| Mobile| RSS

“Goyang Terus ….”

Kampung Lolongok tidak pernah sepi dari kegiatan keagamaan, seperti pagi ini suara panggilan dari pengeras suara sudah memanggil-mangil ibu-ibu untuk pengajian. Pak Ustad selalu mengajarkan para kaum perempuan bagaimana menjadi wanita yang soleha. Diantaranya bagaimana melayani suami. Tapi pagi ini tidak banyak kaum ibu yang bisa mengikuti acara pengajian lantaran keluarga besar Bang Jaul, saudara tua Bang Jaul – Bang Gatong - menyelenggarakan keriaan (perkawinan). Tidak ada kepanitiaan seperti layaknya. Semua bisa dilakukan dengan kebersamaan keluarga dan beberapa warga kampung.

Kaum perempuan yang sibuk sejak kemarin hari ini kesibukkan itu menjadi meningkat karena para undangan sudah mulai berdatangan. Meskipun begitu tetap saja para kaum perempuan masih sempat bercanda.
“Rohanah, gue jadi inget waktu gua dulu dinikahin… “ Unah memulai pembicaraan dengan Rohanah.
“Emang elu inget ame ape?” Sahut Rohanah.
“Gue inget waktu malem pertame … “ Unah menjelaskan agak malu. “Gue inget bener si Gatong, belom ape-ape udah keok…” Sambung Unah.
“Emang, kalau kita inget-inget laki-laki kite cuma napsu doang” Rohanah menimpali. Sambil tersemyum sinis.
“Wah, kalau laki gue bener-bener gila. Enggak kayak laki loe pada” Maryam menyela pembicaraan Rohanah dan Unah. “Jaul daru dulu ampe sekarang napsu nye kagak pernah berobah. gue ampe kecapek kalau die udah minta.. !” Lanjut Maryam penuh percaya diri.

Sementara mereka terus berbincang kaum laki-laki asik menonton dangdut. Siang ini dinamika dangdut biasa-biasa saja. Tidak ada yang joget. Disamping itu anak-anak mereka sibuk dengan pedagang mainan dan jajanan.

Hari semakin malam. Tontonan orkes dangdut sudah sejak tadi istirahat karena waktu solat Magrib.

Selepas Isya, suasana semakin ramai, para tahu seakan tidak putus-putus. Bukan karena Bang Gatong tokoh masyarakat tetapi lebih pada system masyarakat Kampung Lolongok yang sudah turun menurun. Bagi masyarakat kampung Lolongok menghadiri pernikahan warga kampung berarti sama dengan menabung. Bisa jadi yang datang dalam acara pernikahn berharap ketika keluarganya mengadakan pesta pernikahan bisa terbantu biayanya dari uang kondangan.

Tiba-tiba panggung tempat orkes dangdut telah berganti lampu yang tadi terang benderang menjadi penuh dengan warna temaram dan MC mulai mengajak penonton untuk mengarahkan perhatiannya ke panggung pertunjukan. Tak lama kemuadian mulailah para artis seksi dangdut dari kampung tetangga mulai menyanyikan lagu-lagu yang sedang ngetop sambil bergoyang bak “cacing kepanasan “

Semakin malam semakin panas suasana panggung, lihat saja banyak kaum laki-laki mulai naik kepanggung untuk nyawer (memberikan uang) untuk setiap artis, sementara anak-anak kecil berdiri di bawah panggung cekikikan melihat celana dalam artis dangdut. Sementara kaum perempuan mengasai dari kejauhan menahan rasa marah karena merasa direndahkan dengan kelakuan para suami yang terhipnotis oleh goyangan erotis para penyanyi dangdut. Tiba-tiba beberapa wanita setengah baya mendatangi beberapa laki-laki yang sedang terhipnotis goyangan erotis penyanyi dangdut. Satu diantaranya adalah Mpok Maryam.
“Eh, buaya gila …. emang lu enggak puas ama gue. Jangan main gila loe. Ayo balik” Mpok Maryam sambil memukul Bang Jaul yang sudah tidak ada rasa malu karena pengaruh minuman anggur.

