| Mobile| RSS

1.335 m dpl

 (Bagian Kedua)

“Over time, our only chance at safety will depend on not turning the mountains into Disneyland.” (Reinhold Messner) 

“Ayo ... ayo ... Fadlah, Anya, Putri, Iis. Kumpul!”Kata kak Budi sambil menggerakkan tangannya memanggil.
“Cepet ... cepet .... sudah semakin siang!”Sambung kak Budi. Berselang beberapa menit kemudian keempat anak itu sudah dihadapan kak Budi. Mereka siap dengan kegiatan eksplorasi ke puncak Kawah Ratu.
“Mari, kita saling berangkulan satu sama lain. Fadlah, kamu disebelah Anya.”Kata kak Budi tidak sabar. Sementara pikiran Fadlah sedang tidak hadir. Itu terlihat dari tatapannya yang kosong.
“Fadlah! Cepat kamu disebelah Anya!”Kata kak Budi lagi dengan suara agak keras.
“Kamu kenapa Fadlah! Kenapa tidak memperhatikan apa yang saya katakan. Lihat teman-temanmu sudah siap!”Sambung kak Budi sambil memperhatikan Fadlah yang baru terhenyak dari dunianya dan langsung masuk dalam lingkaran.
“Nah, sekarang ini sebelum kita mulai pendakian ada baiknya kalian dengar dulu apa yang harus diperhatikan dalam kegiatan ini.

Pertama, kita tidak diperkenankan memetik atau merusak apa yang ada disalam hutan selama perjalanan. Kedua, kita tidak boleh meninggalkan sampah apapun selama perjalanan di dalan hutan. Simpanlah sampah itu didalam saku celanamu. Ketiga, Berjalanlah sesantai mungkin untuk satu jam pertama. Itu penting untuk penyusuian otot di tubuhmu. Disamping itu jantungmu juga butuh penyusuaian agar kamu tidak pusing. Kamu jangan lupa, semakin tinggi kita berada semakin tipis juga oksigen. Itu akan memacu lebih cepat detak jantungmu. Keempat, atur jarak satu sama lainnya, jangan terlalu dekat. Apalagi saling berpegangan tangan. Jangan samakan di hutan dengan disekolahmu. Itu akan membahayakan dirimu sendiri dan teman-temanmu. Ditempat ini kalian akan aman. Karena disamping saya masih ada Bapak dari konservasi yang akan membantu memandu kalian.
Kelima, ada pertanyaan?”Kata kak Budi memberi  penjelasan.
“Apakah penjelasan saya cukup jelas!”Sambung kak Budi.
‘Kalau jelas. Cobalah teriak jelas sekeras-kerasnya!”Kata kak Budi membangun semangat.
“Jelas ..... !“Kata keempat anak-anak itu berteriak.
“Sekali lagi!”Kata kak Budi.
“Jelas ...............  “Anak-anak mengulangi teriakannya lebih keras lagi.
“Terima kasih. “Kata ka Budi sambil tersenyum dan memandangi mata anak satu persatu.
“Orang yang ada paling depan adalah bapak dari konservasi, dilanjutkan kalian berempat, setelah itu Aak Komeng dan saya berada paling belakang.”Kak Budi menjelaskan strategi perjalanan ke puncak Kawah Ratu.
“Jelas!”Kata kak Budi lagi.
“Jelas .... !”Kata anak-anak hampir bersamaan.
“Sebelum kita mulai perjalanan, ada baiknya kita berdoa dulu. Karena Candra tidak ikut maka kita berdoa masing-masing. Berdoa dimulai!”Kak Budi memberi aba-aba.
“Berdoa selesai!”Kata kak Budi beberapa detik kemudian.
“Mari kita teriakkan kata-kata oneng bersama-sama!”Kata kak Budi lagi.
“Oneng ..... !” Teriakan itu memecah kesunyian hutan dan setelah itu perjalanan dimulai.

"If you are thinking a year ahead, sow a seed.
If you thinking ten years ahead, plant a tree.
If you thinking one hundred years ahead, educate the people."
-Chinese Proverb

Jumat, 15 Juli 2011 | posted in | 0 comments [ More ]

1.335 m dpl

(Bagian Pertama)

“Over time, our only chance at safety will depend on not turning the mountains into Disneyland.” (Reinhold Messner) 


 Kabut masih menyelimuti puncak Gunung Salak dan bukit-bukit disekitarnya. Dikejauhan terdengar sayup-sayup air terjun.  Kicau burung ramai bersutan, sesekali terdengar hembusan angin menerpa dedaunan pohon damar  yang tinggi menjulang.  Suaranya seperti  madah cinta pada Sang Khalik.  Embun masih menyelimuti setiap dedaunann dan tetesannya berjatuhan membasahi bumi, sehingga humus tetap terjaga kelembapannya agar memberi kesuburan tanah dibawahnya dan siap memberi  makanan kepada pohon-pohon yang hidup disana. Manusia tidak perlu memberi pupuk,  karena alam memelihara dengan caranya yang bijaksana. Sementara tetesan-tetesan air berjatuhan membentuk aliran-aliran air kecil menuju aliran air yang lebih besar.   Suaranya seperti mantra yang membawa jiwa kedunia yang tidak bertepi.

