Sabtu pergi ke Taman Nasional Gunung Salak - Cidahu, Cicuruk, Kabupaten Sukabumi. Yang menarik dari perjalanan itu bisa bertemu teman lama. Namanya Mang Enjum. Orangnya kecil, putih, dan bertubuh gampal. Mang Enjum sama seperti orang desa pada umumnya di daerah Jawa Barat. Pada tahun 2001 aku pernah mengunjung Mang Enjum tapi hanya mendapati istrinya saja, yang sendang tidak harmonis dengan Mang Enjum lantaran menikah lagi dan tidak pernah pulang ke istri pertamanya. Aku hanya berpikir nekat juga nih orang! Dengan pekerjaan yang tidak pasti berani-beraninya punya istri lebih dari satu! Mang Enjum itu orang desa yang tidak punya sawah untuk digarap dan tidak punya kolam untuk ditanami ikan. Hidupnya dari kerja serabutan. Dalam pertemuan itu terkejut juga ternyata Mang Enjum jauh lebih sehat dan kelihatan lebih baik kehidupannya. Dia punya warung di wilayah taman nasional dan sekarang di kelola oleh anak dan mantunya.
"Neng bapak ayak?"Tanyaku
"Bapak teh di lebak!"Jawab perempuan itu
"Kapan teh bapak ka luhur?Tanyaku lagi
"Embung"Jawab perempuan itu bingung.
"Bapak teh saha?"Tanya perempuan itu
"Saya temannya Mang Enjum!"Jawabku
"Oh. Saya teh anaknya Mang Enjum"Jawab perempuan itu sambil tersenyum
"Ditelepon aja pak, nantikan datang. Bapakkan bawa hape "Sambung wanita itu
"Iya!"Kata mengiyakan
Jalan-jalan di areal perkeman sambil memetakan lokasi perkemahan iseng-iseng aku memperhatikan warung mana yang ramai dikunjungi oleh tamu (orang berkemah atau sekedar wisata). Dari penglihatanku ternyata warung Mang Enjum jauh lebih ramai dikunjungi oleh banyak orang. Ada bebrapa alasan untuk itu. Mungkin lebih "represntatif" dibandingkan warung lainnya.
"Mungkin sekarang Mang Enjum pasti lebih baik ekonomi keluarganya"Aku berguman dalam hati
Keesokan harinya seorang lagi-laki bertubuh gempal menghampiri dan mengamai wajahku lekat-lekat.
"Budi ..."Kata Mang Enjum sambil tertawa
"Elo kan "orang gila"Katanya semangat
Sambil bersalaman akhirnya kami ngobrol diwarung Mang Enjum
"Bud, gue enggak lupa sama elu ha .. ha ..."Kata Mang Enjum tertawa
"Jaman sekarang udah enggak ada lagi kegiatan kayak dulu. Apalagi ngemparin muka orang pakai tai kerbo"Sambung Mang Enjum mengingat masa lalu
"Saya mau tanya nih, sekarang kok juala didalam taman konservasi?"Aku bertanya
"Orang-orang yang jualan disini itu yang dari dulu emang udah jualan dan sebelom tempat ini jadi daerah konservasi. Pedagang ini mulai waktu masih dikelola sama Perum Perhutani"Mang Enjum mejelaskan
"Biasanyanya diwilayah konservasikan tidak boleh berdagang?"Tanyaku lagi
"Gini Bud, jadi pemilik warung diajak terlibat menjaga konservasi, makanya diadakan lokasi permahan disini, tapi ada daerah yang enggak boleh buat dagang. Itu wilayah inti konservasi. Lokasinya itu lebih keatas sedikit."Kata Mang Enjum sambil menunjuk kearah Gunung Salak.
"Nah lokasi camping ini semua dibuat sama penduduk, sedikit-sedikit dan tanam pohon sedikit-sedikit. Sekarang liat aja."Kata Mang Enjum sambil menunjuk daerah-daerah yang dikerjakan oleh penduduk
"Bagus juga Mang, kalau penduduk dilibatkan. Itu artinya penduduk belajar merasa memiliki taman konservasi"Balasku
"Tapi kalau dibandingin sama perkemahan pak Yos, tempat kita kalah"Mang Enjum tidak semangat
""loh, memang kenapa dengan lokasi Pak Yos?"Aku mencari tahu
"Pak Yous itu beli tanah adat yang masih girik dan sama dia dibuat perkemahan. Disono ada outbond, perkemahannya diapit dua sungai, terus didepannya air terjun."Mang Enjum menjelaskan
"Loh bukannya Air terjun dan sungai milik taman konservasi!"Aku berusaha menenangkan Mang Enjum
"Iya."Kata Mang Enjum
"Air terjun yang dulu kita temuin itu masih ada, tapi kalau sekarang mau kesana harus dibuat jalan. Itukan pakai biaya."Mang Enjum menjelaskan lagi
"Kaalu gitu, sekarang pendudik yang jualan gotong royong lagi membuat trakking ke air terjun!"Aku mengusulkan
"Udah saya mulai. Jalannya agak melingkar. Supaya orang yang kesana enggak bosen jalan kesana"Kata Mang Enjum
"Wah ... itu bagus Mang!"Kataku menyemangati
"Bud, sekarang kerjanya ngapai?"Tanya Mang Enjum
"Saya cuma guru. Kerjanya ngajar soal lingkungan hidup, termasuk belajar di taman konservasi."Jawabku
"Tapi saya enggak sendiri. Disana ada beberapa teman yang hebat-hebat"Jawabku sambil tersenyum
"Saya kesini sambil mau ketemu Mang Enjum juga mau lihat kemungkinan bisa menggunakan tempat ini sebagai tampat kegiatan belajar tentang hutan konservasi"Lanjutku menjelaskan
"Wah, asik tuh kelihatannya..."Kata Mang Enjum menanggapi
"Saya diajarin dong kegiatan itu?"Pinta Mang Enjum
"Nanti kita belajar sama-sama Mang! Pasti saya melibatkan Mang Enjum, khusus untuk jenis-jenis tanaman hutanyang bisa dimakan dan dijadikan obat. Mang Enjum pasti menguasai itu kan?"Kataku
"Wah itu sih gue hapal Bud."Katanya semangat
"Nah mulai sekarang belajar terus soal itu ya Mang?"Pintaku
"Siap."Kata Mang Enjum gembira
"Nih, ngomong-ngomong gue mau tanya?"Kata Mang Enjum
"Tanya apa?" Balasku
"Sekarang anaknya berapa?"Tanya Mang Enjum lagi
"Wah.. anak saya banyak. Ada satu kampung"Jawabku sambil tersenyum
"Maksudnya?"Tanya Mang Enjum sambil mengerutkan dahi
"Saya sama beberapa teman membuat sanggar. Di Sanggar anak-anak kampung bisa membaca buku-buku bagus, juga bisa belajar tentang hutan."Aku menjelaskan
"Bikin disini dong!"Pinta Mang Enjum
"Itu juga menjadi pertimbangan saya Mang"Jawabku
"Jadi sekarang masih sendiri dong ..."Kata mang Enjum sambil ngakak ngeledek
Akupun juga tertawa ngakak. Ketawa penuh makna untuk laki-laki.
"Kan jatah saya sudah diambil sama Mang Enjum"Kataku sambil tertawa dan kami pun tertawa.

Posting Komentar