Meskipun beberapa kaum lelaki keluar dari kalangan joget bukan berarti penyanyi menghentikan lagunya tetapi malah membuat goyangan semakin membuat mata lelaki tidak berkedip.


Josep Budisantoso
(Belajar menyelam sedalam-dalamnya dan terbang setinggi-tingginya)

Senin, 18 Juli 2011 | posted in | 0 comments [ More ]

Mpok Maryam

Meskipun belum waktu Isya Kampung Lolongok sudah terasa sepi, padahal hanya satu jam untuk sampai pusat kota.. Meskipun listrik sudah masuk Kampung Lolongok tetap saja suasana kampung tidak berubah. Suasana malam persis sama ketika penduduk kampung masih menggunakan lampu teplok.
“Assallammuallaikum., Wak …. Wak …. “ Kata Maryam sambil mengetuk pintu.
“Waallaikum Salam” Sahut Uwak Napi. “Eh Yam ada apa?” “Ayo masuk Yam” Kata Wak Napi penuh dengan kelembutan. Dipandanginya wajah Maryam, Uwak Napi melihat ada warna biru lebam di wajah Maryam.
“Ada apa Yam” kata Wak Napi
“Wak Napi … aye … “ Maryam tidak sanggup lagi meneruskan kata-katanya, yang terdengan hanya isak tangis yang menjadi-jadi.
“Udeh Yam, bentar ye …. gue bikinin loe aer anget” Sambil mengusap-usap kepala Maryam. Tidak lama kemudian Uwak Napi keluar dengan membawa teh hangat untuk Maryam. “Maryam, nih minum dulu. Biar enakan” Semyum yang tulus dari seorang Uwak Napi membuat Maryam menjadi lebih tenang.
Setelah Uwak Napi melihat Maryam lebih tenang mulailah menanyakan apa yang terjadi sebenarnya.
“Sebenarnya ada apa Maryam ?” Tanya Wak Napi.
“Tadi sore aye dipukulin sama Bang Jaul”. Maryam mulai menjelaskan. “Sore tadi abis pulang kerja, anak-anak belom ade yang mandi, rumah berantakan”.
“Laki Loe kemana” Sambung Wak Napi.
Maryam melanjutkan ceritanya.
“Bang Jaul belum pulang mancing. Pengennya aye Bantuin ngurusin anak-anak, eh … pilang-pulang malah minta dibikinin kopi … “ Maryam terdiam sejenak, dadanya terasa sesak.
“Minum dulu Yam aernya” Uwak Napi mencoba menenangkan.
“Terus aye sewot berantem ama Bang Jaul, tapi die enggak terima dan muka aye dipukul ampe biru” Maryam melanutkan ceritanya. “Aye enggak redo dunia akherat disakitin kayak gini, terus aye lapor ke Pos Polisi deket kelurahan.”
“Terus apa kate Polisi?” Potong Wak Napi.
“Aye diminta nyelesein di kantor RT aje” Maryam meneruskan. “Tolongin aye Wak, ngomong ame Bang Jaul., kalau bukan anak-anak aye udah minta dicere Wak!” Kata Maryam dengan datar.
“Udah sekarang loe pulang, entar abis isya gue ngomong mae laki loe” Kata Wak Napi mencoba menenangkan.
“Iya Wak, aye pulang dulu. Makasih ya Wak.” Kata Maryam.. “Assallammuallaikum”
“Waallaikum Salam” Balas Wak Napi.
Dua bulan sudah berlalu seakan tidak pernah terjadi apa-apa diantara Maryam dan Jaul. Buktinya Maryam sudah mulai hamil lagi meskipun sudah punya dua anak yang jaraknya dekat dan masih kecil-kecil.

