| Mobile| RSS

Buku Pelajaran .... !

Buku pelajaran, sebelum tahun 85 an selalu bisa dipergunakan kembali oleh adik kelas, tapi setelah tahun berikutnya tidak demikian. Tahun ajaran baru menggunakan buku baru pula dan setelah itu menjadi sampah! Bisnis bukupun menjadi bisnis sekolah dengan penerbit, tentunya dengan keuntungan dikedua belah pihak. Lumayan untuk sampingan para guru pada waktu itu yang berpenghasilan rendah. Tapi itu dulu! Sekarang, sama saja! Tapi polanya pendistribusian yang dirubah. Di Kampung Lolongok Mak Ijah yang dulu menjual kebutuhan sehari-hari  kini tambah satu jenis lagi barang dagannya. Buku pelajaran sekolah!  Tanpa modal sepeserpun Mak Ijah kini bisa menjual buku pelajaran.  Pak Junaedi guru olah raga di Kampung Lolongok kebetulan masih kerabat Mak Ijah  memberi mandat untuk itu. Semua anak yang sekolah di tempat Pak Junaedi mengajar  diarahkan ke warung Mak Ijah. Masalah harga buat warga Kampung Lolongok terasa mencekik leher.  Tapi apa mau dikata! Ada uang ada barang!  Jangan salahkan kalau warga Kampung Lolongok menjadi sangat pragmatis.  Ketika kader partai agama menawarkan bantuan untuk anak akan langsung diambil. Itu peluang emas bagi warga kampung Lolongok. Tidak masalah setelah itu para orangtua berduyun-duyun mengikuti kegiatan rutin keagamaan yang diadakan oleh kader partai agama meskipun mereka tidak berminat! Bagi warga kebanyakan Kampung Lolongok yang penting semuanya ‘LANCAR’.  

Terik mentari terasa menyengat menemani  Cahyati menelusuri jalan raya kampung yang tidak lagi ditanami pohon rindang.   Mata Cahyani terasa perih karena keringat terus bercucuran membasahi matanya.  Pikirannya tertuju pada Pak Ilham, guru IPA. Cahyani masih ingat ketika Pak Ilham menjelaskan tentang pemanasan global. Ditandai dengan meningkatnya panas matahari karena rusaknya lapisan ozon dan meleleahnya kutub utara dan selatan.  
“Din ... dit ...”Bunyi klakson motor motor Bang Aziz mengagetkan Cahyani.
“Yah ... bukan dari tadi jemputnya!”Kata Cahyani sambil cemberut kepada ayahnya. Ayahnya hanya tersenyum mendengar anaknya protes.
“Udah cepet naik!”Kata Bang Aziz sambil memperhatikan kaki Cahyani mengijak salah satu pedal untuk bisa duduk di jok belakang.
“Udah?”Kata Bang Aziz memastikan Cahyani sudah duduk dengan nyaman di jok belakang. Sekali lagi ditengoknya Cahyani sekali lagi sebelum  Aziz memacu motornya.
Sesampainya dirumah Cahyani seperti biasa melepaskan sepatu dan meletakkan tas sekolahnya di atas meja disebelah TV. Setelah itu dia langsung kedapur dan emakya sudah  menyiapkan  makan siang,  Cahyati kelihatan lahap dengan makan siangnya, sementara Aziz ayah Cahyati memperhatikan anaknya sambil senyum penuh kebahagiaan. Tak ada kata yang bisa mengungkapkan perasaan itu, selain kata cinta ayah pada anaknya.

Sepulang dari pengajian Cahyati langsung membuka tas sekolah miliknya untuk melihat tugas sekolah yang harus dikerjakan sore ini.
“Wah ... PR matematika! Pinjem buku sama siapa ya ...?”Pikir Cahyati dalam hati, sambil mengingat beberapa teman yang bisa dipinjami buku paket matematika. 
“Mak, mau kerumah  Nuriah .... “Kata Cahyati sambil mengenakan sandal dan berlalu.
“Eh .... ! Mau ngapain ?”Teriak emaknya Cahyati sambil berlari ke pintu.
“Mau pinjem buku matematika!”Balas Cahyati sambil terus berjalan.
“Jangan lama-lama !”Teriak emaknya lagi. Cahyati terus saja berjalan seakan tidak menghiraukan ucapan emaknya.
Tidak sampai seperempat jam Cahyati sudah kembali dengan buku matematika pinjamannya. Terlihat cerah diwajah Cahyati bisa mendapat pinjaman buku. Itu artinya dia bisa mengerjakan tugas yang diberikan oleh sekolah. Cahyati berusaha menyelesaikan setiap tugasnya lebih cepat  karena dia tahu buku yang dipinjamnya belum dipergunakan oleh pemiliknya.  Butuh waktu lama untuk Cahyati dapat menyelesaikan tugas dua puluh lima soal.  Emaknya cukup penat  juga mendampingi Cahyati menyelesaikan tugas dari sekolah. Maklum emaknya Cuma lulusan sekolah lanjutan pertama.  Kampung Lolongok sudah selepas magrip sudah terasa sepi dan Cahyati menunda mengembalikan buku Nuriah.
“Mak ! besok ingetin Cahyati ya .... mau mulagin buku!”Pinta Cahyati sambil meletakkan buku matematika pinjaman diatas TV.
“Iya!”Balas emaknya sambil melihat buku itu diletakkan.

Keesokan harinya sebelum Cahyani pulang sekolah, ibunya Nuriyati datang kerumah Cahyati untuk mengambil buku matematika milik anaknya.
“Eh .... pulangin dong tuh buku! Gue beliin anak gue suapaya Nuriyati  enggak minjem sama orang!”Emak Nuriyati marah-marah sambil bertolak pinggang.
“Maaf ya  mpok, .... saya bukan enggak mau mulangin. Tadi saya kerumah mpok tapi pintunya ditutup.”Jelas emaknya Cahyati merasa enggak enak dengan perkataan mpok Saadah.   
“Gue mau pergi  mau pergi entar kalau Nuriyati pulang kasih aja sama dia!”Sahut mpok Saadah dengan ketus sambil pergi meninggalkan emaknya Cahyati terbengong-bengong seorang diri.
“Ya Allah .... hidup gue gini amat sih.”Kata Mpok Romlah dalam hati. Persaannya begitu ngenes diperlakukan begitu oleh mpok Saadah. Mpok  Rompalh masuk kedalam rumah dan ditemui suaminya yang sedang tidur setelah pulang dari bekerja sebagai satpam.
“Bang .... bang .... ya Allah ..... bang .... “Mpok Romlah sambil mengguncang-guncang bahu suaminya  sampai bangun.
“Apaan sih?”Kata suaminya jengkel dan berusaha membuka matanya lebar-lebar.
“Makanya bang beliin buku pelajaran buat anak  kita! Biar enggak dihina sama orang!”Kata mpok Romlah dengan mata berkaca-kaca.  Melihat istrinya, Gatong tidak bisa ber bisa berkata apa-apa. Dia sebagai suami tidak punya alternatif untuk  bisa mencari tambahan. Waktunya habis untuk bekrja sebagai satpam dan pulang dua hari sekali agar bisa menghemat pengeluaran.

