang tampak hanya tulang yang menojol disana sini, wajahnya selalu tampak pucat. Ketika berjalan Mpok Maryam seperti membawa beban yang berat dan geraknyapun menjadi sangat terbatas. Meskipun begitu ia tetap melaksanakan tugasnya sebagai ibu yang tidak saja mengurusi anak dan suami tetapi juga harus menghidupi seluruh anggota keluarganya dengan pekerjaan menjadi pembantu rumah tangga. Mpok Maryam bermimpi anaknya suatu saat nanti bisa menjadi lebih hebat dari dirinya dan tidak seperti bapaknya.
“Bang, saya pergi dulu ya …. jangan lupa urus anak-anak, hari ini saya pulang lebih sore” Pesan Maryam setiap kali ketika akan berangkat bekerja.
“ Iya.” Kata Bang Jaul yang sudah malas mendengar kata-kata itu karena pesan itu sudah seperti perintah yang menekan perasaan Jaul.
Dengan langkah yang sangat lamban Maryam tetap berjalan dengan pasti, bahwa kepergiaannya untuk menghidupi anak-anak yang sangat dicintainya apalagi anak yang dikandung sebentar lagi akan lahir. Sudah pasti ia akan banyak membutuhkan biaya untuk persalinan.

Siang ini seperti bisa Maryam, ketika memulai pekerjaan – masak perutnya mulai terasa sakit tapi sakitnya tidak seperti biasanya. Ia merasakan tanda-tanda akan melahirkan.
“Maryam, sebaiknya kamu pulang saja!” Pinta majikannya. “Nanti pekerjaanmu biar saya yang menyelesaikan” Sambung Majikannya.
“baik Nyah, .. “ Kata maryam sambil mengelus-elus perutnya yang sakit.
“Dulloh… Dulloh … “ Tante Hardjono memanggil sopirnya.
“Ada apa Nyah, ….” Dulloh menghampiri Tante Hardjono.
“Tolong antar Maryam kerumahnya …nanti saya dikabari jika ada apa-apa ya!” Sambung Tante Hardjono.
“Baik Nyah.” Kata Dulloh, sambil menuntun Maryam menuju mobil yang telah disiapkan Dulloh.
Selama perjalanan Maryam hanya bisa mengelus-elus perutnya sementara Dulloh hanya memperhatikan dan sekali-sekali menghibur agar Maryam lebih tenang. Ketika mobil itu memasuki jalan desa menuju rumah Bang Jaul banyak warga kampung yang melihat bertanya-tanya ada apa yang terjadi dengan Mpok Maryam. Ada beberapa ibu-ibu yang mengenal Mpok Maryam bergegas menuju rumah Bang Jaul untuk melihat apa yang terjadi dengan Maryam. Tak ada siapa-siapa rumah itu kosong dan banyak warga kampung tahu bahwa Bang Jaul pasti pergi memancing sementara anak-anak belum pulang sekolah. Situasi ini sempat di ketahui oleh Ibu Nurhasanahh yang kebetulan aktivis partai dan tentu saja situasi sulit keluarga Bang Jaul dianggap peluang oleh Ibu Nurhasanah karena sebentar lagi akan ada pemelihat Walikota.
‘Pak Dulloh, antar saya dan Mpok Maryam ke rumah sakit. Jangan-jangan Mpok Maryam akan melahirkan, tentang biaya biar nanti saya yang tanggung” Kata Ibu Nurhasanah dengan sigap.
“Bang jaul perlu dipanggil dulu nggak Bu ?” Kata salah seorang tetangga Mpok Maryam.
“Kamu tahu, Bang Jaul ada dimana?” Tanya Bu Nurhasanah.
“Mancing …” Jawabnya
“Kamu tahu Bang Jaul mancing dimana…?” Potong Bu Nurhasanah
“Di Rawa Dengkul, tapi ..” Jawab tetangga Bang Jaul.
“Tapi jauh kan!” Potong Bu Nurhasanah. “Sudah sekarang saya bawa Mpok Maryam. Mumpung ada mobil yang bisa mengantar” Sambung Bu Nurhasanah.