Josep Budisantoso
(Belajar menyelam sedalam-dalamnya dan terbang setinggi-tingginya)

Bang Jaul



Seperti biasa, sore hari setelah lewat solat azar Bang Jaul kumpul-kumpul dengan para tetangga. Sore ini wajah Bang Jaul terlihat seperti benang kusut. Seorang teman tiba-tiba bertannya,
“Kenape loe Ul?, tampang loe kagak enak banget, sakit gigi?!”.
Sambil menghembuskan asap rokoknya Bang Jaul mencoba menjelaskan tetang kekusutannya,
“Bini gue marah-marah mulu, kayaknya dulu enggak begitu. Sekarang dikit-dikit marah.” Tatapannya penuh ketidak mengertian. “Apa gue kawin lagi ya?” terusnya.
“Ah gila loe Ul, bini atu (satu) aja nggak abis!” Bang Udin memotong pembicaraan Jaul.
Sambil mengorek-ngorek tanah dengan jarinya Bang Jaul mencoba memahami perkataan Udin.
“Din, kalau punya bini dari atu-kan berkah!” Jaul mencoba menjelaskan. “Nabi aja bininya banyak” sambungnya.
“Eh, Ul elu aja kagak pernah ngaji pengen ngikutin Nabi. Emang Loe tahu kenape Nabi punya bini banyak?” Kata udin sedikit kesal.
“Ul, coba tuh loe liat anak-loe pulang sekolah enggak ada yang ngurusin. Elo mah enak kerjaannya Cuma mancing dari pagi ampe (sampai) sore, nah bini loe kerja jadi pembantu pergi pagi pulang malem …..” Kata Udin dengan nada jengkel.
Jaul hanya diam tidak tahu harus bicara apa, sambil mengorek-ngorek tanah dengan jarinya.
Uwak Napi yang sejak tadi mendengarkan pembicaraan itu mencoba menjernihkan “Ul, setau gue kebanyakan orang yang bininya banyak itu urusannya Cuma satu. Elu Tahu apa Ul?” Jaul menggeleng kepala. “Elu tau Din?” “Enggak tau Wak” jawab Udin. “Burung (Kelamin)loe tuh pada!” Jawab Wak Napi sambil memandangi mata Jaul dan Udin. “Eh Ul, elo tuh harusnya kesian ama bini loe yang ngidupin loe ama anak loe!. Kerjaan loe Cuma mincing, makan tinggal makan, ngopi tinggal ngopi emang loe mikir gimana capeknye bini loe banting tulang” Uwak Napi berusaha menyadarkan Jaul.
Jaul hanya terdiam seribu bahasa. Entah dimana pikirannya ketika Uwak Napi menjelaskan.
Tiba-tiba ada suara perempuan sedang memarahi anaknya, tepatnya di rumah Bang Jaul dan Jaulpun pulang.

Josep Budisantoso

(Belajar menyelam sedalam-dalamnya dan terbang setinggi-tingginya)

1.335 m dpl

 (Bagian Kedua)

“Over time, our only chance at safety will depend on not turning the mountains into Disneyland.” (Reinhold Messner) 

“Ayo ... ayo ... Fadlah, Anya, Putri, Iis. Kumpul!”Kata kak Budi sambil menggerakkan tangannya memanggil.
“Cepet ... cepet .... sudah semakin siang!”Sambung kak Budi. Berselang beberapa menit kemudian keempat anak itu sudah dihadapan kak Budi. Mereka siap dengan kegiatan eksplorasi ke puncak Kawah Ratu.
“Mari, kita saling berangkulan satu sama lain. Fadlah, kamu disebelah Anya.”Kata kak Budi tidak sabar. Sementara pikiran Fadlah sedang tidak hadir. Itu terlihat dari tatapannya yang kosong.
“Fadlah! Cepat kamu disebelah Anya!”Kata kak Budi lagi dengan suara agak keras.
“Kamu kenapa Fadlah! Kenapa tidak memperhatikan apa yang saya katakan. Lihat teman-temanmu sudah siap!”Sambung kak Budi sambil memperhatikan Fadlah yang baru terhenyak dari dunianya dan langsung masuk dalam lingkaran.
“Nah, sekarang ini sebelum kita mulai pendakian ada baiknya kalian dengar dulu apa yang harus diperhatikan dalam kegiatan ini.