Keesokan pagi tanpa diketahu Cahyati, mpok Romlah pergi kesekolah anaknya untuk bisa bertemu dengan wali kelas Cahyati. Ada banyak harapan jika bisa bertemu dengan wali kelas Cahyati, terutama tentang buku paket matematika.  Sesampainya disekolah diketuknya pintu ruangan para guru.
“Assalammualaikum .... “Kata mpok Romlah sambil menundukkan bahunya. Matanya tertuju pada satu orang yang duduk disudut ruangan.
“Waalaikum salam.”Sahut guru-guru diruangan itu.
“Ada apa bu. “Sapa wali kelas Cahyati dengan sopan.
“Silahkan duduk disini bu.”Belum sempat menjawab, mpok Romlah sudah dipersilahkan duduk didepan meja wali kelas Cahyati.
“Pak, saya mau minta tolong .... bisa nggak Cahyati punya buku paket matematika. Saya kasihan kalau pas ada pekerjaan rumah dari sekolah. Pinjem sana-pinjem sini. Kalau pas enggak tipakai sih enggak apa-apa tapi kalau pas dipake saya enggak enak sama orangtuanya.”Mpok Romlah menjelaskan perlahan-lahan, matanya hampir berkaca-kaca karena teringat peristiwa kemarin dengan mpok Saadah. 
“Tapi saya enggak punya duit banyak buat beli buku itu. Kalau boleh saya cicil.”Mohon mpok Romlah setengah menundukkan wajahnya.
“Ambil saja buku matematika ini.”Kata wali kelas sambil menyodorkan buku matematika.
“Untuk beberapa buku tidak usah dibeli, tidak apa-apa. Yang penting Cuma beberapa.”Wali kelas Cahyadi menyodorkan beberapa buku paket kepada mpok Romlah.
“Terus bayarnya gimana pak?”Tanya mpok Romlah.
“Kalau ibu punya uang, silahkan bayar. Dicicl boleh.”Kata wali kelas sambil tersenyum. Kemudian mpok Romlah mengambil buku yang telah disodorkan itu.
“Kalau gitu saya terima kasih pak. Saya janji kalau punya uang berapa aja aka saya langsung bayarin utang buku ini.”Mpok Romlah berusaha menyakinkan wali kelas Cahyati.
“Kalau begitu saya permisi mau pulang pak!”Mpok Romlah berdiri sambil membungkukkan bahunya.
“Silahkan bu. “Kata wali kelas sambil tersenyum.
Mpok Romlah pulang dengan hati gembira, kini Cahyati punya buku paket dan tidak mesti pinjam lagi.             

Minggu, 07 Agustus 2011 | posted in | 0 comments [ More ]

Mesin Cuci

Pagi hari Bang Aziz pulang dengan mata kuyuk karena pekerjaan itu kini hidupnya dibalik, siang menjadi malam dan malam menjadi siang. Tapi apa mau dikata baginya cuma kesempatan waktu itulah dia bisa mendapatkan pekerjaan. seperti biasa Bang Aziz pulang kerumah dan tidak langsung tidur tetapi pergi kewarung untuk membeli beras tiga liter untuk makan hari ini sampai besok pagi dan kopi hitam untuk dirinya sebagai teman santai sambil ngopi.  Pagi ini merupakan hari yang membahagiakan dirinya. Dia mendapatkan uang  satu juta sebagai uang tunjangan hari raya. Sebagai buruh harian lepas tunjangan itu diluar ketentuan aturan dari kesepakatan kerja di tempatnya menggantungkan hidup yang telah dijalani lebih dari lima tahun.
"Bang nih kopinya."Sahut sang istri tanpa ekspresi.
"Tarok disitu!"Kata Aziz sambil menghisap rokok. Semua seperti biasa tidak ada yang istimewa.
"Ety, nih uang ... dari tempat kerjaan."Aziz memberikan amplop coklat kepada istrinya.
Dan Etypun membuka amplop itu dan menghitung jumlah uang didalam amp;ot itu.
"Satu juta Ziz>"Tanya istrinya sambil memandangi wajah Aziz  dengan tatapan menyelidik. Seperti biasa Aziz tidak menghiraukan tatapan Ety istrinya. Aziz sudah terbisa dengan tatapan itu.
"Wah, bisa beli mesin cuci perti punyanya Mpok Acih, lumayan enggak usah ngucek pakaian lagi... tapi masih kurang seratus ribu lagi? hmm ... pinjem sama Mpok Tiur."Ety berguman dalam hati. Tanda disadari Ety, Aziz yang sejak tadi memperhatikannya. Aziz selalu berusaha menahan diri untuk i bertanya pada istrinya. Sudah tidak ada lagi tenaga untuk itu.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali setelah mengantar kedua anaknya Ety pergi ketoko elektronik. Dipilihnya mesin cuci yang sesuai dengan uang yang dimilikinya. Setelah tawar-menawar akhirnya kesepakatan terjadi dan hari itu juga mesin cuci diantar ke rumah kontrakan Ety. Begitu bangganya Ety bisa membeli mesin cuci seperti milik Mpok Acih. Pikirannya dipenuhi dengan kebanggan bisa membeli dan memiliki mesin cuci itu. Sekarang dirinya sudah sama dengan para tetangganya yang lain. Kini Ety tidak perlu lagi merasa minder dengan tetangganya.
"Eh ... habo borong nih ... "Kata Mpok Acih ketika mobil pengantar mesin cuci melewati samping rumahnya.
"ini sih nggak borong Cih ... "Kata Ety dengan rasa penuh bangga sambil mlengos melihat kedepan jalan untuk memberi tahu mobil itu dimana harus berhenti.