Dikejauhan terlihat tenda mulai bergerak-gerak, tanda kehidupan baru telah dimulai. Anak-anak sudah bangun dari tidurnya yang hangat berselimutkan mimpi penuh canda tawa bersama para malaikat yang selalu menjaga mereka dimalam hari. Mata mereka begitu jernih pertanda malam menjadi milik mereka. Lamat-lamat terdengar obrolan setengah berbisik.
“Iis ...Iis ... bangun!”Putri membangunkan sambil mengoyang-goyang badan Iis. Fadlah yang mendengar Putri membangunkan Iis juga ikut bangun disusul Anya. Mata mereka saling berpandangan satu sama lain.
“Kak Budi udah bangun belom Nya?”Kata Putri kepada ketiga temannya.
“Pasti belom bangun. Kak Budi ...  kan kalau disanggar bangunnya siang.”Kata Fadlah.
“Emang!”Anya membenarkan. Sementara Iis hanya tersenyum-senyum mengengarkan pembicaraan teman-temannya.
“Yuk, kita bangunin kak Budi Nya?”Ajak Putri sambil menyingkirkan selimut dari tubuhnya, diikuti oleh yang lainnya dan keluar dari tenda.
“Kak ... kak ... kak Budi ... “Kata empat anak itu berulang-ulang membangunkan kak Budi. Suaranya memecah keheningan pagi. Tidak ada tanda-tanda kak Budi didalam tenda orange.
“Kak Budi kemana sih.”Kata Fadlah sambil mengintip tenda orange.
“Tuh ... kak Budi, ada disana!”Kata Iis sambil menunjuk kak Budi berdiri di pinggir hutan sambil membawa kamera nikon kesayangannya.
“Ngapain sih kak Budi, kaya orang gila. Sendirian disana!”Kata Putri sambil memperhatikan dari kejauhan.
“Tauk ... tuh?”Kata Anya menimpali. Sementar Iis dan Fadlah hanya memandangi kak Budi dari kejauhan.
“Orang stress ...”Kata Putri sambil cekikikan keteman-temannya.
“Stress ditinggal sama kak Mira ... “Sambung Fadlah menimpali sambil cekikikan.
“Nya ... ke wc yuk ... “Kata Putri sambil menahan kencing.
“Yuk ... “Kata Iis dan yang lainnya sambil  jalan menuruni tangga menuju MCK.
Hampir 10 menit kemudian keampat anak itu keluar dari MCK sementara kak Budi sudah berada di dekat MCK.
“Ayo cepet mandi dan sarapan roti dan coklat hangat!”Kata kak Budi sambil mengarahkan telunjukkan ke arah tenda.
“Kak ... rotinya tinggal empat lembar ... “Kata Anya dengan suara rendah. Dari sorot matanya kelihatan bersalah.
“Kenapa kok tinggal empat lembar?”Tanya kak Budi lagi.
“Tadi malem saya lapar dan makanin roti.”Anya berusaha menjelaskan.
“Lalu, sekarang kita mau sarapan apa? Kalau roti jatah untuk sarapan sudah kamu makan!”Kata kak Budi sambil memandang tajam mata Anya. Anya tidak bisa menjawab, sambil memainkan jari-jarinya sorot matanya kelihatan serba-salah.
“Ya sudah, sekarang mandi dan setelah itu sarapan di warung!”Kata kak Budi sambil berlalu. Tak lama kemudian anak-anak itu menikmati sarapan pagi bersama di  warung Mang Enjum.

Kamis, 14 Juli 2011 | posted in | 0 comments [ More ]

"Kak .... ngulek cabenya pakai apa .... ?"