Pertama, kita tidak diperkenankan memetik atau merusak apa yang ada disalam hutan selama perjalanan. Kedua, kita tidak boleh meninggalkan sampah apapun selama perjalanan di dalan hutan. Simpanlah sampah itu didalam saku celanamu. Ketiga, Berjalanlah sesantai mungkin untuk satu jam pertama. Itu penting untuk penyusuian otot di tubuhmu. Disamping itu jantungmu juga butuh penyusuaian agar kamu tidak pusing. Kamu jangan lupa, semakin tinggi kita berada semakin tipis juga oksigen. Itu akan memacu lebih cepat detak jantungmu. Keempat, atur jarak satu sama lainnya, jangan terlalu dekat. Apalagi saling berpegangan tangan. Jangan samakan di hutan dengan disekolahmu. Itu akan membahayakan dirimu sendiri dan teman-temanmu. Ditempat ini kalian akan aman. Karena disamping saya masih ada Bapak dari konservasi yang akan membantu memandu kalian.
Kelima, ada pertanyaan?”Kata kak Budi memberi  penjelasan.
“Apakah penjelasan saya cukup jelas!”Sambung kak Budi.
‘Kalau jelas. Cobalah teriak jelas sekeras-kerasnya!”Kata kak Budi membangun semangat.
“Jelas ..... !“Kata keempat anak-anak itu berteriak.
“Sekali lagi!”Kata kak Budi.
“Jelas ...............  “Anak-anak mengulangi teriakannya lebih keras lagi.
“Terima kasih. “Kata ka Budi sambil tersenyum dan memandangi mata anak satu persatu.
“Orang yang ada paling depan adalah bapak dari konservasi, dilanjutkan kalian berempat, setelah itu Aak Komeng dan saya berada paling belakang.”Kak Budi menjelaskan strategi perjalanan ke puncak Kawah Ratu.
“Jelas!”Kata kak Budi lagi.
“Jelas .... !”Kata anak-anak hampir bersamaan.
“Sebelum kita mulai perjalanan, ada baiknya kita berdoa dulu. Karena Candra tidak ikut maka kita berdoa masing-masing. Berdoa dimulai!”Kak Budi memberi aba-aba.
“Berdoa selesai!”Kata kak Budi beberapa detik kemudian.
“Mari kita teriakkan kata-kata oneng bersama-sama!”Kata kak Budi lagi.
“Oneng ..... !” Teriakan itu memecah kesunyian hutan dan setelah itu perjalanan dimulai.

"If you are thinking a year ahead, sow a seed.
If you thinking ten years ahead, plant a tree.
If you thinking one hundred years ahead, educate the people."
-Chinese Proverb

Jumat, 15 Juli 2011 | posted in | 0 comments [ More ]

1.335 m dpl

(Bagian Pertama)

“Over time, our only chance at safety will depend on not turning the mountains into Disneyland.” (Reinhold Messner) 


 Kabut masih menyelimuti puncak Gunung Salak dan bukit-bukit disekitarnya. Dikejauhan terdengar sayup-sayup air terjun.  Kicau burung ramai bersutan, sesekali terdengar hembusan angin menerpa dedaunan pohon damar  yang tinggi menjulang.  Suaranya seperti  madah cinta pada Sang Khalik.  Embun masih menyelimuti setiap dedaunann dan tetesannya berjatuhan membasahi bumi, sehingga humus tetap terjaga kelembapannya agar memberi kesuburan tanah dibawahnya dan siap memberi  makanan kepada pohon-pohon yang hidup disana. Manusia tidak perlu memberi pupuk,  karena alam memelihara dengan caranya yang bijaksana. Sementara tetesan-tetesan air berjatuhan membentuk aliran-aliran air kecil menuju aliran air yang lebih besar.   Suaranya seperti mantra yang membawa jiwa kedunia yang tidak bertepi.