Hampir satu bulan Ety hidup dengan mesin cuci, kini dia tidak perlu lagi mengucek dan mengilas setiap pakaian, kini dia  mencuci pakaian cukup tiga hari sekali. Ada banyak waktu luang dengan adanya mesin cuci itu dan dia bisa ngobrol dengan para tetangganya atau sekali-sekali pergi kerumah orangtuanya untuk ngobrol dengan adik kandungnya sambil menunggu anaknya selesai sekolah. Pembicaraan Ety tidak jauh seperti ibu-ibu kampung di pinggiran kota. Ibu-ibu yang selalu takjub dengan barang-barang elektronik yang banyak dimiliki oleh kaum urban yang tinggal di kampung Lolongok. Kaum urban di Kampung Lolongok suami dan istri harus bekerja untuk mimpi-mimpi keluarga mereka dikemudian hari.
"Aziz .... ziz .... bangun .... !"Ety menguncang-guncang badan suaminya.
"Apaan sih .... "Jawab Aziz enggan membuka matanya.
"Bulan ini kita mesti bayar listri hampir dua kali lipet dari bulan kemaren!"Kata Ety lagi kelihatan serba salah.
"Makanya dipikir dulu kalau mau beli mesin cuci!"Kata Aziz sebenarnya enggan mengatakan itu pada istrinya.
"Nah elu sih enak, enggak ngerain nyuci pakean sama ngurusin anak-anak!"Ety membela diri.
"Elo kan tahu setiap hari gue cuma dapat duit lima puluh ribu!Buat beli bensin sama makan gue aja di tempat kerjaan udah banyak, belom lagi buat masak sama jajan anak-anak! Elo pikir aja sendiri!"Aziz kelihatan tidak berdaya dan tidak tahu harus menjelaskan apa. Hanya itu yang di lakukan setiap harinya selama bertahun-tahun.
"Ngobyek apa kek Ziz? Buat cari tambahan, masak elo nggak bisa. "Ety terus mendesak Aziz yang masih ngantuk.
"Elo aja sana cari obyekan, ngapin kek sono! Minta ama babak loe!"Aziz kelihatan mulai terdesak.
"Elo laki apan sih, nggak bisa cari tambahan buat bayar listrik!"Ety terus mendesak Aziz.
"elo kan tahu kerjaan gue itu apaan dan elo juga tahu berapa duit gue! kenapa elu masih juga ngotot beli mesin cuci!"Kata Aziz bangkit berdiri sambil memandang tajam mata istrinya.
"Jual tuh mesin cuci, bikin susah laki aja!"Kata Aziz lagi menahan marah.
"Ya enggak bisa dong .... elo mau enaknye doang !"Ety merasa terpojok. Kemudian Aziz keluar rumah dan berusaha menghindari pertengkaran dengan istrinya.
"Pokoknya gue enggak mau tahu! Elo harus cariin duit buat bayar listri!"Ety bertambah emosi melihat Aziz keluar dari rumah dan kata-katanya mulai tidak teratur dan terkendali. Seperti miteliur.
"Plak."Aziz membalik sambil menampar isrtinya dan Etypun lari kerumah tetangganya sambil teriak minta tolong. Akhinya para tetangga kiri dan kanan berkumpul untuk melihat apa yang terjadi. Uwak Napi juga tidak ketinggalan datang dan melerai pertengaran itu.
"Kenape sih ...! udah pada tua masih aje ribut! enggak malu apa sama tetanga dan anak-anak!"Uwak Napi berusaha menenangkan pertengkaran itu.
"Ayo masuk! Udah punya anak dua kok ribut sih! Emangnye enggak bisa diomongin! Kapan mau jadi orang tua yang baik! Guw enggak mau denger ribut-ribut lagi dan belajar selesaiin masalah dan enggak pake pukul-pukulan!"Kata Uwak Napi sambil merangkul Aziz dan Ety.
"Udah nye gue balik dan elo selesain baik-baik."Uwak Napi mengulangi lagi kata-katanya dan berharap Aziz dan Ety bisa menyelesaikan persoalan itu dan Uwak Napi pun pamit pulang.

Gonzaga, 03/08/11

Kamis, 04 Agustus 2011 | posted in | 0 comments [ More ]

Kak Jojo Jalannya Lelet ... !