Sampainya di rumah sakit Bu Nurhasanah dengancekatan mendaftarkan Mpok Maryam ke UGD agar cepat mendapat pertolongan. Tapi pa daya jumlah dokter dan bidan yang terbatas membuat Mpok Maryam harus menunggu lama. Hampir satu jam menuggu barulah ada bidan yang datang untuk segera menanganai Mpok Maryam. Sementara Dulloh duduk di kursi tunggu sambil menunggu instruksi Bu Nurhasanah, pandangan Dulloh tertuju pada Mpok Maryam yang sedang dibawa ke ruangan khusu untuk melahirkan. Kereta dorong baru juga keluar dari ruang pendaftaran tiba-tiba Dulloh terperanjat bukan kepalang, bahkan Dulloh sempat hamper melompat bukan karena dia belum pernah mengantar istrinya melahirkan tetapi Dulloh sangat terkejut melihat selangkangan Mpok Maryam keluar seorang bayi.

Josep Budisantoso
(Belajar menyelam sedalam-dalamnya dan terbang setinggi-tingginya)

“Goyang Terus ….”

Kampung Lolongok tidak pernah sepi dari kegiatan keagamaan, seperti pagi ini suara panggilan dari pengeras suara sudah memanggil-mangil ibu-ibu untuk pengajian. Pak Ustad selalu mengajarkan para kaum perempuan bagaimana menjadi wanita yang soleha. Diantaranya bagaimana melayani suami. Tapi pagi ini tidak banyak kaum ibu yang bisa mengikuti acara pengajian lantaran keluarga besar Bang Jaul, saudara tua Bang Jaul – Bang Gatong - menyelenggarakan keriaan (perkawinan). Tidak ada kepanitiaan seperti layaknya. Semua bisa dilakukan dengan kebersamaan keluarga dan beberapa warga kampung.

Kaum perempuan yang sibuk sejak kemarin hari ini kesibukkan itu menjadi meningkat karena para undangan sudah mulai berdatangan. Meskipun begitu tetap saja para kaum perempuan masih sempat bercanda.
“Rohanah, gue jadi inget waktu gua dulu dinikahin… “ Unah memulai pembicaraan dengan Rohanah.
“Emang elu inget ame ape?” Sahut Rohanah.
“Gue inget waktu malem pertame … “ Unah menjelaskan agak malu. “Gue inget bener si Gatong, belom ape-ape udah keok…” Sambung Unah.
“Emang, kalau kita inget-inget laki-laki kite cuma napsu doang” Rohanah menimpali. Sambil tersemyum sinis.
“Wah, kalau laki gue bener-bener gila. Enggak kayak laki loe pada” Maryam menyela pembicaraan Rohanah dan Unah. “Jaul daru dulu ampe sekarang napsu nye kagak pernah berobah. gue ampe kecapek kalau die udah minta.. !” Lanjut Maryam penuh percaya diri.

Sementara mereka terus berbincang kaum laki-laki asik menonton dangdut. Siang ini dinamika dangdut biasa-biasa saja. Tidak ada yang joget. Disamping itu anak-anak mereka sibuk dengan pedagang mainan dan jajanan.

Hari semakin malam. Tontonan orkes dangdut sudah sejak tadi istirahat karena waktu solat Magrib.

Selepas Isya, suasana semakin ramai, para tahu seakan tidak putus-putus. Bukan karena Bang Gatong tokoh masyarakat tetapi lebih pada system masyarakat Kampung Lolongok yang sudah turun menurun. Bagi masyarakat kampung Lolongok menghadiri pernikahan warga kampung berarti sama dengan menabung. Bisa jadi yang datang dalam acara pernikahn berharap ketika keluarganya mengadakan pesta pernikahan bisa terbantu biayanya dari uang kondangan.