Dikejauhan terlihat tenda mulai bergerak-gerak, tanda kehidupan baru telah dimulai. Anak-anak sudah bangun dari tidurnya yang hangat berselimutkan mimpi penuh canda tawa bersama para malaikat yang selalu menjaga mereka dimalam hari. Mata mereka begitu jernih pertanda malam menjadi milik mereka. Lamat-lamat terdengar obrolan setengah berbisik.
“Iis ...Iis ... bangun!”Putri membangunkan sambil mengoyang-goyang badan Iis. Fadlah yang mendengar Putri membangunkan Iis juga ikut bangun disusul Anya. Mata mereka saling berpandangan satu sama lain.
“Kak Budi udah bangun belom Nya?”Kata Putri kepada ketiga temannya.
“Pasti belom bangun. Kak Budi ...  kan kalau disanggar bangunnya siang.”Kata Fadlah.
“Emang!”Anya membenarkan. Sementara Iis hanya tersenyum-senyum mengengarkan pembicaraan teman-temannya.
“Yuk, kita bangunin kak Budi Nya?”Ajak Putri sambil menyingkirkan selimut dari tubuhnya, diikuti oleh yang lainnya dan keluar dari tenda.
“Kak ... kak ... kak Budi ... “Kata empat anak itu berulang-ulang membangunkan kak Budi. Suaranya memecah keheningan pagi. Tidak ada tanda-tanda kak Budi didalam tenda orange.
“Kak Budi kemana sih.”Kata Fadlah sambil mengintip tenda orange.
“Tuh ... kak Budi, ada disana!”Kata Iis sambil menunjuk kak Budi berdiri di pinggir hutan sambil membawa kamera nikon kesayangannya.
“Ngapain sih kak Budi, kaya orang gila. Sendirian disana!”Kata Putri sambil memperhatikan dari kejauhan.
“Tauk ... tuh?”Kata Anya menimpali. Sementar Iis dan Fadlah hanya memandangi kak Budi dari kejauhan.
“Orang stress ...”Kata Putri sambil cekikikan keteman-temannya.
“Stress ditinggal sama kak Mira ... “Sambung Fadlah menimpali sambil cekikikan.
“Nya ... ke wc yuk ... “Kata Putri sambil menahan kencing.
“Yuk ... “Kata Iis dan yang lainnya sambil  jalan menuruni tangga menuju MCK.
Hampir 10 menit kemudian keampat anak itu keluar dari MCK sementara kak Budi sudah berada di dekat MCK.
“Ayo cepet mandi dan sarapan roti dan coklat hangat!”Kata kak Budi sambil mengarahkan telunjukkan ke arah tenda.
“Kak ... rotinya tinggal empat lembar ... “Kata Anya dengan suara rendah. Dari sorot matanya kelihatan bersalah.
“Kenapa kok tinggal empat lembar?”Tanya kak Budi lagi.
“Tadi malem saya lapar dan makanin roti.”Anya berusaha menjelaskan.
“Lalu, sekarang kita mau sarapan apa? Kalau roti jatah untuk sarapan sudah kamu makan!”Kata kak Budi sambil memandang tajam mata Anya. Anya tidak bisa menjawab, sambil memainkan jari-jarinya sorot matanya kelihatan serba-salah.
“Ya sudah, sekarang mandi dan setelah itu sarapan di warung!”Kata kak Budi sambil berlalu. Tak lama kemudian anak-anak itu menikmati sarapan pagi bersama di  warung Mang Enjum.

Kamis, 14 Juli 2011 | posted in | 0 comments [ More ]

"Kak .... ngulek cabenya pakai apa .... ?"