Setelah semua persiapan dipenuhi merekapun memulai perjalanan pendakian, yang istimewa dari pendakian ini berjalan bersama anak-anak kecil kelas empat sampai 6 sekolah dasar. Mereka berempat sementara yang besar dua orang Jojo dan Lukman. Ini pendakian mereka ke tinggian 1.335 , dpl, ada banyak kemungkinan kegiatan pendakian ini tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Jojo sidah mengantisipasi segala kemungkinan itu dan dia berjalan dibagian paling belakang. Lukman berada barisan paling depan yang sebelumnya sudah diberitahu Jojo untuk memperlambat langkahnya. Itu strategi sederhana untuk pemula yang selalu dilakukan Jojo ketika membawa anak-anak berkegiatan pendakian untuk pemula. Pada trak pertama kelihatan sekali Fadlah yang berbadan lebih besar mengalami kesulitan pernapasan karena langkahnya terlalu cepat hingga jantungnya butuh kerja keras untuk memompa darah keseluruh bagian tubuhnya ditambah faktor  udara yang renggang diketinggian. Lukman yang berada paling depan memperlambat langkahnya melihat Fadlah kepayahan sementara tiga anak lainnya tidak banyak mengalami kesulitan. Jojo yang berada dibagian belakang berjalan  melambatkan lagi langkahnya, bukan hanya usia saja yang membatasi tetapi juga tidak pernah rajin berolah raga. Jojo selalu mengajak anak-anak ke alam, itu sudah dilakukannya sejak dulu. Ada yang mau disampaikannya melalui kegiatan dialam untuk anak-anak. Ini tentang beberapa keprihatinannya akan kerusakan alam karena eksplotasi berlebihan oleh manusia.  Satu jam perjalanan sudah dan semua anak  baru dapat menyusuaikan seluruh tubuhnya pada ritme trakking mendaki.
"Ayo jalan terus ... kita kalain kak Jojo! Jangan sampai kesusul!"Kata Lukman memberi semangat keempat anak-anak.
"Tenang aja, kak Jojo jalannya kayak keong."Ledek Putri  sambil ketawa kecil.
"Iya a'k Lukman, enggak mungkin kak Jojo bisa nyusul kita ... !"Kata Anya penuh semangat. Sementara Fadlah diam saja mendengarkan teman-temannya ngeledek Jojo. Lain halnya dengan Iis, dia hanya  mendengarkan saja  teman-temannya meledek, hanya sekali-sekali tertawa kecil mendengar ocehan itu.
Satu setengah jam perjalanan sudah terlewati sementara trakkingnya terus mendaki dan semakin terjal, tampak diwajah anak-anak kelelahan mulai kelihatan. Mereka sebentar-sebentar berhenti untuk istirahat sambil minum dari air persediaan yang mereka bawa dari perkemahan.
"Mana kak Jojo kok enggak ada dibelakang kita!"Kata Putri sambil memeriksa Jojo dari antara celak pohon dan semak belukar hutan.
"Itu kak Jojo!"Kata Iis sambil tangannya menunjuk kearah Jojo tepat ada dibawah mereka.
"Ayo kita jalan lagi, entar kak Jojo marah kalau kita ketahuan istirahan."Kata Anya sambil mengangkat backpacknya ke punggung.
"Ayo ... ayo ... "Kata Lukma memperhatikan anak-anak yang belum juga mulai berdiri.
"Makanya jangan keseringan istirahat! Pasti berat lagi kalau mulai jalan! Kak Jojo jalannya pelan tapi enggak pernah istirahat, lihat aja tuh  dia selalu bisa nyusul kita. "Lukman menjelaskan.
Akhirnya merekapun meneruskan pendakian itu, sampai akhirnya mereka menempuh perjalanan lebih dari tiga jam dan kini berada dipersimpangan ke puncak Gunung Salak - Kawah Ratu dan Pos Pendakian. Anak-anakkembali istirahan sambil minum mereka mengamati apa yang ada disekitar mereka.
"Eh .... dari tadi kita jalan enggak pernah ketemu anak kecil seperti kita ya?"Anya penuh keheranan.
"Iya ... ya ... ! Terus orang-orang lucu deh, masak kalau ketemu kita dia bingung. Ada anak kecil naik gunung ... "Celetuk putri sambil kecicikan.
"Terus dia tanya, kamu dari sekolah apa sambil ngeliatin kaos kita."Sambung Putri berusaha memahami apa yang ada dipikiran orang dewasa yang selalu berpapasan dengan mereka dan selalu mengomentari mereka.
"Kita jadi ngetop Put ... "Sahut Anya sambil senyum-senyum.
"Iya ... ya kita kayak artis."Fadlah menanggapi komentar Anya dibarengi dengan ketawa geli sambil membayangkan dirinya artis. Iis yang berada disebelahnya ikutan ketawa cekikikan.
Lukma yang sejak tadi memperhatikan pembiraan empat anak itu tidak bisa menahan geli "Artis nih yee ... he .... he ... "Kata Lukman tidak tahan.
"Eh ... eh .... kak Jojo udah kelihatan, yuk kita jalan lagi!"Ajak Lukman sambil memberi aba-aba.
"Yuk ... yuk ... kak Jojo ganggu aja orang lagi ngobrol .... hi ... hi ... hi ... "Gerutu putri sambil cekikan.
Tiga jam lebih perjalanan akhirnya mereka sampai juga di puncak Kawah Ratu.
"Ini puncak gunung ya a'k Lukman?"Tanya Putri sambil menark tangan Lukman ke bibir kawah.
"Entar tanya sama kak Jojo, saya enggak tahu!"Jawab Lukman bigung, mencari tanda-tanda puncak Kawah Ratu.
"Nah, itu kak Jojo!"Kata Iis sambil menunjuk kearah Jojo.
"Kak ... kak ... kak ... mana puncaknya? emang kita sudah sampai?"Kata Putri sambil menunjuk kearah kawah.
"Ya ini puncaknya. Memang kamu pikir dipuncak gunung ada tontonan!"Kata Jojo bermaksud meledek Putri dan anak lainnya.
"Nah sekarang kita minum yang puas sambil ngemil crackers. Biar enggak lapar ... "Canda Jojo lagi.
"Kak, kita turun lagi yuk. Kitakan udah sampe!"Ajak Anya kelihatan kecewa.
"Para pendaki gunung bersusah payah mendaki hanya untuk sampai dipuncaknya."Jojo berusaha menjelaskan.
"Sekarang kkita berada dipuncaknya, kenapa kita berusaha menikmatinya dengan minum dan makan crackers"Ledek Jojo lagi sambil mengedipkan mata ke Putri.
Jojo pergi kesemak belukar entah mencari apa, anak-anak hanya memperhatikan dari kejauhan dan hilang dari pandangan mata.
"Kamu tahu rahasianya kok Jojo kalau mendaki gunung .... "Lukman mencoba menarik perhatian  anak-anak. "Kak Jojo kalau naik gunung selalu menikmati setiap langkahnya, itu yang menyebabkan dia jalannya seperti lamban!"Lukman mencoba menjelaskan sambil memandangi wajah anak-anak satu persatu. Suatu saat kalau kita bisa naik gunung yang lebih tinggi kita menggunakan langkah kak Jojo, supaya lebih hemat tenaga dan tidak usah terburu-buru."Lukman menjelaskan lebih rinci bagaimana strategi mendaki gunung. "Coba kita lihat deh! Kita lebih capek kan?Lukman menggoda keempat anak yang sedang menikmati crackers.  "Terus satu lagi, jangan pernah memetik bunga di perjalanan? Tahukan akibatnya? Kamu kena damprat kak Jojo!"Kata Lukman sambil mesem-mesem.
"Eh, kita idah satu jam nih! mana Kak Jojo? Kita turun supaya enggak kena hujan."Lukman khawatir melihat langit mendung dan berteriak memanggil Jojo.
"Jo, turun .... "Kata Putri ngedek Jojo.
"Ayo kita kemon. Periksa barang-barang jangan sampe ketinggaln. Terutama sampah plastik dari biscuit crackers!"Jojo selalu mengingatkan untuk kesekian kalinya sambil matanya kesana kemari, kalau -kalau ada sampah yang tertinggal.
"Bawel hi ...hi..."Kata Putri merasa puas bisa ngeledek Jojo.
"Ayo turun!"Lukman memberi aba-aba sambil berjalan dibagian paling depan.

| posted in | 0 comments [ More ]

Ketika Benih Mimpi Di Tabur .... !