In a dark moment I ask, "How can anyone bring a child into this world?"  And the answer rings clear, "Because there is no other world, and because the child has no other way into it."  ~Robert Brault.
 Dalam perjalanan menuju perkemahan rombongan perkemahan berhenti di pasar desa, 10 km jaraknya radi perkemahan.
"Kak, itu ada pasar. Kita belanja disitu aja!"Kata Putri tidak sabar.
"Iya kak."Anak-anak lainya ikutan bersuara.
"Putri sama Fadlah turun. Kita belanja kebutuhan disana."Kak Budi mengajak sambil membuka pintu kendaraan.
"Kak, Putri aja deh yang belanja, kita di mobil aja!"Kata Anya dan lainnya saling bersautan seperti paduan suara.
"Ayo Put!"Kata kak Budi sambil membantu Putri keluar dari dalam mobil yang sesak dengan perlengkapan berkemah.
"Putri enggak mau ditutun!"Kata Putri sambil menarik tangannya kebelakang.
"Kamu ini! Nanti ada kendaraan menubruk kamu gimana?"Kata kak Budi sambil mengamati wajah Putri yang judes. Beberapa saat kemudian kak Budi menggandeng tangan Purti untuk menyebrangi jalan desa yang ramai oleh hilir mudik kendaraan angkot dan ojek. Sekali-sekali kendaraan pabrik minuman.
"Kak diwarung itu aja belinya."Kata Putri sambil menunjuk salah satu warung penuh dengan sayuran.
"Punten, teh abdi made meser sayuran."Kata kak Budi kepemilik warung. Sementara Putri memperhatikan kak Budi sambil menahan tawa melihat kak Budi bicara bahasa sunda.
"Put, beli sayuran apa?"Kataku
"Beli pisang aja ka."Jawab Putri dengan tenang.
"Loh katanya kita mau masak sawi ditumis!"Kataku lagi. "Mana catatan yang harus dibeli?"Sambungku bertanya.
"Ketinggalan di Sanggar."Jawab Putri santai.
"Jadi kita mau beli apa dong?"Kataku menguji.
"Sawi."Kata Putri sekenanya. Sementara aku memilih sawi yang masih segar dan bagus. Putri hanya memperhatikan. Meja jualannya terlalu tinggi untuk Putri bisa bantu memilih.
"Terus apa lagi Put?"Kataku lagi
"Cabe sama bawang, Kak"Jawab Putri. :Kak, pakai tomat nggak?"Kata Putri setengah berbisik karena tidak yakin dengan salah atu bumbu tumis itu.
"Ya ... enggak usah pakai tomat juga ok Put."Kata mencoba menenangkan Putri.
"Kak, pisangnya?"Kata Putri mengingatkan.
"Teh, ayak cauk nangka?"Kataku kepenjual sayur.
"Teuk aya aak."Sahut penjual sayur.
"Enggak ada pisang nangkanya Put!"Kataku sambil melihat wajah Putri.
"pisang yang kecil-kecil aja Kak."Kata putri sambil menunjuk pisang mas.
"Wah kalau itu enggak bisa digoreng Put!"Kataku mejelaskan. Kulihat wajah Putri cemberut.
"Nanti kita cari lagi warung yang jual pisang Put"Kata mencoba menenangkan Putri.
"Awas kalau enggak beli Pisang!"Kata Putri sambil marah.
Dalam perjalan semua isi mobil celingukkan mencari-cari warung penjual pisang. Meski jalan yang dilalui rombangan itu termasuk desa bukan berarti tidak ditemukan penjual pisang. Desa itu tidak lagi merupakan desa yang ditumbuhi tanaman padi. Disepanjnag perrjalanan dikana kiri dijumpai pabrik berbahan dasar air. Desa itu kelihatan kumuh dan kotor. Dimana-mana ditemukan sampah menumpuk. Selokan-selokan air tidak lagi jernih tapi berubah menjadi keruh karena hasil dari pembuangan rumah tangga dan pabrik tyang tumbuh rapat megelilingi pabrik. Udara yang dulu sejuk kini juga sudah berubah menjadi panas. Perubahan yang fantastis!.
"Kak ... itu ada warung jual pisang. Cepet turn kak!"Kata Putri tidak sabar. Kak Budi keluar dari mobil dan langsung melihat-lihat pisang nangka. Ternyata ada tapi sudah menghitam.Kak Budi kembali ke mobil lagi.
"put, pisangnya sudah jelek dan cenderung busuk."Kata kak Budi dengan suara pelan.
"Yah ... enggak jadi goreng pisang deh!"Kata Putri kelihatan kecewa.
"Nanti terigunya digoreng aja Put. Dikasih gula atau makannya dicocol pakai gula pasir."Kata kak Budi ngeledek.
Putri kelihatan cemberut keinginannya goreng pisang batal.
Sesampainya diperkemahan dan tenda sudah berdiri semua. Komeng mengumpulkan empat anak lainnya.
"Putri, Anya, Fadlah, IIs. Sekarang kita masak buat entar malem" Kata Komeng memberi pengarahan.
"Anya, keluarin trangia dua-duanya terus bawa kesini."Sambung Komeng lagi. "Fadlah sama Iis keluarin sayuran yang tadi dibeli."Sambung Komeng lagi. Fadlah dan Pitri kembali dengan membawa trangia dan sayuran ketempat yang telah ditentukan Komeng untuk memasak.
"Botol spiritusnya mana?"Tanya Komeng sambil memperhatikan wajah anak-anak satu persatu. Dan keempat anak itu saling berpandangan.

