| Mobile| RSS

Emak Amah dan Nisfu Syaaban.

Kamis, 21 Juli 2011 | posted in | 0 comments


Nisfu Syaaban masih tiga hari lagi, tetapi seluruh warga kampung Lolongok sudahh disibukkan dengan persiapan menyambut hari itu.  Nisfu Syaaban adalah peristiwa hari ke-15 dalam bulan Syaaban tahun Hijrah. Warga kampung Lolongok  mempercayai  pada malam Nisfu Syaaban, amalan akan dibawa naik oleh malaikat untuk ditukar dengan lembaran amalan yang baru setelah setahun berlalu. Nisfu syaaban jugla menandai ditutupnya kegiatan pengajian selama bulan puasa  dan berdoa untuk para orangtua dan leluhurnya.  Keyakinan itu pulalah yang membuat Emak Amah rela sibuk mempersiapkan malam nisfu shaaban. Meski usianya tidak muda lagi tapi semangatnya tidak kalah dengan perawan kampung yang masih  muda. Diundangnya beberapa anggota pengajian kerumahnya pada sore hari setelah sholat ashar  sebelum  malam nisfu. Bagi Emak Amah ini merupakan hari yang sangat penting, karena dia ingin mendoakan bagi orangtuanya yang telah mendahulinya.  Pagi harinya anak Emak Amah yang paling besar sudah pergi keminimarket dan beberapa kebutuhan di pasar tradisional untuk membeli beberapa bahan makanan seperti supermi, gula pasir, beras, san kopi. Semua itu akan dibagikan kesetiap orang yang datang pada acara pengajian. Tahun ini Emak Amah diberi banyak rejeki. Rejeki yang tidak datang dengan sendirinya tapi dengan kerja keras dari pagi sampai malam hari. Bekerja dari satu rumah kerumah lainnya. Meski jalannya sudah tertatih-tatih baginya pantang untuk berpangku tangan berharap dari suaminya yang tidak jelas pekerjaannya.   Emak Amah melakukan itu dengan rasa syukur karena rejeki yang telah diterimanya. Itu diungkapkan dengan mengirim doa untuk para orangtua dan leluhurnya. Dua hari sebelum pengajian berlangsung  Emak Amah sudah membersihkan kuburan orangtua dan leluhurnya dari sampah daun bambu serta batang bambu yang sudah tumbang karena lapuk oleh kutu bambu.

Setelah sholat ashar Emak Aman sudah kelihatan rapih dan siap menyambut ibu-ibu  pengajian Kampung Lolongok. Tidak hanya rapih tetapi juga memakai wangi-wangian yang dibeli dipasar tradisional. Minyak tanpa alkohol.   Rumahnyapun telah digelari tikar plastik dan karpet serta halaman rumahnya pun sore itu sudah bersih dari sampah makanan kecil bekas cucunya dan anak tetangga yag setiap sore hari berkumpul dirumahny. Tidak lama kemudian para tamu dari ibu-ibu pengajian sudah mulai berdatangan, satu persatu mulai duduk diatas tikar yang sudah disediakan, tidak lama kemudian ruangan itu sudah dipenuhi tamu dan pengajianpun dimulai. Seperti biasa pengajian sore ini hanya dibacakan surat yasin kemudian pemberitahuan penutupan pengajian selama bulan puasa.  Selesai pembacaan surat yasin para tamu pulang membawa tas kresek berisi kebutuhan pokok yang sudah disediakan oleh Emak Amah.