Hari ini minggu terakhir dari kegiatan akhir semester genap, berarti minggu depan tets segera akan dimulai. Tidak terlihat diwajah teman-teman Rachman yang kelihatan tegang karena hari itu tinggal didepan mata. tidak terkecuali Rachman. Sedang asik-asiknya Rachman bergurau dengan teman cewek satu kelasnya, tiba-tiba dia dikejutkan dengan hadirnya petugas tata usaha sekolah.
"Rachman, kamu dipanggil oleh ibu kepala sekolah!"Kata petugas tata usaha sambil menepuk-nepuk bahu Rachman.
"Ada apa pak?"Tanya Rachman diliputi kecemasan. Kemudian Rachman pergi menuju ruang kepala sekolah, yang pintunya tidak pernah ditutup kecuali ada pembicaraan khusus.
"Siang Bu ... Ibu panggil saya?"Tanya Rachman sambil memandangi wajah kepala sekolah dengan gusar.
"Duduk Rachman."kata kepala sekolah sambil tersenyum untuk mengurangi ketegangan di wajah Rachman.
"Rachman, kabarnya om kamu gimana?"Kepala sekolah membuka pembicaraan siang itu. Pernyaan yang langsung bisa ditangkap maksudnya oleh Rachman. Pertanyaan yang kalau bisa dihindari oleh Rachman.
"Baik Bu."Kata Rachman berusaha tetap tenang.
"Minggu depan kamu sudah test, dari catatan administrasi yang ibu terima dari tata usaha, kamu ada tunggakan empat bulan."Kata kepala sekolah merinci sambil menyodorkan catatan tunggakan biaya sekolah. Dari matanya Rachman kelihatan gelisah. Dia tidak tahu bagaimana harus menjelaskan keadaan yang sebenarnya.
"Bisa tidak, om kamu menyelesaikan segala tunggakan sebelum kamu test minggu depan?"Kata kepala sekolah lagi. Sementara Racman hanya menundukkan kepala sambil memainkan jari tangannya.
"Ini surat untuk om kamu. Besok saya tunggu siang hari."Kata kepala sekolah sambil menyodorkan surat kepada  Rachman.
"Baik bu."Kata Rachman tidak semangat. Kemudian Racmanpun keluar dari ruang kepala sekolah kembali ke menemui teman-temannya.
"Ada apaan dipanggil kepala sekolah Man?"Tanya salah seorang temannya sambil senyum-senyum.
"Biasa, masih punya utang sama sekolah."Kata Racman sambil senyum-senyum serba salah. Tidak lama kemudian bel masukpun berbunyi dan semua murid SMK itu berhamburan masuk kekelas masing-masing. sementara Rachman pikirannya dipenuhi kegalauan. Dia tidak tahu mesti bagaimana mengatakan ini pada Jojo.

Jam lima sore Rachman menelusuri jalan kampung Lolongok yang ramai dengan orang tua sedang kongkow di depan beberapa rumah warga. Biasa sambil menunggu magrib biasanya mereka menghabiskan waktu untuk menyuapi anak-anaknya sambil ngerumpi mertuanya atau membicarakan beberapa teman pengajian yang selalu mengenakan baju bagus yang dibeli di pasar.  Dari kejauhan Rachman melihat Jojo sedang bermain dengan beberapa anak di beranda rumah. Pikirannya dipenuhi dengan keraguan untuk membicarakan hasil pembicaraannya dengan kepala sekolah. Tapi surat itu harus disampaikannya tidak bisa tidak.
"Assalammuallaikum."Rachman memberi salam dari depan halaman sanggar.
"Waalaikum salam"Jawab anak-anak hampir serempak. Rachman mendekati Jojo sambil membawa surat dari kepala sekolah yang hendak disampaikan kepada Jojo.
"Kak, ini dapat surat dari sekolah. Senin minggu depan mau test. Kepala sekolah bilang semua tunggakan mesti dilunasi."Racman menjelaskan hasil pertemuannya dengan kepala sekolah sambil menyodorkan surat dari kepala sekolah ke Jojo.
"Taruh diatas komputer Man!"Kata Jojo meneruskan permainannya kembali bersama anak-anak. Rachman kembali kerumahnya untuk mandi sebelum kesanggar lagi.
"Kak ... saya ada PR, nanti ajarin ya ... "Kata Putri manja.
"Nanti Kak Racman aja yang mengajari kamu. Sehabis sholat magrib ya ... "Kata Jojo sambil bercanda guling-gulingan dilantai dengan Alim.
"Eh ... sudah magrib, kita berhenti dulu! Sekarang kamu semua pulang dulu. Nanti setelah sholat kita main lagi."Kata Jojo sambil melepaskan tangan anak-anak dari bajunya. Akhirnya mereka pulang semua dan sanggar seketika menjadi senyap dari kegaduhan anak-anak.