"Iis, coba lihat di kotak gede. Botolnya warna merah.!"Kata Komeng sambil menunjuk countainer bertutup warna pink.
"Ini ak Komeng?"Kata Iis sambil menunjukan botol spiritus warna merah.
"Kata kak Budi sekarang kamu berempat belajar masak sendiri!"Kata Komeng ke pada empat anak putri.
"Ak komeng, ngulek cabenya pakai apaan?"Tanya Putri lagi.
"Coba kamu tanya sama kak Budi."Kata Komeng sambil menunjuk kak Budi yang sedang duduk di bawah pohon menikmati kopi hangat buatan teh Dewi.
"Kakk.... kakk .... "Teriak Putri berulang-ulang yang berjarak 20 meter dari kak Budi.
"Kamu ini benar-benar ibu-ibu ya di Kampung Kebon Duren ya!"Kataku ngeledek.
"Kak .... nguleknya pakai apa?"Kata Putri sedikit manja.
"Pakai gigi kelincinya Anya aja."Kataku ngeledek lagi.
"Pakai gigi kakak aja."Suara Putri balas ngeledek ka Budi.
"Engga usah diulek cukup dipotongin aja cabenya."Kata kak Budi menjelaskan sambil menyerahkan pisau victoronox dari saku kak Budi.
Dari atas Kak Budi memperhatikan bagaimana anak-anak berempat membuat masakan sementara Komeng menemani keempat anak putri  tersebut. Anak-anak begitu heboh sekaligus menikmati kegiatan itu.
"Ini lebih baik, dari pada di Sanggar mereka masak gula pasir dicampur sabun sunlinght! Dasar bocah."Kata Kak Budi  dalam hati sambil senyum-senyum sendiri dari atas.

Rabu, 13 Juli 2011 | posted in | 0 comments [ More ]

"Kak, kita buat capcai aja ....."

.... bocah merupakan potret ketelanjangan alam, terbuka, apa adanya, suci dan mulia, tidak tahu basa basi, tipu daya atau kelicikan. kitalah yang merusak mereka, yang membikin mereka culas, bohong dan licik dan tak kenal kasih sayang. (Kerinduan - Mohamad Sobary)