Sore hari setelah sholat magrib musholah yang biasa sepi kini penuh dengan warga yang akan merayakan nisfu syaaban bersama-sama. Mulai dari anak kecil sampai orangtua yang sudah berkumpul di sana. Untuknya kampung Lolongok memiliki satu masjid besar  bagus  dan tiga musholah, jadi semua dapat merayakan nisfu syaaban bersama-sama. Tidak ada ruang kosong . mereka  masing-masing membawa buku surat yasin. Mbak Sri yang tidak pernah sholat berjamaah malam itu hadir di musholah bersama ibu-ibu lainnya. Mbak Sri malam itu mengenakan celaja jeans  dan mengenakan baju muslim serta kerudungan putih sambil membawa buku surat yasin. Bagi Mbak Sri meski kemusholah bukan berarti tidak modis. Bang Juki sudah mulai berdiri di mimbar dan memberi kata pembukaan maka perayaan nisfu syaaban dimulai. Tak lama kemuadia pembacaan surat yasin dipimpin oleh pak ustad bersama-sama orang yang hadir dimusholah, pembacaan surat yasin diulang-ulang sampai tiga kali.  Setelah itu ditutup dengan sholat isa. Meskipun pembacaan surat  yasin tidak menjadi sebuah keharusan tapi tidak ada salahnya membaca yasin pada malam ini dilakukan.  Itulah yang diyakini oleh orang-orang seperti Emak Amah dari pengajian kepengajian sejak masih muda sampai dia tua renta.
Nisfu Syaaban masih tiga hari lagi, tetapi seluruh warga kampung Lolongok sudahh disibukkan dengan persiapan menyambut hari itu.  Nisfu Syaaban adalah peristiwa hari ke-15 dalam bulan Syaaban tahun Hijrah. Warga kampung Lolongok  mempercayai  pada malam Nisfu Syaaban, amalan akan dibawa naik oleh malaikat untuk ditukar dengan lembaran amalan yang baru setelah setahun berlalu. Nisfu syaaban jugla menandai ditutupnya kegiatan pengajian selama bulan puasa  dan berdoa untuk para orangtua dan leluhurnya.  Keyakinan itu pulalah yang membuat Emak Amah rela sibuk mempersiapkan malam nisfu shaaban. Meski usianya tidak muda lagi tapi semangatnya tidak kalah dengan perawan kampung yang masih  muda. Diundangnya beberapa anggota pengajian kerumahnya pada sore hari setelah sholat ashar  sebelum  malam nisfu. Bagi Emak Amah ini merupakan hari yang sangat penting, karena dia ingin mendoakan bagi orangtuanya yang telah mendahulinya.  Pagi harinya anak Emak Amah yang paling besar sudah pergi keminimarket dan beberapa kebutuhan di pasar tradisional untuk membeli beberapa bahan makanan seperti supermi, gula pasir, beras, san kopi. Semua itu akan dibagikan kesetiap orang yang datang pada acara pengajian. Tahun ini Emak Amah diberi banyak rejeki. Rejeki yang tidak datang dengan sendirinya tapi dengan kerja keras dari pagi sampai malam hari. Bekerja dari satu rumah kerumah lainnya. Meski jalannya sudah tertatih-tatih baginya pantang untuk berpangku tangan berharap dari suaminya yang tidak jelas pekerjaannya.   Emak Amah melakukan itu dengan rasa syukur karena rejeki yang telah diterimanya. Itu diungkapkan dengan mengirim doa untuk para orangtua dan leluhurnya. Dua hari sebelum pengajian berlangsung  Emak Amah sudah membersihkan kuburan orangtua dan leluhurnya dari sampah daun bambu serta batang bambu yang sudah tumbang karena lapuk oleh kutu bambu.

Setelah sholat ashar Emak Aman sudah kelihatan rapih dan siap menyambut ibu-ibu  pengajian Kampung Lolongok. Tidak hanya rapih tetapi juga memakai wangi-wangian yang dibeli dipasar tradisional. Minyak tanpa alkohol.   Rumahnyapun telah digelari tikar plastik dan karpet serta halaman rumahnya pun sore itu sudah bersih dari sampah makanan kecil bekas cucunya dan anak tetangga yag setiap sore hari berkumpul dirumahny. Tidak lama kemudian para tamu dari ibu-ibu pengajian sudah mulai berdatangan, satu persatu mulai duduk diatas tikar yang sudah disediakan, tidak lama kemudian ruangan itu sudah dipenuhi tamu dan pengajianpun dimulai. Seperti biasa pengajian sore ini hanya dibacakan surat yasin kemudian pemberitahuan penutupan pengajian selama bulan puasa.  Selesai pembacaan surat yasin para tamu pulang membawa tas kresek berisi kebutuhan pokok yang sudah disediakan oleh Emak Amah.

Sore hari setelah sholat magrib musholah yang biasa sepi kini penuh dengan warga yang akan merayakan nisfu syaaban bersama-sama. Mulai dari anak kecil sampai orangtua yang sudah berkumpul di sana. Untuknya kampung Lolongok memiliki satu masjid besar  bagus  dan tiga musholah, jadi semua dapat merayakan nisfu syaaban bersama-sama. Tidak ada ruang kosong . mereka  masing-masing membawa buku surat yasin. Mbak Sri yang tidak pernah sholat berjamaah malam itu hadir di musholah bersama ibu-ibu lainnya. Mbak Sri malam itu mengenakan celaja jeans  dan mengenakan baju muslim serta kerudungan putih sambil membawa buku surat yasin. Bagi Mbak Sri meski kemusholah bukan berarti tidak modis. Bang Juki sudah mulai berdiri di mimbar dan memberi kata pembukaan maka perayaan nisfu syaaban dimulai. Tak lama kemuadia pembacaan surat yasin dipimpin oleh pak ustad bersama-sama orang yang hadir dimusholah, pembacaan surat yasin diulang-ulang sampai tiga kali.  Setelah itu ditutup dengan sholat isa. Meskipun pembacaan surat  yasin tidak menjadi sebuah keharusan tapi tidak ada salahnya membaca yasin pada malam ini dilakukan.  Itulah yang diyakini oleh orang-orang seperti Emak Amah dari pengajian kepengajian sejak masih muda sampai dia tua renta.

0 Responses So far

Posting Komentar

Bamboo Leaf Gallery Photos