Selesai mengajarkan tiga anak menyelesaikan PR sekolah, Rachman duduk di tepi kolam sambil memandangi ikan didalam kolam. Matanya berusaha fokus pada satu ikan yang lebih besar dan matanya mengikuti kemana ikan itu bergerak. Rachman berharap malam ini dia mendapatkan uang untuk menyelesaikan tunggakannya disekolah. Dia sangat khawatir tidak bisa mengikuti test itu. Seakan-akan dunia akan kiamat jika dia tidak bisa mengikuti test semester akhir.  Rachman menyadari jika dirinya tidak bisa mengikuti test berarti dia harus mengundurkan diri dan pindah sekolah. Pindah sekolah dikampunya itu yang terbayang dihadapannya. Sekolah yang tidak menarik bagi Rachman jika dibandingkan dengan tempat sekolahnya sekarang. Sekolah yang selama ini menjadi keinginannya. Disekolah itu memang Rachman belajar secara khusus tentang dunia grafika dan dari sekolah itu dia berharap bisa langsung bekerja.
"Kenapa sih, dulu kak Jojo banyak cerita soal sekolah garfika dan kenapa dia banyak bicara sial dunia grafis? dan kenapa pula dia memberi peluang sekolah itu?"Rachman berkecamuk didalam batinnya. Tiba-tiba dia terkejut ketika air dikolam bergolak.Sementara  dari belakang Rachman Jojo yang sejak tadi memperhatikannya melemparkan batu kedalam kolam sekedar mengejutkan Rachman dari lamunannya.
"Man, ini uang terakhir yang saya miliki dan tidak ada lagi."Kata Jojo sambil menyerahkan uang untuk tunggakannya disekolah.
"Besok kakak makan dari mana?"Tanya Rachman merasa tidak tidak enak.
"Teanang aja, kemarinkan kak Mira membelikan persediaan beras sama  mie instant."Kata Jojo dengan tenang untuk mengurangi rasa bersalah Rachman.
"Sudah sekarang belajar sana? Setelah itu tidur, besok jangan sampai kesiangan."Kata Jojo menyakinkan Rachman semuanya akan baik-baik saja tanpa uang sepeserpun.
Kemudian Rachman berjalan menju pintu pagar untuk menutup pintunya dan setelah itu dia masuk kedalam untuk mengambil buku pelajarnnya. Sementar Rachman belajar Jojo menghidupkan komputer untuk online. Jojo mesti membuka email dan memilah-milah mana yang harus dijawab segera dan mana yang tidak. Tidak terasa sudah jam satu dini hari. Jojo keluar dari kamar mendapati Rachman duduk tertidur. Di tangannya masih ada buku yang sedang dipelajarinya.
"Man, ... bangun. Tidur yang bener di kamar."Kata Jojo sambil mengguncangkan kaki Rachman. Guncangan itu tidak juga membangunkan Rachman. Akhirnya Jojo membiarkan Rachman pada posisinya seperti itu. Kemudian Jojo pergi keberanda sambil membawa kopi yang dibuat siang tadi dan rokok kiriman dari adiknya Jojo. Duduk dipinggir kolam sambil mendengarkan lagu-lagu Michael Franks cukup membawa Jojo kedua antah brantah. Pikirannya menjelajah menelusuri jalannya. Jojo teringat ketika Rachman baru memasuki  sekolah lanjutan pertama, bagaimana Jojo bicara soal sekolah grafika dan dunia grafika serta kemungkinan untuk bisa sekolah di grafika. Dari dua puluh anak yang tumbuh bersama dengan Rachman di sanggar dengan mimpinya masing-masing akhirnya Rachman yang terbilang 'setia' dengan mimpinya. Rachman bukanlah anak yang pandai dibandingkan dengan teman-teman sebayanya, tapi justru Rachmanlah yang paling kelihatan lebih konsisten. Karena itu pulalah yang membawa Rachman bisa sekolah grafika, meski itu dibayar dengan perjuagan dan kerja keras. Tiba-tiba Jojo teringat kisah Raja Daud ketika dipilih oleh Tuhan untuk menjadi Raja Israel.
"Ah ....terlalu  romantis! Ini pasti pengaruh Michael Franks."Pikir Jojo dalam hati sambil tersenyum-senyum sendiri.

Kamis, 28 Juli 2011 | posted in | 0 comments [ More ]

Rongsokan.

Rumah baru, meski cuma kontrak bukan berarti tidak bisa membangun mimpi setinggi langit. Begitu kata pepatah. Rumah berarti membiarkan segala kemungkinan akan terjadi disana.  Rumah sebagai ruang publik anak bukan berarti juga menutup kemungkinan masyarakat akan datang dan berinteraksi disana bahkan lebih dari itu. Bisa jadi dianggap dari simbol perlawanan terutama  dari sesuatu yang mapan. Dirumah itu juga akan ada banyak gagasan bermunculan disamping  bagaimana menemani anak dalam memetakan dan membantu mewujudkan apa yang menjadi ketertarikkannya. Mimpi itu dimulai dengan dua unit komputer rongsokan sumbangan dari teman.  Benda mati itu akan menjadi benda tanpa makna. Tidak akan terjadi lompatan jauh kedepan  tanpa orang-orang  yang dapat membawa anak kedimensi yang jauh dikemudian hari dengan dua komputer rongsokan.

I am accustomed to sleep and in my dreams to imagine the same things that lunatics imagine when awake.  ( "Meditations on First Philosophy") - Rene Descartes.

Meski benda itu bisa dikatakan rongsokan tapi fungsinya masih ada meski tidak maksimal. melihat benda itu Yoan, Jojo, dan Mira membuat diskusi kecil dengan komputer bekas itu.
"Yoan, kita dikasih komputer bekas dari Mo Wisnu. Sekarang barangnya ada di sanggar."Mira memberi tahu Yoan dengan dengan gembira.
"Mana barangnya?"Tanya Yoan sambil mengikuti Mira dari belakang menuju kamar depan tempat komputer itu disimpan.
"Masih lumayan Mir, ..."Kata Yoan sambil mengamati komputer itu.
"Yo, sekarang kita mau diapakan benda ini?"Tanya Jojo melanjutkan pembicaraan.
"Kalau  lihat dalamnya sih masih lumayan,  yang penting masih berfungsi meski jauh dari kata maksimal"Yoan menjelaskan sambil membongkar-bongkar komputer.
"Elo lebih tahu lah Yo, tentang barang itu dan pengalaman loe kan enggak jauh dari benda itu!"Kata Mira menegaskan pernyataan Yoan.
"Sekarang kita buat program apa selain mengetik? Bagaimanapun dikampung ini anak-anak belum menganal komputer. Mungkin sering mendengar namanya tapi belum pernah menggunakan."Tanya Jojo mencoba lebih kritis.
"kita bagi tugas aja! Jojo ngarin menulis dengan komputer dan elo Yo ngajarin program yang ada hubungannya sama komputer."Kata Mira mencoba memecah fokus untuk setiap kegiatan.
"Bisa sih ...  gue akan coba ngari anak untuk membongkar dan merakit kembali komputer ini dan harus hidup!"Yoan merinci apa yang dilihatnya dengan komputer rongsokan itu.
"Kapan kita bisa mulai dengan kegiatan merakit komputer?"Kata Mira tidak sabar.
"Hari minggu pagi bisa dimulai. Cuma kita batasi setiap kegiatan untuk dua orang! Ini akan memakan banyak waktu."Yoan mencoba memberikan kepastian.
Lebih dari satu jam pembicaraan itu dan akhirnya didapakan kepastian mau diapakan komputer rongsokan itu.

