Kampung Lolongok tidak pernah sepi dari kegiatan keagamaan, seperti pagi ini suara panggilan dari pengeras suara sudah memanggil-mangil ibu-ibu untuk pengajian. Pak Ustad selalu mengajarkan para kaum perempuan bagaimana menjadi wanita yang soleha. Diantaranya bagaimana melayani suami. Tapi pagi ini tidak banyak kaum ibu yang bisa mengikuti acara pengajian lantaran keluarga besar Bang Jaul, saudara tua Bang Jaul – Bang Gatong - menyelenggarakan keriaan (perkawinan). Tidak ada kepanitiaan seperti layaknya. Semua bisa dilakukan dengan kebersamaan keluarga dan beberapa warga kampung.
Kaum perempuan yang sibuk sejak kemarin hari ini kesibukkan itu menjadi meningkat karena para undangan sudah mulai berdatangan. Meskipun begitu tetap saja para kaum perempuan masih sempat bercanda.
“Rohanah, gue jadi inget waktu gua dulu dinikahin… “ Unah memulai pembicaraan dengan Rohanah.
“Emang elu inget ame ape?” Sahut Rohanah.
“Gue inget waktu malem pertame … “ Unah menjelaskan agak malu. “Gue inget bener si Gatong, belom ape-ape udah keok…” Sambung Unah.
“Emang, kalau kita inget-inget laki-laki kite cuma napsu doang” Rohanah menimpali. Sambil tersemyum sinis.
“Wah, kalau laki gue bener-bener gila. Enggak kayak laki loe pada” Maryam menyela pembicaraan Rohanah dan Unah. “Jaul daru dulu ampe sekarang napsu nye kagak pernah berobah. gue ampe kecapek kalau die udah minta.. !” Lanjut Maryam penuh percaya diri.
Sementara mereka terus berbincang kaum laki-laki asik menonton dangdut. Siang ini dinamika dangdut biasa-biasa saja. Tidak ada yang joget. Disamping itu anak-anak mereka sibuk dengan pedagang mainan dan jajanan.
Hari semakin malam. Tontonan orkes dangdut sudah sejak tadi istirahat karena waktu solat Magrib.
Selepas Isya, suasana semakin ramai, para tahu seakan tidak putus-putus. Bukan karena Bang Gatong tokoh masyarakat tetapi lebih pada system masyarakat Kampung Lolongok yang sudah turun menurun. Bagi masyarakat kampung Lolongok menghadiri pernikahan warga kampung berarti sama dengan menabung. Bisa jadi yang datang dalam acara pernikahn berharap ketika keluarganya mengadakan pesta pernikahan bisa terbantu biayanya dari uang kondangan.
Tiba-tiba panggung tempat orkes dangdut telah berganti lampu yang tadi terang benderang menjadi penuh dengan warna temaram dan MC mulai mengajak penonton untuk mengarahkan perhatiannya ke panggung pertunjukan. Tak lama kemuadian mulailah para artis seksi dangdut dari kampung tetangga mulai menyanyikan lagu-lagu yang sedang ngetop sambil bergoyang bak “cacing kepanasan “
Semakin malam semakin panas suasana panggung, lihat saja banyak kaum laki-laki mulai naik kepanggung untuk nyawer (memberikan uang) untuk setiap artis, sementara anak-anak kecil berdiri di bawah panggung cekikikan melihat celana dalam artis dangdut. Sementara kaum perempuan mengasai dari kejauhan menahan rasa marah karena merasa direndahkan dengan kelakuan para suami yang terhipnotis oleh goyangan erotis para penyanyi dangdut. Tiba-tiba beberapa wanita setengah baya mendatangi beberapa laki-laki yang sedang terhipnotis goyangan erotis penyanyi dangdut. Satu diantaranya adalah Mpok Maryam.
“Eh, buaya gila …. emang lu enggak puas ama gue. Jangan main gila loe. Ayo balik” Mpok Maryam sambil memukul Bang Jaul yang sudah tidak ada rasa malu karena pengaruh minuman anggur.