Tiba-tiba panggung tempat orkes dangdut telah berganti lampu yang tadi terang benderang menjadi penuh dengan warna temaram dan MC mulai mengajak penonton untuk mengarahkan perhatiannya ke panggung pertunjukan. Tak lama kemuadian mulailah para artis seksi dangdut dari kampung tetangga mulai menyanyikan lagu-lagu yang sedang ngetop sambil bergoyang bak “cacing kepanasan “

Semakin malam semakin panas suasana panggung, lihat saja banyak kaum laki-laki mulai naik kepanggung untuk nyawer (memberikan uang) untuk setiap artis, sementara anak-anak kecil berdiri di bawah panggung cekikikan melihat celana dalam artis dangdut. Sementara kaum perempuan mengasai dari kejauhan menahan rasa marah karena merasa direndahkan dengan kelakuan para suami yang terhipnotis oleh goyangan erotis para penyanyi dangdut. Tiba-tiba beberapa wanita setengah baya mendatangi beberapa laki-laki yang sedang terhipnotis goyangan erotis penyanyi dangdut. Satu diantaranya adalah Mpok Maryam.
“Eh, buaya gila …. emang lu enggak puas ama gue. Jangan main gila loe. Ayo balik” Mpok Maryam sambil memukul Bang Jaul yang sudah tidak ada rasa malu karena pengaruh minuman anggur.

Meskipun beberapa kaum lelaki keluar dari kalangan joget bukan berarti penyanyi menghentikan lagunya tetapi malah membuat goyangan semakin membuat mata lelaki tidak berkedip.


Josep Budisantoso
(Belajar menyelam sedalam-dalamnya dan terbang setinggi-tingginya)

Mpok Maryam

Meskipun belum waktu Isya Kampung Lolongok sudah terasa sepi, padahal hanya satu jam untuk sampai pusat kota.. Meskipun listrik sudah masuk Kampung Lolongok tetap saja suasana kampung tidak berubah. Suasana malam persis sama ketika penduduk kampung masih menggunakan lampu teplok.
“Assallammuallaikum., Wak …. Wak …. “ Kata Maryam sambil mengetuk pintu.
“Waallaikum Salam” Sahut Uwak Napi. “Eh Yam ada apa?” “Ayo masuk Yam” Kata Wak Napi penuh dengan kelembutan. Dipandanginya wajah Maryam, Uwak Napi melihat ada warna biru lebam di wajah Maryam.
“Ada apa Yam” kata Wak Napi
“Wak Napi … aye … “ Maryam tidak sanggup lagi meneruskan kata-katanya, yang terdengan hanya isak tangis yang menjadi-jadi.
“Udeh Yam, bentar ye …. gue bikinin loe aer anget” Sambil mengusap-usap kepala Maryam. Tidak lama kemudian Uwak Napi keluar dengan membawa teh hangat untuk Maryam. “Maryam, nih minum dulu. Biar enakan” Semyum yang tulus dari seorang Uwak Napi membuat Maryam menjadi lebih tenang.
Setelah Uwak Napi melihat Maryam lebih tenang mulailah menanyakan apa yang terjadi sebenarnya.
“Sebenarnya ada apa Maryam ?” Tanya Wak Napi.
“Tadi sore aye dipukulin sama Bang Jaul”. Maryam mulai menjelaskan. “Sore tadi abis pulang kerja, anak-anak belom ade yang mandi, rumah berantakan”.
“Laki Loe kemana” Sambung Wak Napi.
Maryam melanjutkan ceritanya.
“Bang Jaul belum pulang mancing. Pengennya aye Bantuin ngurusin anak-anak, eh … pilang-pulang malah minta dibikinin kopi … “ Maryam terdiam sejenak, dadanya terasa sesak.
“Minum dulu Yam aernya” Uwak Napi mencoba menenangkan.
“Terus aye sewot berantem ama Bang Jaul, tapi die enggak terima dan muka aye dipukul ampe biru” Maryam melanutkan ceritanya. “Aye enggak redo dunia akherat disakitin kayak gini, terus aye lapor ke Pos Polisi deket kelurahan.”
“Terus apa kate Polisi?” Potong Wak Napi.
“Aye diminta nyelesein di kantor RT aje” Maryam meneruskan. “Tolongin aye Wak, ngomong ame Bang Jaul., kalau bukan anak-anak aye udah minta dicere Wak!” Kata Maryam dengan datar.
“Udah sekarang loe pulang, entar abis isya gue ngomong mae laki loe” Kata Wak Napi mencoba menenangkan.
“Iya Wak, aye pulang dulu. Makasih ya Wak.” Kata Maryam.. “Assallammuallaikum”
“Waallaikum Salam” Balas Wak Napi.
Dua bulan sudah berlalu seakan tidak pernah terjadi apa-apa diantara Maryam dan Jaul. Buktinya Maryam sudah mulai hamil lagi meskipun sudah punya dua anak yang jaraknya dekat dan masih kecil-kecil.