Hari terus berganti, minggu berganti minggu, dan bulan berganti bulan. Akhirnya ada banyak anak yang bukan saja dapat menggunakan komputer  tetapi lebih dari itu. Ada proses kreatif yang membuat anak lebih suka berjam-jam didepan komputer hanya untuk membuat film animasi sederhana. meski juga sekali-sekali mereka menggunakannya untuk bermain games. Tidak terbayangkan ketika mereka memulai itu tidak  banyak sekolah di sekitar kampung mereka memiliki komputer.  Betapa mereka menjadi keheranan banyak guru ketika anak-anak mulai belajar komputer disekolah di lanjutan pertama. Ada banyak pertanyaan untuk itu karena mereka memiliki kemampuan jauh dari teman-teman lainnya yang sama sekali belum pernah belajar komputer. Itu pula yang akhirnya menarik banyak anak-anak seusia lanjutan pertama datang ke sanggar hanya untuk belajar komputer. Konsekuensinya ketika beberapa anak sudah lebih baik mengenal teknologi itu, mereka mulai pergi ke warnet, meski jauh toh mereka sekali-sekali melakoni itu karena ketertarikannya sudah melebihi. Tidak jarang juga Mira membuat program khusus belajar internet di warnet meski jauh dari kampung dengan beberapa anak yang sudah terbiasa dengan anak-anak yang belum mengerti sama sekali. Bukan hanya sekedar tahu tetapi mereka belajar untuk itu secara khusus.  Kini dikampung Lolongok sudah masuk peradapan teknologi itu. sementara anak-anak kini sudah besar dan bekerja dari mimpinya bersentuhan dengan komputer.

Rabu, 27 Juli 2011 | posted in | 0 comments [ More ]

Rumah

Dua tahun sudah Jojo dan Mira aktif mendampingi anak-anak di Kampung Lolongok dibantu dengan beberapa teman, ada banyak hal yang dilihat oleh mereka berdua.  Meski mereka memulai kegiatan pendampingan setiap minggu pagi sampai sore tapi kini mereka mulai berpikir untuk menyewa sebuah rumah yang bisa dijadikan base dari proses pendampingan. Entah bagaimana datangnya pikiran itu, karena untuk menyewa sebuah rumah tentunya dibutuhkan biaya dan mereka tidak punya uang untuk itu. Akhirnya mereka menceritakan rencana itu kepada seorang teman yang kebetulan seluruh hidupnya dipersembahkan untuk Tuhan dan kini menjadi dosen di Sastra Cina UI. Kami memanggilnya dengan sebutan Romo Bowo.   Pagi ini kami janjian bertemu dikantornya untuk membicarakan rencana itu.  Kemudian  mereka menceritakan tentang rencan menyewa sebuah rumah untuk ruang publik anak.
“Jo, sewa rumah satu  tahun berapa?”Tanya Romo Bowo serius.
“Tiga setengah juta Mo!”Jawab Jojo.
“Murah itu. Coba nanti saya coba bicara dengan beberapa teman. Siapa tahu mereka bisa bantu.”Romo Bowo menjelaskan.
“Lalu untuk membayar listrik dan telephone?”Tanya Romo Bowo lagi.
“Untuk start awal saya pikir tidak membutuhkan biaya Mo. Di rumah  dampingan belum ada komputer. Soal telephone berapa biayanya saya belum bisa memastikan.”Jawab Jojo.
“Sampai tiga ratus ribuan sebulan!”Tanya Romo Bowo lagi.
“Saya pikir itu dicukup-cukupkan.”Jawab Jojo yakin.
“Kamu sudah bicara dengan Romo Wisnu  soal ini?”Tanya Romo Bowo sambil memandang wajah Jojo serius.
“Sudah Mo! Malah saya diminta untuk membicarakan ini sama Romo Bowo dulu, nanti Mo Wis akan membantu!”Jojo menjelaskan.
“Ya sudah kalau begitu. Kamu tunggu kabar dari saya.”Kata Romo Bowo serius.
“Baik Mo. Kami pamit. Terima kasih ya Mo.”Kata Jojo sambil tersenyum.
“Iya Jo ...”Kata Romo Bowo sambil memperhatikan Mira dengan mata jail.

Satu minggu kemudian ada seorang teman yang kebetulan bekerja di Panin Bank , memberi tahu tentang kegiatan perayaan natal untuk komunitas karyawan dan menawarkan Jojo untuk mencarikan pastor untuk memimpin misa.
“ Jo, ... kamu bisa carikan pastor untuk misa natal komunitas karyawan di Jl. Sudirman?”Tanya Jacob.
“Bisa Mas!”Jawab Jojo.
“Nanti dalam acara itu saya bisa perkenalkan kamu dengan seorang teman namanya Merry, siapa tahu dia bisa bantu kegiatan anak-anak yang kamu kelola.”Jacob menjelaskan.
“Boleh Mas .... he .. . he ...”Kata Jojo girang.
“Kapan kamu akan kasih kabar ke saya tentang pastor itu?”Tanya Jacob lagi
“Besok siang, saya akan memberi kabar ke Mas Jacob!”Kata Jojo penuh keyakinan.
Sore itu juga Jojo segera menghubungi Mo Wis untuk  mau memimpin misa di perayaan natal komunitas karyawan  Sudirman.
“Hallo Mo ... “Kata Jojo diujung telephone.
“Sore ... apa?”Kata Mo Wis
“Mo mau ya mimpin misa natal untuk komunitas karyawan Sudirman?”Kata Jojo setengah merajuk.
“Kapan?”Tanya Mo Wis lagi.
“Minggu depan Mo.”Kata Jojo.
“Bisa Mo . ...”Kata Jojo merajuk.
“Iya.”Jawab Mo Wis menyanggupi.
“Nanti saya ditemani misa ketempatnya .. Jo.”Kata Mo Wis
“Ok Mo.”Kata Jojo girang, seperti anak kecil diberi permen.
Dan Jojo segera memberi tahu Mas Jacob  tentang kesanggupan Mo Wis memimpin perayaan misa natal untuk karyawan.   Jojo menceritakan kabar menggembirakan itu ke Mira dan mereka gembira dan takjub. Akhirnya pendampingan anak bisa punya harapan mengontrak rumah.