Meskipun beberapa kaum lelaki keluar dari kalangan joget bukan berarti penyanyi menghentikan lagunya tetapi malah membuat goyangan semakin membuat mata lelaki tidak berkedip.
Josep Budisantoso
(Belajar menyelam sedalam-dalamnya dan terbang setinggi-tingginya)
Kaum perempuan yang sibuk sejak kemarin hari ini kesibukkan itu menjadi meningkat karena para undangan sudah mulai berdatangan. Meskipun begitu tetap saja para kaum perempuan masih sempat bercanda.
“Rohanah, gue jadi inget waktu gua dulu dinikahin… “ Unah memulai pembicaraan dengan Rohanah.
“Emang elu inget ame ape?” Sahut Rohanah.
“Gue inget waktu malem pertame … “ Unah menjelaskan agak malu. “Gue inget bener si Gatong, belom ape-ape udah keok…” Sambung Unah.
“Emang, kalau kita inget-inget laki-laki kite cuma napsu doang” Rohanah menimpali. Sambil tersemyum sinis.
“Wah, kalau laki gue bener-bener gila. Enggak kayak laki loe pada” Maryam menyela pembicaraan Rohanah dan Unah. “Jaul daru dulu ampe sekarang napsu nye kagak pernah berobah. gue ampe kecapek kalau die udah minta.. !” Lanjut Maryam penuh percaya diri.
Sementara mereka terus berbincang kaum laki-laki asik menonton dangdut. Siang ini dinamika dangdut biasa-biasa saja. Tidak ada yang joget. Disamping itu anak-anak mereka sibuk dengan pedagang mainan dan jajanan.
Hari semakin malam. Tontonan orkes dangdut sudah sejak tadi istirahat karena waktu solat Magrib.
Selepas Isya, suasana semakin ramai, para tahu seakan tidak putus-putus. Bukan karena Bang Gatong tokoh masyarakat tetapi lebih pada system masyarakat Kampung Lolongok yang sudah turun menurun. Bagi masyarakat kampung Lolongok menghadiri pernikahan warga kampung berarti sama dengan menabung. Bisa jadi yang datang dalam acara pernikahn berharap ketika keluarganya mengadakan pesta pernikahan bisa terbantu biayanya dari uang kondangan.
Tiba-tiba panggung tempat orkes dangdut telah berganti lampu yang tadi terang benderang menjadi penuh dengan warna temaram dan MC mulai mengajak penonton untuk mengarahkan perhatiannya ke panggung pertunjukan. Tak lama kemuadian mulailah para artis seksi dangdut dari kampung tetangga mulai menyanyikan lagu-lagu yang sedang ngetop sambil bergoyang bak “cacing kepanasan “
Semakin malam semakin panas suasana panggung, lihat saja banyak kaum laki-laki mulai naik kepanggung untuk nyawer (memberikan uang) untuk setiap artis, sementara anak-anak kecil berdiri di bawah panggung cekikikan melihat celana dalam artis dangdut. Sementara kaum perempuan mengasai dari kejauhan menahan rasa marah karena merasa direndahkan dengan kelakuan para suami yang terhipnotis oleh goyangan erotis para penyanyi dangdut. Tiba-tiba beberapa wanita setengah baya mendatangi beberapa laki-laki yang sedang terhipnotis goyangan erotis penyanyi dangdut. Satu diantaranya adalah Mpok Maryam.
“Eh, buaya gila …. emang lu enggak puas ama gue. Jangan main gila loe. Ayo balik” Mpok Maryam sambil memukul Bang Jaul yang sudah tidak ada rasa malu karena pengaruh minuman anggur.
Meskipun beberapa kaum lelaki keluar dari kalangan joget bukan berarti penyanyi menghentikan lagunya tetapi malah membuat goyangan semakin membuat mata lelaki tidak berkedip.
Josep Budisantoso
(Belajar menyelam sedalam-dalamnya dan terbang setinggi-tingginya)
Posting Komentar