Sholat Isa baru saja berlalu, tidak lama terdengar seorang ibu bicara keras-keras di rumah sebelah,
diikuti suara tangisan bocah kecil, Alim. Tidak lama berselang terdengar suara pintu dibanting, getarnya sampai dikamar kak Budi yang kebetulan bersebelahan dengan suara pintu dibanting.
“Bu .... ampun .... jangan kunciin Alim dikamar ... Alim takut ...”Suara Alim memohon pada ibunya berulang-ulang sambil mengodor-gedor pintu dengan tangan kecilnya minta dikeluarkan dari kamar. Sementara ibunya masih berteriak-teriak memarahi tanpa menghiraukan anaknya yang minta ampun. Dari kamar sebelah Kak Budi berusaha mendengarkan apa yang dikatakan oleh ibunya tapi yang terdengar hanya teriakan-teriakan tanpa intonasi yang jelas. Akhirnya Alim dikeluarkan dari kamar gelap yang membuatnya ketakutan, kini suaranya terdengar didapur. Dasar Alim, ketika ibunya membuka pintu dapur spontan saja dia menerobos keluar dan lari ke kamar kak Budi melalui pintu depan sanggar.
“Kak Budi ... tolong Alim ... ibu jahat ... “Kata Alim berulang-ulang sambil berlari. Sementara ibunya mengikuti dari belakang sambil berteriak-teriak tidak jelas. Ketika Alim mendapatkan kak Budi dan membawanya masuk kedalam. Melihat itu ibunya Alim tidak berani meneruskan pengejarannya, karena pintu sudah ditutup lebih dahulu oleh kak Budi yang kelihatan tidak setuju dengan cara marah ibunya Alim.
Melihat seluruh pakaiannya basah oleh keringat, kak Budi mengambil handuk kecil yang tergeletak diatas kotak baju tempat biasa kak Budi menyimpan pakaian. Kemudian disekanya keringat yang membasahi seluruh badannya dan menggantikan pakaian Alim dengan t-shirt ka Mira.
“Kamu sudah makan belum Lim?”Kataku sambil mengelus-elus kepala Alim. Alim hanya menganggukkan kepalanya tanpa berkata apapun. Kemudian kak Budi kedapur untuk mengambil sepotong roti dan susu kotak yang tadi siang baru dibelinya. Diberikannya roti dan susu kotak itu kepada Alim.
“Kamu makan rotinya dulu ya Lim.”Kata kak Budi sambil menyerakhan roti itu.
“Mau susu ... “Kata Alim manja.
“Sebentarnya, saya buka dulu.”Kata kak Budi sambil menusukkan sedotan ke lubang susu kotak.
“Nih susunya. Pelan-pelan aja minumnya, nanti keselek.”Kata kak Budi memperhatikan wajah Alim yang kelihatan capek.
“Kak .... Alim mau mie rebus soto ayam ... “Kata Alim dengan suara manja sambil sesegukan.
“”Ayo ikut kakak ke dapur, kita buat mie ayam rasa soto.”Kata kak Budi dengan suara sedikit menggoda. Kak Budi berjalan menuju dapur dan Alim mengikuti dari belakang. Alim duduk dibangku kecil dekat tempat mencuci piring sambil memperhatikan kak Budi membuat mie rebus rasa soto kesukaan Alim. Hampir 10 menit membuat mie, akhirnya Alim kini sedang menikamati mie rasa soto buatan kak Budi.
“Lim, .. sekarang tidur ya. Sudah malam. Kamu tidur dengan kak Budi pakai tikar ya ... “Kata kak Budi sambil ternyum. Alim hanya tersenyum malu melihat eksprsi kak Budi.
“Nih, bantal kamu.”Kata kak Budi sambil meletakkan kepalanya diatas bantal dan kak Budi tidur disebelahnya.
“Kak ... Alim dikelonin ... “Kata Alim sambil meletakkan tangannya di badan kak Budi dan kakinya ditumpangi kepinggang kak Budi.
“Masa Alim dibilang ngambil duit ibu!”Kata Alim mulai cerita.
“Pasti a’ Akung yang ambil duit ibu. Ibu jahat!”Sambung Alim lagi. Sementara kak Budi hanya mendengarkan apa yang dikatakan Alim, sampai akhirnya dia tertidur.
Keesokan paginya Emak Amah melihat Alim sedang duduk-duduk di atas panggung yang terbuat dari papan tenis meja meledek Alim.
“Lim ... siapa yang jahat?”Ledek Mak Amah.
“Ibu!”Jawab Alim ketus.
“Kalau kak Budi?”Tanya Mak Amah lagi.
“Kak Budi baik!”Jawab Alim ketus lagi. Tak lama kemudian ibunya Alim lewat halaman sanggar dan Alim hanya memandangi saja.
Posting Komentar