In a dark moment I ask, "How can anyone bring a child into this world?"  And the answer rings clear, "Because there is no other world, and because the child has no other way into it."  ~Robert Brault.
 Dalam perjalanan menuju perkemahan rombongan perkemahan berhenti di pasar desa, 10 km jaraknya radi perkemahan.
"Kak, itu ada pasar. Kita belanja disitu aja!"Kata Putri tidak sabar.
"Iya kak."Anak-anak lainya ikutan bersuara.
"Putri sama Fadlah turun. Kita belanja kebutuhan disana."Kak Budi mengajak sambil membuka pintu kendaraan.
"Kak, Putri aja deh yang belanja, kita di mobil aja!"Kata Anya dan lainnya saling bersautan seperti paduan suara.
"Ayo Put!"Kata kak Budi sambil membantu Putri keluar dari dalam mobil yang sesak dengan perlengkapan berkemah.
"Putri enggak mau ditutun!"Kata Putri sambil menarik tangannya kebelakang.
"Kamu ini! Nanti ada kendaraan menubruk kamu gimana?"Kata kak Budi sambil mengamati wajah Putri yang judes. Beberapa saat kemudian kak Budi menggandeng tangan Purti untuk menyebrangi jalan desa yang ramai oleh hilir mudik kendaraan angkot dan ojek. Sekali-sekali kendaraan pabrik minuman.
"Kak diwarung itu aja belinya."Kata Putri sambil menunjuk salah satu warung penuh dengan sayuran.
"Punten, teh abdi made meser sayuran."Kata kak Budi kepemilik warung. Sementara Putri memperhatikan kak Budi sambil menahan tawa melihat kak Budi bicara bahasa sunda.
"Put, beli sayuran apa?"Kataku
"Beli pisang aja ka."Jawab Putri dengan tenang.
"Loh katanya kita mau masak sawi ditumis!"Kataku lagi. "Mana catatan yang harus dibeli?"Sambungku bertanya.
"Ketinggalan di Sanggar."Jawab Putri santai.
"Jadi kita mau beli apa dong?"Kataku menguji.
"Sawi."Kata Putri sekenanya. Sementara aku memilih sawi yang masih segar dan bagus. Putri hanya memperhatikan. Meja jualannya terlalu tinggi untuk Putri bisa bantu memilih.
"Terus apa lagi Put?"Kataku lagi
"Cabe sama bawang, Kak"Jawab Putri. :Kak, pakai tomat nggak?"Kata Putri setengah berbisik karena tidak yakin dengan salah atu bumbu tumis itu.
"Ya ... enggak usah pakai tomat juga ok Put."Kata mencoba menenangkan Putri.
"Kak, pisangnya?"Kata Putri mengingatkan.
"Teh, ayak cauk nangka?"Kataku kepenjual sayur.
"Teuk aya aak."Sahut penjual sayur.
"Enggak ada pisang nangkanya Put!"Kataku sambil melihat wajah Putri.
"pisang yang kecil-kecil aja Kak."Kata putri sambil menunjuk pisang mas.
"Wah kalau itu enggak bisa digoreng Put!"Kataku mejelaskan. Kulihat wajah Putri cemberut.
"Nanti kita cari lagi warung yang jual pisang Put"Kata mencoba menenangkan Putri.
"Awas kalau enggak beli Pisang!"Kata Putri sambil marah.
Dalam perjalan semua isi mobil celingukkan mencari-cari warung penjual pisang. Meski jalan yang dilalui rombangan itu termasuk desa bukan berarti tidak ditemukan penjual pisang. Desa itu tidak lagi merupakan desa yang ditumbuhi tanaman padi. Disepanjnag perrjalanan dikana kiri dijumpai pabrik berbahan dasar air. Desa itu kelihatan kumuh dan kotor. Dimana-mana ditemukan sampah menumpuk. Selokan-selokan air tidak lagi jernih tapi berubah menjadi keruh karena hasil dari pembuangan rumah tangga dan pabrik tyang tumbuh rapat megelilingi pabrik. Udara yang dulu sejuk kini juga sudah berubah menjadi panas. Perubahan yang fantastis!.
"Kak ... itu ada warung jual pisang. Cepet turn kak!"Kata Putri tidak sabar. Kak Budi keluar dari mobil dan langsung melihat-lihat pisang nangka. Ternyata ada tapi sudah menghitam.Kak Budi kembali ke mobil lagi.
"put, pisangnya sudah jelek dan cenderung busuk."Kata kak Budi dengan suara pelan.
"Yah ... enggak jadi goreng pisang deh!"Kata Putri kelihatan kecewa.
"Nanti terigunya digoreng aja Put. Dikasih gula atau makannya dicocol pakai gula pasir."Kata kak Budi ngeledek.
Putri kelihatan cemberut keinginannya goreng pisang batal.
Sesampainya diperkemahan dan tenda sudah berdiri semua. Komeng mengumpulkan empat anak lainnya.
"Putri, Anya, Fadlah, IIs. Sekarang kita masak buat entar malem" Kata Komeng memberi pengarahan.
"Anya, keluarin trangia dua-duanya terus bawa kesini."Sambung Komeng lagi. "Fadlah sama Iis keluarin sayuran yang tadi dibeli."Sambung Komeng lagi. Fadlah dan Pitri kembali dengan membawa trangia dan sayuran ketempat yang telah ditentukan Komeng untuk memasak.
"Botol spiritusnya mana?"Tanya Komeng sambil memperhatikan wajah anak-anak satu persatu. Dan keempat anak itu saling berpandangan.