Josep Budisantoso
(Belajar menyelam sedalam-dalamnya dan terbang setinggi-tingginya)

Bang Jaul



Seperti biasa, sore hari setelah lewat solat azar Bang Jaul kumpul-kumpul dengan para tetangga. Sore ini wajah Bang Jaul terlihat seperti benang kusut. Seorang teman tiba-tiba bertannya,
“Kenape loe Ul?, tampang loe kagak enak banget, sakit gigi?!”.
Sambil menghembuskan asap rokoknya Bang Jaul mencoba menjelaskan tetang kekusutannya,
“Bini gue marah-marah mulu, kayaknya dulu enggak begitu. Sekarang dikit-dikit marah.” Tatapannya penuh ketidak mengertian. “Apa gue kawin lagi ya?” terusnya.
“Ah gila loe Ul, bini atu (satu) aja nggak abis!” Bang Udin memotong pembicaraan Jaul.
Sambil mengorek-ngorek tanah dengan jarinya Bang Jaul mencoba memahami perkataan Udin.
“Din, kalau punya bini dari atu-kan berkah!” Jaul mencoba menjelaskan. “Nabi aja bininya banyak” sambungnya.
“Eh, Ul elu aja kagak pernah ngaji pengen ngikutin Nabi. Emang Loe tahu kenape Nabi punya bini banyak?” Kata udin sedikit kesal.
“Ul, coba tuh loe liat anak-loe pulang sekolah enggak ada yang ngurusin. Elo mah enak kerjaannya Cuma mancing dari pagi ampe (sampai) sore, nah bini loe kerja jadi pembantu pergi pagi pulang malem …..” Kata Udin dengan nada jengkel.
Jaul hanya diam tidak tahu harus bicara apa, sambil mengorek-ngorek tanah dengan jarinya.
Uwak Napi yang sejak tadi mendengarkan pembicaraan itu mencoba menjernihkan “Ul, setau gue kebanyakan orang yang bininya banyak itu urusannya Cuma satu. Elu Tahu apa Ul?” Jaul menggeleng kepala. “Elu tau Din?” “Enggak tau Wak” jawab Udin. “Burung (Kelamin)loe tuh pada!” Jawab Wak Napi sambil memandangi mata Jaul dan Udin. “Eh Ul, elo tuh harusnya kesian ama bini loe yang ngidupin loe ama anak loe!. Kerjaan loe Cuma mincing, makan tinggal makan, ngopi tinggal ngopi emang loe mikir gimana capeknye bini loe banting tulang” Uwak Napi berusaha menyadarkan Jaul.
Jaul hanya terdiam seribu bahasa. Entah dimana pikirannya ketika Uwak Napi menjelaskan.
Tiba-tiba ada suara perempuan sedang memarahi anaknya, tepatnya di rumah Bang Jaul dan Jaulpun pulang.

Josep Budisantoso

(Belajar menyelam sedalam-dalamnya dan terbang setinggi-tingginya)

Bamboo Leaf Gallery Photos