Pagi ini begitu cerah, sinar mentari menerobos diantara dedaunan dari pohon damar yang menjulang tinggi. Sinarnrya membentuk garis-garis diatara kabut tipis pagi. Tetesan air embun jatuh seperti air hujan membasahi humus yang selalu lembab agar proses pembusukan terus terjadi.
Empat anak-anak dan satu orang dewasa sepagi ini sudah menuruni lembah. Dengan langkah perlahan dituruninya setiap cekungan jalan menurun diiringi oleh kicauan burung. Tak ada banyak kata. Khusuk mendengarkan detak kehidupan hutan. Sesekali mereka melihat keatas diantara pepohonan tupai besar melompat dengan cekatan mencari makanan. Begitu sempurnanya alam bekerja.
“Ok. Kita berhenti disini!”Kata kak Budi sambil menghentikan langkahnya dan berbalik badan berhadapan dengan lima anak yang berjala dibelakang mengikutinya.
“Kita sekarang bersama-sama mengalami keberadaan sebuah pohon besar ini.”Kata kak Budi sambil menunjuk pohon yang paling besar diatara pohon lainnya.
“Sekarang kita hanya diam dan tidak perlu banyak bicara. Cukup mengamati dan mencium apa yang paling dominan kita alami.”Kata kak Budi lagi.
“Kamu semua boleh mencari tempat masing-masing dan tidak mesti bergelombol, karena itu akan mengganggu apa yang kamu lakukan.”Kak Budi menjelaskan.
Kemudian anak-anak itu mulai mengikuti apa yang diminta oleh kak Budi. Beberapa waktu kemudian terdengan suara kak Budi memanggil-mangil anak-anak untuk berkumpul. Suara kak Budi hampir tenggelam dalam gemuruh air terjun yang jaraknya hanya selemparan batu dari tempat kak Budi berdiri.
“Nah tadi kamu sudah mengamati apa yang mesti kamu amati. Sekarang kita sharingkan dari pengalaman itu.”Kata kak Budi membuka pembicaraan.
“Itu bisa dimulai dari Putri dan seterusnya.”Sambung kak Budi lagi.
“Tadi saya lihat ada lumut di batang pohon. Lalu saya juga melihat ada beberapa sejenis pohon yang menempel di batangnya.”Kata Putri menyudahi apa yang dilihatnya.
“Tadi saya lihat ada burung atas pohon dan ada binatang kecil tapi saya enggak tahu binatang apa itu.”Kata Fadlah.
“Saya lihat batang pohon itu basah. “Kata Iis
“Saya juga melihat bagian tanah diantara akar pohon itu basah, lalu saya juga melihat diantar humus semut berjalan beriringan membawa makanan.”Kata Anya.
“Good!”Kata kak Budi memuji.
“Sekarang mari kita lihat lagi bersama-sama agar apa yang kita lihat bisa saling melengkapi.”Ajak kak Budi sambil duduk diatas batu. Sementara anak-anak duduk hampir mengelilingi.
“Kita sudah melihat secara bersama-sama keberadaan sebuah pohon, mulai bagian atas sampai bawah. Apa yang kita lihat itu memeiliki fungsi dan peran bagi yang berdeda-beda tapi semua itu saling berhubungan satu dengan yang lain. Coba kita bayangkan, kalau daun-daun pohon itu kita hilangkan. Apa yang akan terjadi?” Tanyaku sambil menunjuk Putri.
“Air akan jatuh langsung ketanah!”Jawab Putri.
“Dan apa yang akan terjadi jika air langsung jatuh ketanah?”Tanyaku sambil menunjuk Fadlah.
“Tanah akan terbawa air!”Jawab Fadlah.
“Jika tanah terbawa air, apa yang akan terjadi?”Tanyaku sambil menunjuk Iis.
“Sungai akan butek!”Jawab Iis
“Sekarang kamu lihatkan! Satu bagian dari pohon itu hilang berarti akan menimbulkan akibat yang banyak.”Kataku menyimpulkan.
“Cobalah kamu mendekat tebih batu itu?”Kataku sambil menunjuk ke lereng bebatuan.
“Apa yang kamu lihat disana?”Tanyaku lagi.
“Air menetes kak!”Jawab anak-anak itu hampir serempak.
“Kenapa disana ada air menetes?”Tanyaku lagi.
Anak-anak saling berpandangan satu dengan yang lain, sementara Fadlah mengigit-gigit bukunya sambil mengoyang-goyangkan badannya.
“Coba kamu lihat diatas bebatuan itu? Ada apa disana?”Kataku sambil menunjuk hutan bagian atas tebing.
“Pohon kak!”Kata Fadlah agak ragu-ragu.
“Iya!”Kataku membenarkan.
“Karena pohon-pohon itu maka ada tetesan air di tebing itu!”Kataku lagi menjelaskan.
“Coba kamu perhatikan, dari tetesan-tetesan air itu lemana mengalirnya?”Tanyaku lagi sambil menunjuk jatuhnya air.
“Kesungai!”Jawab anak-anak hampir serempak.
“Iya!”Kataku membenarkan.
“Dan sekarang kamu tahu mengapa dibawah sana ada banyak pabrik berbahan dasar air!”Kataku penuh semangat.
“Iya kak!”Kata anak-anak sambil mengamati kak Budi seperti sedang pementasan monolog.
“Sekarang cobalah kamu mengucapkan satu kalimat yang mengungkapkan terima kasihmu pada pohon-pohon dihutan ini!”Kata kak Budi dengan nada lebih rendah sambil memandangi wajah anak-anak satu-persatu.
“Terima kasih hutan!”Kata Putri setengah berteriak dan dikikuti oleh anak-anak yang lainnya. Kemudian kami berkumpul dan photo bersama di batu besar dengan rasa syukur.

Posting Komentar