"Iis, coba lihat di kotak gede. Botolnya warna merah.!"Kata Komeng sambil menunjuk countainer bertutup warna pink.
"Ini ak Komeng?"Kata Iis sambil menunjukan botol spiritus warna merah.
"Kata kak Budi sekarang kamu berempat belajar masak sendiri!"Kata Komeng ke pada empat anak putri.
"Ak komeng, ngulek cabenya pakai apaan?"Tanya Putri lagi.
"Coba kamu tanya sama kak Budi."Kata Komeng sambil menunjuk kak Budi yang sedang duduk di bawah pohon menikmati kopi hangat buatan teh Dewi.
"Kakk.... kakk .... "Teriak Putri berulang-ulang yang berjarak 20 meter dari kak Budi.
"Kamu ini benar-benar ibu-ibu ya di Kampung Kebon Duren ya!"Kataku ngeledek.
"Kak .... nguleknya pakai apa?"Kata Putri sedikit manja.
"Pakai gigi kelincinya Anya aja."Kataku ngeledek lagi.
"Pakai gigi kakak aja."Suara Putri balas ngeledek ka Budi.
"Engga usah diulek cukup dipotongin aja cabenya."Kata kak Budi menjelaskan sambil menyerahkan pisau victoronox dari saku kak Budi.
Dari atas Kak Budi memperhatikan bagaimana anak-anak berempat membuat masakan sementara Komeng menemani keempat anak putri  tersebut. Anak-anak begitu heboh sekaligus menikmati kegiatan itu.
"Ini lebih baik, dari pada di Sanggar mereka masak gula pasir dicampur sabun sunlinght! Dasar bocah."Kata Kak Budi  dalam hati sambil senyum-senyum sendiri dari atas.

Rabu, 13 Juli 2011 | posted in | 0 comments [ More ]

"Kak, kita buat capcai aja ....."

.... bocah merupakan potret ketelanjangan alam, terbuka, apa adanya, suci dan mulia, tidak tahu basa basi, tipu daya atau kelicikan. kitalah yang merusak mereka, yang membikin mereka culas, bohong dan licik dan tak kenal kasih sayang. (Kerinduan - Mohamad Sobary)