 “Kak, kapan ketemuan untuk membicarakan persiapan kemping!”Kata Putri meminta kepastian
“Sekarang!”Kata Fadlah menanggapi
“Anya enggak ada dirumah.”Kata Iis “Tunggu Anya dulu.”Sambung Iis.
“Emang Anya kemana Is?”Tanya F adlah
“Kata ibunya lagi kewarung.”Kata Iis menjelaskan
“Kita tunggu Anya!”Sahut Putri
“Eh ... kak Budi dimana Is?”Tanya Putri
“Enggak tauk!”Jawab Iis
“Ada tuh diatas, lagi main komputer.”Kata Fadlah memberi tahu.
“Kakkk ... “Teriak Putri memanggil Kak Budi dengan suara cemprengnya
“Hallooo ... ibu-ibu, saya tidak tuli!”Kata Kak Budi jengkel. “Kenapa sih selalu teriak kalau memanggil. “Kenapa tidak datang keatas!”Sambung kak Budi masih jengkel. “Lalu sekarang mau apa?”Kata kak Budi dengan suara rendah sambil tersenyum.
Sementara Putri wajahnya kelihatan cemberut sambil memalingkan wajahnya.
“Ada apa Putri yang cantik ... “Kata kak Budi mencoba  mengedipkan matanya dan beharap sikapnya dapat  mencairkan Putri.  Melihat sikap kak Budi mengedipkan matanya membuat putri menyembunyikan  wajahnya diatara kedua lututnya sambil tersemyum.
“Auk ... ah ...”Kata Putri tersemyum malu sambil mengangkat wajahnya. Sedangkan Fadalah asik membaca buku tapi tidak serius.
“ Tuh, Anya udah dateng.”Kata Iis dengan dengan senyum  lesung pipitnya.
Putri memalingkan wajahnya ke Anya sambil komentar “Kemana aja sih Nya!. Kita kan mau ngomongin buat kemping!”Suara Putri jengkel.
“Gue habis disuruh ibu gue beli obat nyamuk.”Kata Anya datar. “Emang mau ngomongin apa sih?”Sambung Anya sambil memandang ke putri.
“Mau ngomongin masakan buat kemping.”Kata Putri.  Kak Budi duduk di tangga sambil memperhatikan anak-anak  membicarakan menu yang akan dibuat pada kegiatan kemping yang tinggal besok pagi.
“Kak, giman nih cara ngaturnya?” Kata putri kelihatan ketus menahan ketawa.
“Kamu makan berapa kali satu hari? Itu aja dijadikan patokan.”Kata kak Budi serius.
“Kalau pagi kita makan roti aja kak!”Kata Anya usul.
“Iya, kita sarapan roti aja kalau pagi.”Sambung Fadlah. Sementara Iis hanya diam saja sambil memperhatikan teman-temannya merencanakan menu.
“Fadlah, catet nih!. Masakan buat kemping!”Kata Anya, sambil menyerahkan buku dan pulpen.
“Tadi, apa? Besok pagi sarapan roti?”Tanya Fadlah.
“Iya. Bosok pagi sarapan roti.”Kata Putri dengan suara cempreng.
“Terus, minumnya apa?”Tanya Fadlah lagi.
“Ini aja, susu kotak.”Kata Anya sambil nyengir ke kek Budi.
“Kenapa enggak coklat aja?”Kata Kak Budi.
“Enakan susu kotak!”Kata Putri.
“Terus makan siangnya, kita buat capcai.”Kata Putri yakin
“Iya kita buat capcai aja.”Sambung Anya.
“Tulis nih .... makan siang capcai?”Tanya Fadlah
“Putri kita masak yang mudah-mudah aja. Misalnya tumis sawi. Lauknya ikan asih. Kalau masak capcai butuh waktu dan bahan-bahannya   untuk membuat capcai. Lagipulan nanti kamu menggunakan  untuk membuat masakan itu?”Kata kak Budi memberi alternatif.
“Eh .... kak Budi kan udah pengalaman ya he ... he ... “Kata Fadlah sambil ngeledek kak Budi.
“Ya udah kalau gitu tumis sawi sama ikan teri medan.”Kata Putri.
“Tulis nih?”Tanya Fadlah.
“Iye, tulis.”Kata Putri. Sementara Iis memperhatikan Fadlah menulis dari dekat.
“Terus sorenya makan apa?”Tanya Iis memberanikan diri.
“Masa tumis sawi lagi sih?”Kata Anya tidak semangat.
“Nah ... sekarang saya mau tanya sesatu.”Kata Kak Budi masih duduk di tangga tidak jauh dari keempat anak itu. “Jika kamu masak untuk sarapan pagi, makan siang dan sore. Memang kamu enggak capek?Di perkemahan bukannya kamu belajar tentang alam? Gimana?”Kata Kak Budi .
“Ya udah, kalau gitu kita masaknya sore aja. Terus siangnya gimana dong kak?Tanya Putri.
“Nanti kita pesan di warung aja. Supaya waktu kamu belajar tidak habis untuk masak-memasak.”Kata sambil ngedek Putri.
“Kak, kita boleh goreng pisang ya?”Tanya Putri.
“Boleh.”Kataku
“Entar jangan lupa beli terigu buat goreng pisang.”Pinta Putri.
“Ok. Kalau gitu sekarang saya belanja dulu. Kamu boleh pulang dan istirahat. Besok bangun pagi-pagi dan kumpul di Sanggar jam 5 pagi.”Kak Budi menutup pertemuan.
“Kak, kita ikut belaja sama kakak aja ya?”Pinta Anya dan Putri.
“Engga usah. Ini sudah malam. Lebih baik kamu pulang dan tidur.”Pinta kak Budi.
“Ok!”Kata kak Budi
“Ok ....!”Sahut anak-anak meledek kak Budi sambil meninggalkan sanggar

Selasa, 12 Juli 2011 | posted in | 0 comments [ More ]

"Kok, Tuhan bisa digambar?"