Satu minggu setelah misa perayaan natal Romo Bowo menghubungi Jojo untuk memberi kabar tentang temannya di Amerika mau membantu kegiatan pendampingan.
“Jo ... teman saya mau membantu dan sudah kirim uang untuk itu.”Kata Romo Bowo di ujung telephone.
“Iye Mo .... “Kata Jojo tidak percaya.
“Iye ... “Kata Romo Bowo sambil ngeledek Jojo.
“Besok kamu bisa ambil kerumah.”Kata Romo Bowo.
“Ok Mo ...”Kata Jojo kegirangan.
“Terima kasih ya Mo ... “Kata Jojo
“Besok kamu kewarnet dan kirim ucapan terima kasih untuk teman saya. Nanti kamu saya beri alamat emailnya. Tapi kamu jagan ngangguin dia ya . karna dia seorang ibu. “Kata Romo Bowo ngeledek.
“He ... he ...”Jojo hanya bisa tertawa diledek Romo Bowo.
Akhirnya anak-anak bisa punya tempat meski harus menyewa, tapi itu sudah lebih dari cukup. Sekarang bagaimana rumah yang tidak menarik itu menjadi kelihatan menarik dan mulailah Jojo membeli tanaman dan menjadikan rumah yang gersang menjadi astri, hingga setiap orang yang lewat di depan rumah itu akan tertarik dan datang. Dirumah kontrakan baru anak-anak akhirnya bisa belajar komputer dan ini sesuatu  yang baru untuk anak-anak di Kampung Lolongok.  Dari rumah itu juga ada banyak mimpi menjadi dan menjadi kenyataan.  Ada seorang ibu bertanya pada Jojo.
"Apakah kamu selalu punya uang untuk membayar sewa ?"Tanya Bu Jessy.
"Tidak mesti."Jawab Jojo
"Apakah kamu pernah tidak bisa membayar sewa rumah untuk kegiatan anak?"Tanya Bu Jessy penasaran
"Belum pernah."Jawab Jojo serius.
Bu Jessy tersenyum  mendengar jawaban Jojo yang apa adanya.

Senin, 25 Juli 2011 | posted in | 0 comments [ More ]

Kampung Lolongok

Deru angin menerpa daun bambu selalu menyanyikan lagu tentang kedamain jiwa, tak ubahnya kidung pujian pada Sang Khalik.  Bahkan  sengatan terik mentari tidak dapat menembus  warga Kampung Lolongok.    Hampir seluruh kampung ditumbuhi  pohon bambu, karena pada siang hari tanaman melakukan fotosintesis yang  menyerap karbondioksida (CO2) dan melepaskan oksigen (O2) sehingga membuat udara di Kampung Lolongok menjadi segar.  Itu mengapa warga Kampung Lolongok  enggan pergi meninggalkan kampungnya,  mereka cukup dengan hidup menggarap kebun dan makan dari apa yang mereka tanam.  Perputaran uang nyaris tidak ada,  karena  kampung memenuhi apa yang dubutuhkan oleh warga kampung, kecuali beberapa kebutuhan yang mesti didapat dipasar . Ini berlangsung sejak dari jaman leluhur mereka. Kesederhanaan dan kesahajaan Kampung Lolongok bisa dilihat dari surau yang mereka miliki.   Semua bahan mereka dapatkan dari apa yang ada di kampung itu. Mereka akan ke surau pada waktu-waktu tertentu saja, biasanya warga kampung akan sholat tidak jauh dari tempatnya bekerja. Kadang mereka malukan itu di pinggiran sungai ciliwung yang jenih. Hingga Gusti Allah tidak perlu lagi mencatat setiap penyimpangan yang dilakukan oleh warga Kampung Lolongok, karena semua baik adanya.
10 km dari Kampung Lolongok, tepatnya di desa tetangga sedang melakukan bedol desa. Kata Pak Kepala Desa,  akan dibangun kota baru yang lebih bagus, jalanannya akan dibeton dan tidak becek pada musim hujan  dan disana akan dibangun pasar bagus, bukan seperti pasar yang selama ini mereka lihat yang becek dan bau.  Kabar itu sempat terdengar oleh warga Kampung Lolongok dan menjadi pembicaraan mereka. Ada banyak hal yang tidak dimengeri oleh warga kampung tentang pasar yang bagus. bagi mereka pasar sama saja becek dan bau terutama dimusim hujan. Bagi warga Kampung  Lolongok pasar tempat bukan sekedar tempat transaksi jual beli  untuk memenuhi kebutuhan harian sampai menjual hasil bumi sebelum dibawa kekota oleh tengkulak. Lebih dari itu pasar tradisional di Kampung Lolongok meruapakan  ruang publik dari beberapa kampung yang kebetulan berdekatan.    Bukan tidak mungkin disana juga terjadi pertemuan antar komunitas pengajian, saling bertukar informasi,  tempat saling bersilatulrahmi, dan sampai tempat menemukan jodoh.
Meski berita dari Kepala Desa tentang akan ada pembangunan kota baru didesa tetangga, tidak membuat warga Kampung Lolongok menjadi gamang. Mereka cukup membicarakan itu dalam pertemuan-pertemuan informal selesai sholat di surau atau selepas pengajian.  Mereka hanya takjub dan berusaha membayangkan akan jadi seperti apa desa tetangganya.  Warga Kampung Lolongok tetap hidup seperti biasanya sama sekali tidak terpengaruh tentang cerita kota yang baru. Bagi mereka hidup seperti yang selama ini mereka jalani sejak dari para pendahulunya pasar yang bau dan becek pada musim hujan termasuk berjalan kaki atau naik sepeda tua sebagai alat tranportasi jika pergi kepasar dan pohon bambu yang memberi kesejukan. Tanpa banyak protes semua selaras dengan kehendak Gusti Allah, karena semua sudah ditentukan oleh yang memberikan hidup dan sekarang  menjalani dengan hati penuh syukur dan tetap tawakal.  

Bamboo Leaf Gallery Photos