 “Kak, kapan ketemuan untuk membicarakan persiapan kemping!”Kata Putri meminta kepastian
“Sekarang!”Kata Fadlah menanggapi
“Anya enggak ada dirumah.”Kata Iis “Tunggu Anya dulu.”Sambung Iis.
“Emang Anya kemana Is?”Tanya F adlah
“Kata ibunya lagi kewarung.”Kata Iis menjelaskan
“Kita tunggu Anya!”Sahut Putri
“Eh ... kak Budi dimana Is?”Tanya Putri
“Enggak tauk!”Jawab Iis
“Ada tuh diatas, lagi main komputer.”Kata Fadlah memberi tahu.
“Kakkk ... “Teriak Putri memanggil Kak Budi dengan suara cemprengnya
“Hallooo ... ibu-ibu, saya tidak tuli!”Kata Kak Budi jengkel. “Kenapa sih selalu teriak kalau memanggil. “Kenapa tidak datang keatas!”Sambung kak Budi masih jengkel. “Lalu sekarang mau apa?”Kata kak Budi dengan suara rendah sambil tersenyum.
Sementara Putri wajahnya kelihatan cemberut sambil memalingkan wajahnya.
“Ada apa Putri yang cantik ... “Kata kak Budi mencoba  mengedipkan matanya dan beharap sikapnya dapat  mencairkan Putri.  Melihat sikap kak Budi mengedipkan matanya membuat putri menyembunyikan  wajahnya diatara kedua lututnya sambil tersemyum.
“Auk ... ah ...”Kata Putri tersemyum malu sambil mengangkat wajahnya. Sedangkan Fadalah asik membaca buku tapi tidak serius.
“ Tuh, Anya udah dateng.”Kata Iis dengan dengan senyum  lesung pipitnya.
Putri memalingkan wajahnya ke Anya sambil komentar “Kemana aja sih Nya!. Kita kan mau ngomongin buat kemping!”Suara Putri jengkel.
“Gue habis disuruh ibu gue beli obat nyamuk.”Kata Anya datar. “Emang mau ngomongin apa sih?”Sambung Anya sambil memandang ke putri.
“Mau ngomongin masakan buat kemping.”Kata Putri.  Kak Budi duduk di tangga sambil memperhatikan anak-anak  membicarakan menu yang akan dibuat pada kegiatan kemping yang tinggal besok pagi.
“Kak, giman nih cara ngaturnya?” Kata putri kelihatan ketus menahan ketawa.
“Kamu makan berapa kali satu hari? Itu aja dijadikan patokan.”Kata kak Budi serius.
“Kalau pagi kita makan roti aja kak!”Kata Anya usul.
“Iya, kita sarapan roti aja kalau pagi.”Sambung Fadlah. Sementara Iis hanya diam saja sambil memperhatikan teman-temannya merencanakan menu.
“Fadlah, catet nih!. Masakan buat kemping!”Kata Anya, sambil menyerahkan buku dan pulpen.
“Tadi, apa? Besok pagi sarapan roti?”Tanya Fadlah.
“Iya. Bosok pagi sarapan roti.”Kata Putri dengan suara cempreng.
“Terus, minumnya apa?”Tanya Fadlah lagi.
“Ini aja, susu kotak.”Kata Anya sambil nyengir ke kek Budi.
“Kenapa enggak coklat aja?”Kata Kak Budi.
“Enakan susu kotak!”Kata Putri.
“Terus makan siangnya, kita buat capcai.”Kata Putri yakin
“Iya kita buat capcai aja.”Sambung Anya.
“Tulis nih .... makan siang capcai?”Tanya Fadlah
“Putri kita masak yang mudah-mudah aja. Misalnya tumis sawi. Lauknya ikan asih. Kalau masak capcai butuh waktu dan bahan-bahannya   untuk membuat capcai. Lagipulan nanti kamu menggunakan  untuk membuat masakan itu?”Kata kak Budi memberi alternatif.
“Eh .... kak Budi kan udah pengalaman ya he ... he ... “Kata Fadlah sambil ngeledek kak Budi.
“Ya udah kalau gitu tumis sawi sama ikan teri medan.”Kata Putri.
“Tulis nih?”Tanya Fadlah.
“Iye, tulis.”Kata Putri. Sementara Iis memperhatikan Fadlah menulis dari dekat.
“Terus sorenya makan apa?”Tanya Iis memberanikan diri.
“Masa tumis sawi lagi sih?”Kata Anya tidak semangat.
“Nah ... sekarang saya mau tanya sesatu.”Kata Kak Budi masih duduk di tangga tidak jauh dari keempat anak itu. “Jika kamu masak untuk sarapan pagi, makan siang dan sore. Memang kamu enggak capek?Di perkemahan bukannya kamu belajar tentang alam? Gimana?”Kata Kak Budi .
“Ya udah, kalau gitu kita masaknya sore aja. Terus siangnya gimana dong kak?Tanya Putri.
“Nanti kita pesan di warung aja. Supaya waktu kamu belajar tidak habis untuk masak-memasak.”Kata sambil ngedek Putri.
“Kak, kita boleh goreng pisang ya?”Tanya Putri.
“Boleh.”Kataku
“Entar jangan lupa beli terigu buat goreng pisang.”Pinta Putri.
“Ok. Kalau gitu sekarang saya belanja dulu. Kamu boleh pulang dan istirahat. Besok bangun pagi-pagi dan kumpul di Sanggar jam 5 pagi.”Kak Budi menutup pertemuan.
“Kak, kita ikut belaja sama kakak aja ya?”Pinta Anya dan Putri.
“Engga usah. Ini sudah malam. Lebih baik kamu pulang dan tidur.”Pinta kak Budi.
“Ok!”Kata kak Budi
“Ok ....!”Sahut anak-anak meledek kak Budi sambil meninggalkan sanggar

Selasa, 12 Juli 2011 | posted in | 0 comments [ More ]

Bamboo Leaf Gallery Photos