Satu hari ini mencoba mengerjakan blog dilantai bawah sambil menemani beberapa anak usia tiga sampai empat tahun. Agak repot anak usia seperti mereka jika tidak ditunggui, bisa dipastikan ada buku yang sobek dan cover buku terlepas dari bukunya. Biasanya mereka saling berebut untuk melihat buku sambil 'membaca' menurut fantasi anak. Sekitar setengah jam berlalu Anya datang sambil membawa sleeping dalam kantong kresek.
"Kak, ini saya dipinjami sleeping bag untuk berkemah besok."Kata Anya sambil menunjukan isi kantong plastik.
"Nya... ini bau! sudah lama pasti enggak dicuci!"Kataku sambil menyerahkan kantong kresek itu. "Jemur sana, mumpung masih ada panas!"Kata sambil mengarahkan mukaku kearah jemuran.
"Iya ... kakak ...."Kata Anya sambil tersenyum meringis dan berjalan menuju jemuran disebelah sanggar.
Tak lama kemudian Anya kembali sambil memperhatikan apa yang aku kerjakan.
"Nya, coba kamu baca deh tulisan kakak. "Kataku sambil menunjukkan artikel 'Hai nak, sedang apa kamu?'
Dibacanya perlahan-lahan dengan suara hampir berbisik. Beberapa detik kemudian.
"Kak, kok  wajah Tuhan bisa digambar?"Tanya Anya heran dengan tatapan curiga.
"Nya, di pengajian kamu diajari bahwa Tuhan itu Maha Pencipta dan Maha Baik. Dari mana kamu tahu semua Maha itu?"Tanyaku agak khawatir dengan pertanyaanku.
"Coba kamu beri contoh bahwa Tuhan itu Maha Pencipta dan Maha Baik!"Kataku mempersempit agar dapat dicerna.
  "Allah menciptakan manusia dan segala mahluk hidup."Kata Anya sambil memaikan jari-jarinya
"Terus!"Selaku tidak sabar
"Kalau Allah itu Maha Baik,  kita diberi hidup."Kata Anya tidak percaya diri
"Coba beri saya contoh kalau Allah itu memberi hidup?"Kataku sambil tersenyum
Anya hanya memainkan tari-jarinya dan mengoyang-goyangkan badannya.
"Nya, ayahmu setiap hari bekerja menjadi sopir dan mengantar bosnya kesana-kemari. Dari hasil kerja itu ayahmu mendapat uang, kemudian uang itu dibelikan beras dan sayuran untuk makan kamu sekeluarga. Ketika kamu sekeluarga bisa makan, itu artinya Tuhan Maha Baik. Tuhan memberi rejeki melalui pekerjaan ayahmu."Kataku hati-hati
"Kamu bisa menangkap apa yang saya maksud Tuhan itu Maha Baik!"Kataku sambil tersemyum
"Iya kak!"Jawab Anya sambil tersenyum. Melihat Anya tersenyum aku merasa lega setidaknya dia dapat menangkat apa yang aku jelaskan.
"Nya, kamu tahu kalau ayahmu menyanyangi kamu?"Tanyaku lagi
""Iya."Jawab Anya penuh percaya diri
"Contohnya apa Nya?"Tanyaku lagi
"Saya selalu diperhatiin, diajak jalan-jalan, suka di ajak makan. Pokoknya bayak deh kak!"Kata Anya dengan mata berbinar-binar
"Nah, dari rasa sayang ayahmu itu, merupakan  sedikit dari wajah Tuhan. Tuhan yang baik."Kataku tersenyum.
"Oh gitu .... he ... he ...saya baru tahu .. "Kata Anya sambil tertawa girang.

(Anya anak SD kelas 5)

Kamis, 07 Juli 2011 | posted in | 1 comments [ More ]

Kali ini tanpa Candra ....

Pergi ke pameran buku IKAPI beberapa hari lalu menjadi berbeda seperti tahun sebelumnya. Berbeda? Ya berbeda. Menurut seorang teman perpedaan itu secara tegas dikatakan sebagai 'Kepekaan Gender'. Tanpa Candra. Jika ingat hal itu suka tertawa seorang diri. Pergi ke pameran buku dengan anak-anak putri.Pagi-pagi sekali sekitar pukul 06.00 Anya, Putri, Fadlah, dan Iis sudah hadir dihalaman Sanggar.
"Kak .... kak ..... kak .... bangunn .... udah sianggg ...."Teriakan cempreng Anya dan Putri sudah cukup memekakkan telingaku. Apalagi itu dilakukan berulang-ulang, karena dari lantai atas tidak terdengan jawaban. Aku yang baru menikmati tidur sekelebatan mesti harus bangun dan memperlihatkan diri dilantai atas kepada anak-anak.
"Ya, saya sudah bangun."Kataku sambil melihat lima anak putri sudah siap pergi ke pameran.
"Sudah sarapa belum?"Kataku kepada lima anak dibawah
"Udaaah .... ! Cepetan, katanya pagi-pagi?"Kata Putri dengan suara cempreng ditamban Sasa juga ikut-ikutan teriak.
"Sasa, sorry ya kamu enggak saya ajak he .. he .. he .."Kataku meledek Sasa dan dibalas dengan ekspresi meledek khas Sasa, dengan memanjangkan wajahnya sambil melet-meletkan lidahnya. Kemudian Sasa lari menemui Dara. Aku lihat Sasa ingin ikut juga dengan yang lainnya tapi terlalu kecil jika ikut kepameran. Kecuali ada pendamping lain selain aku.
Kemudian aku membukakan pintu Sanggar dan mulai mempersiapkan diri untuk pergi.
"Serius nih, semua sudah makan?"Kataku lagi memastikan
"Sudah kakakkk ....."Jawab Fadlah
"Ok, sebelum berangkat saya mau tanya? Siapa yang tidak membawa air minum?"Kataku lebih memastikan
"Kita bawa kakakkk.... "Jawan mereka bertiga. Seperti anak pramuka. "Takut enggak dikasih minum sama kak Budi ..."Sambung Fadlah ngeledek
"Ok. Kita berangkat!"Aku memberi perintah
Selama perjalanan dari Sanggar sampai Istora aku hanya memperhatikan mereka berempat sambil mendengarkan apa yang mereka obrolkan.
"Mereka seperti ibu-ibu arisan. Lucu :P"Kataku dalam hati
Ketika sampai di Stasiun mereka aku minta untuk berkumpul disatu titik (sebelah Mini Market) sementara aku membeli tiket.
"Kamu jangan kemana-mana. Disini aja dan jangan sampai menggangung orang lain yang lalu-lalang!"Pintaku sebelum membeli tiket di loket.
Setelah proses pembeliat tiket selesai dan ketika aku membalikkan badan, keempat anak itu sudah berada dibelakangku.
"Tadi saya bilang apa? Kamu cukup berdiri disana aja! Kamu menganggu orang yang mau berangkat kerja. Semua orang distasiun harus cepat-cepat!"Kataku jengkel
"Saya mau kencing ... "Kata Putri sambil menahan kencing
"Iya kak ... saya juga mau kencing."Kata Anya
"Ya sudah, sekarang kamu semua kemar kecil dulu. setelah itu baru kita menunggu kereta!"Usulku sambil menyerahkan uang empat ribu rupiah untuk membayar penjaga toilet.
Sesampainya di Istora, aku coba menghubungi seorang teman pendamping yang selalu membuat anak-anak ini bertanya-tanya. Setelah aku pastikan dia tidak ada dan seandainya ada apakah dia mau bertemu apa tidak, jika tidak lebih baik bersembunyi saja selama anak-anak berada dipameran. 
Setelah semuanya siap kami mulai start di ruang pameran aku biarkan mereka melihat-lihat sambil sekali-sekali membuka dan membaca buku sementara aku sambil mengawasi mereka aku  juga mulai melihat kemungkinan menemukan buku yang bagus untuk Bale Baca.
"Kak, bukunya maham bener!"Kata Putri keheranan sambil menumjukkan buku itu.
"Iya ya ... "Kataku meanggapiasal
""Buku ini mahal karena buku ini aslinya dari Inggris Put. Ketiak diterjemahkan oleh penerbit ..... harganya jadi mahal, karena penerbitnya harus membayar ke penerbit  buku ini berasal."Aku menjelaskan
"Oo .... gitu ya kak."Kata Putri sambil memperhatikan buku itu.
"Kak ... kak ... Budi, beli buku ini dong!"Kata Fadlah sambil menunjukkan satu buku tentang princess
"Memangnya buku 'Left The Flap Book' seperti ini kamu bisa menjaga. Ada banyak buku sejenis ini di Sanggar dan cepat rusak!"Kata menjelaskan
"Iya sih kak. "Kata Fadlah dengan nada datar
"Kamu cari-cari lagi aja yang lainnya. "kataku untuk menenangkan Fadlah, sambil aku menyerahkan buku tentang air.
Aku melihat Anya dan Putri sibuk mencari-cari buku yang menarik ditumpukan kotak buku. Sedangkan Iis sedang asik membaca buku Cinderalla.
"Kak ... saya mau kencing."Kata Fadlah tiba-tiba
"Saya juga kak ..."Sambung Putri dan yang lainnya juga ikut-ikutan.
Tidak terasa putar-putar di pameran sudah lebih dari empat jam lebih dan persediaan air anak-anak sudah habis. Ini pertanda mesti istirahat sambil mencari makan agar dapat energi baru.Setelah itu itu mereka berkeliling lagi satu putaran sambil sekali-sekali duduk di balkon. Balkon sesautu yang baru mereka lihat secara langsung.
"Ayo kita pulang. Kalau kesorean nanti kita bisa bareng dengan orang pulang kerja. Kereta pasti penuh."Kata mengusulkan
"Iya kak. Sudah capek ... "Kata Fadlah dan ketiga temannya.
Akhirnya kami melakukan perjalanan pulang ke Depok dengan Kereta Listrik.

Selasa, 05 Juli 2011 | posted in | 1 comments [ More ]

"Kak, saya seneng kalau lihat keluarga Culek!"

Aku dan Candra duduk dibawah pohon besar sambil menikmati matahari terbit. Tatapannya penuh dengan ekspresi, matanya tidak pernah diam selalu ada hal-hal yang menarik perhatiannya. Candra mencoba duduk sambil menyandarkan  badanya di sisi kiri badanku.
"Kak ...."Candra membuka pembicaraan
"Apaan Can!"Katakku menanggapi
"Saya seneng lihat keluarga Culek (Seorang bapak)."Candra melanjutkan pembicaraan
"Kenapa kamu senang dengan keluarga Culek?"Aku mencoba cari tahu
"Iya, kalau pagi Culek pergi kerja. Jujuk (Istri Culek) kerjanya masak sama ngurus Della. Coba bapak sama kayak gitu ya!"Kata Candra sambil menatap kedepan
"Loh, bukan bapak sama ibu sama dengan Culek dan Juju?"Kataku ingin tahu
"Enggak kak."Jawab Candra tidak setuju
"Memang kayak apa?"Tanyaku lagi
"Emak masih harus bantu bapak ngurusin kerjaan bapak, terus ngurusin Ica adik saya. Enggak kaya Cule."Candra membandingkan tapi kelihatan bingung
"Culek sayang sama Juju dan Della dan   enggak pernah berantem."Candra menjelaskan lebih jauh dari apa di lihatnya.
"Memang bapak ibumu gimana Can?"Tanyaku lagi ingin tahu
"Bapak galak. Suka berantem dan mukul emak. Saya sering dipukul sama bapak."Candra menjelaskan sambil menunduk kebawah dan tangannya mencabut rumput didepannya
"Oh .. ya ...?Kataku penasaran
"Saya takut sama bapak."Kata Candara masih menundukkan kepala sambil mencabut rumput didepannya.
"Memang kamu sehari dupukul berapa kali Can?"Kata terus mencari tahu
"Enggak setiap hari sih kak."Candra menjelaskan
"Setiap minggu?"Tanyaku lagi
"Hampir dua minggu sekali saya pasti dipukul sama bapak."Candra menjelaskan tapi kini tatapannya kosong. Dia tidak sedang  memandang sesuatu dikejauhan.
"Can, biasanya kamu di gebukin karena apa?"Aku tersus mencari tahu
Candra tidak menjawab dia kelihatan kebingungan mencari jawaban.
"Gini aja Can, kalau minta sesuatu enggak usah pakai nangis. Bisa jadi bapakmu marah karena hari ini dia enggak punya uang."Kataku mencoba menenangkan
"Bapak, kalau enggak ada emak pasti enggak punya uang."Kata Candra datar.
"Lah iya lah Can. Kan emak yang ngatur uang yang bapak cari!"Kataku mendudukkan posisi ibu.
"Yah... kak elo nggak tahu sih."Katanya datar
"Can. beberapa minggu lalu ibumu mencari kamu di sanggar karena ibumu hanya tahu kalau tidak pulang kamu pasti tidur di sanggar dan ternyata kamu tidur di warnet main PB"Kataku mencoba menghadapkan kelakan Candra. Candra hanya terdiam mendengar kejadian itu.
"Sekarang gini, saya usul sama kamu."Kata mencoba menenenagkan
""Apaan kak?"Candra memotong pembicaraanku
"Kamu boleh melawan dan tidak setuju dengan saya, tapi kamu mesti punya alasan. Kamu boleh juga memarahi saya jika saya berbuat salah. Kamu tidak mesti takut dengan saya!"Kataku memberi ruang yang berbeda dengan pengalaman Candra dirumah.
"Kan enggak sopan kak!"Kata Candra tidak setuju
"Dengan saya kamu boleh!"Kataku menyakinkan Candra. "Gimana?"Sambungku
Candra hanya tertawa membayangkan dirinya bisa melawan kak Budi.

Minggu, 03 Juli 2011 | posted in | 0 comments [ More ]

Bamboo Leaf Gallery Photos